Mohon tunggu...
Albert Wijaya
Albert Wijaya Mohon Tunggu... Follow my Twitter : @pecandutinggi

Follow my Twitter : @pecandutinggi

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Elon Musk dan Eksistensialisme : Monumen Makna Si Iron Man

1 November 2019   19:10 Diperbarui: 18 Januari 2020   12:19 68 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Elon Musk dan Eksistensialisme : Monumen Makna Si Iron Man
Credit : Pinterest

Berbicara soal eksistensialisme memang tidak ada habisnya. Eksitensialisme merupakan salah satu cabang filsafat yang paling seksi untuk diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan untuk dihidupi. Eksistensialisme lahir di sekitar abad 19.

Tokoh-tokoh besar yang bersumbangsih terhadap filsafat eksistensialisme antara lain Soren Kierkegaard, Jean Paul Sartre, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, dan Albert Camus. Bahkan jika kita mau menelaah lebih jauh ke belakang, nafas eksistensialisme sebenarnya telah jauh ada sebelum Kierkegaard yang dijuluki bapak eksistensialisme lahir.

Nafas eksistensialisme telah ada bahkan sejak ratusan tahun sebelum masehi. Tidak percaya? Coba saja luangkan waktu untuk membaca Kitab Pengkhotbah di dalam Alkitab. 

Banyak penafsir yang memperkirakan bahwa kitab ini ditulis oleh Raja Salomo. Kitab yang diperkirakan ditulis ratusan tahun sebelum masehi ini sangat sarat dengan pemikiran eksistensialisme yang kita kenal hari ini. Istilah-istilah yang muncul berulang kali yaitu "menjaring angin" dan kesia-siaan" adalah jeritan sang penulis terhadap keabsurdan hidup.

Lantas apa sebenarnya eksistensialisme itu? Bagi para mahasiswa filsafat ataupun penggemar sejarah pasti tidak asing dengan mantra utama eksistensialisme yaitu "existence precedes essence."

Artinya eksistensi mendahului esensi. Filsafat ini meyakini bahwa manusia terlahir sebagai insan yang bebas. Jika saya boleh menyimpulkan filsafat eksistensialisme dalam satu kalimat, maka kalimatnya adalah "Pilihlah makna hidupmu sendiri dan bangunlah monumen maknamu." Atau dalam bahasa Jean Paul Sartre adalah "Man is condemned to be free." Artinya setiap insan manusialah yang harus menentukan monumen makna hidup yang ingin dibangunnya.

Sampai sejauh ini mungkin ada beberapa pembaca yang menggerutu dalam hati bahwa apa kaitannya eksistensialisme dengan Elon Musk yang menjadi judul dari tulisan ini. Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu siapa sosok dari Elon Musk. 

Elon Musk adalah sosok yang dijuluki oleh banyak orang sebagai Iron Man di dunia nyata. Elon Musk adalah pendiri dari Tesla dan Space X. Dua perusahaan ini adalah raksasa teknologi asal Amerika Serikat yang terdepan dalam soal inovasi dan ide-ide gila.

Tesla adalah perusahaan mobil listrik yang menjadi pionir dalam pengembangan kendaraan berbasis listrik. 10-20 tahun lalu ide untuk mengganti mobil bahan bakar minyak dengan energi listrik terdengar utopia dan asing. Namun hari ini, Elon Musk membawa Tesla menjadi inovator yang meyakinkan raksasa-raksasa otomotif lainnya bahwa masa depan kendaraan adalah dengan menggunakan energi listrik.

Selain itu, Elon Musk juga mendirikan Space X. Perusahaan ini adalah bergerak di bidang penjelajahan ruang angkasa dan planet. Mimpi gila dari Elon Musk di Space X adalah membangun koloni manusia di Planet Mars. Musk bermimpi ingin membawa manusia menjadi spesies multiplanet. Bukan Elon Musk namanya jika tidak sarat dengan imajinasi yang liar dan terdengar gila.

Di balik kesuksesannya ternyata Elon Musk menjalani masa kecil dan remaja yang tidak mudah. Di masa kecilnya dia pernah menjadi korban bully dari teman-teman sebayanya. Dalam suatu wawancara, Elon musk bercerita bahwa pada usia 13 tahun, ia telah lahap membaca tulisan dari Nietzsche dan Schopenhauer yang mengakibatkan dirinya mengalami krisis eksistensial. Usia mental Musk memang jauh lebih dewasa dibanding usia biologisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x