Mohon tunggu...
Albar Rahman
Albar Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis, peneliti dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia

Sehari-hari menghabiskan waktu dengan buku-buku ditemani kopi seduhan sendiri. Menikmati akhir pekan dengan liga inggris, mengamati cineas dengan filem yang dikaryakan. Hal lainnya mencintai dunia sastra, filsafat dan beragam topik menarik dari politik hingga ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Rahmatan lil Alamin: Warisan Budaya dan Sejarah Islam di Indonesia (2)

27 November 2022   12:45 Diperbarui: 27 November 2022   12:53 229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dari uraian masa lalu yang panjang tentang budaya keIslaman di Indonesia jadi hal paling menarik untuk terus dikaji dan sebagai kebiasaan baik untuk tetap dijaga. Para raja dan wali dulunya bersama dalam gerak dakwah hingga secara perlahan penuh hikmah dan cara paling bijak nilai Islam masuk dan menjadi budaya bagi rakyat atau masyarakatnya. 

Hingga dataran melayu menjadi saksi dengan kentalnya nilai- nilai leluhr yang bisa diselaraskan dengan nilai- nilai Islam. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Buya Hamka, seharusnya adat istiadat yang tidak bertentangan dengan niali-nilai Islam itu disandingkan dengan ajaran Islam. Artinya kita paham mana prioritas dalam berbudaya bagi majunya peradaban.

Islam memilki prioritas budaya belajar yang tinggi demi mencapai aspek rahmah itu sendiri. Bahkan tradisi belajar dan memperdalam ilmu Islam sejak usia belia jadi kebiasaan turun temurun sejak dulu hingga kini masih kerap ditemukan. 

Kebiasaan yang sering ditemukan di daerah rumpun melayu, ada satu keunikan dalam pendidikan dasar Islam bagi anak- anak sedari dulu hingga kini masih bisa ditemukan yaitu pendidikan surau atau langgar yang kita kenal. Adaalah ulama Minangkabau Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai pelopor pendidikan Islam dan surau di rumpun melayu, kemudian Syekh Abdul Muhyi al- Garuti yang berjasa menyebarkan pendidikan Islam di Jawa Barat.

Tidur di surau atau langgar yang dikenal di Jawa juga bagian dari masyarakat sekitar muslim yang memiliki anak dengan usia kanak- kanak. Tidak hanya tidur di langgar melainkan anak- anak diajarkan pelajaran dasar seperti membaca Al- Qur'an dan gerak shalat. 

Kebiasaan baik di atas ini ternyata terbukti melahirkan tokoh- tokoh hebat yang mencintai Islam sekaligus tanah air (nasionalis). Pada era awal- awal kemerdekaan lahir lah tokoh yang bisa disebut generasi langgar seperti buya Hamaka, Bung Hatta dan banyak lagi tokoh lainnya. 

Namun belakangan ini, generasi langgar atau surau sudah tidak terlihat lagi yang berdri sebagai tokoh bangsa. Imbasnya bangsa ini sedikit demi sedikit mengalami krisis ketokohan walupun tidak sepenuhnya. Sabagaiman yang pernah diungkapkan Anies Baswedan, bahwa kita sekarang ini mengalami krisis tokoh yang menjadi panutan sebagai anak bangsa. Lanjt Anies, dulu kita disuruh untuk menghafal nama-nama menteri! Namun kini adakah kita hafal nama- anam menteri kita?

Untuk itu hemat saya, warisan dan budaya keilmuan Islam di Indonesia haruslah dipertahankan hingga kini. Era milenal saat ini membutuhkan terobosan keilmuan dengan konsep Rahmatan Lil Alamin. Semoga warisan yang pernah ada bisa terus terjaga dan bergerak lebih dinamis dari sebelumnya.

Salam:)

Baca juga: Iqro Maka Bacalah!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun