Mohon tunggu...
Albar Rahman
Albar Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis, peneliti dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia

Sehari-hari menghabiskan waktu dengan buku-buku ditemani kopi seduhan sendiri. Menikmati akhir pekan dengan liga inggris, mengamati cineas dengan filem yang dikaryakan. Hal lainnya mencintai dunia sastra, filsafat dan beragam topik menarik dari politik hingga ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Imajinasi tentang Literaturianisme Refleksi Marxisme hingga Kapitalisme

30 September 2022   00:40 Diperbarui: 30 September 2022   00:42 144 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menuju hari memperingati gerakan G30S. Banyak perdebatan sana sini bahwa filem dan sejarahnya ada yang berpendapat semua pesanan rezim atau penguasa kala itu pasca pemusnahan PKI di 1965. Ada juga yang mengecam bahwa ini adalah sejarah adanya dan perlu dijaga terus. Demi menjaga ancaman negara dari ideologi manapun. 

Saya tidak akan membahas tentang mana sejarah yang benar atau tidak. Melainkan saya akan mengimajinasikan lewat kolom tulisan kali ini tentang bagaimana aliran masa depan tanpa pertikaian hadir lagi di masa mendatang. 

Jika HOS Tjokroaminoto menulis tentang Islam dan Sosialisme dengan melihat kondisi dan mengkajinya pada argumen sejarah. Maapkan saya kali ini tidak akan melakukan hal yang sama. Begitupun Bung Karno dengan gagasan Marhainismenya. Saya hanya akan berimajinasi, sekali lagi!

Semisal saya tidak akan membahas komunisme dimana saya memaknai komunisme adalah sebuah ide sekaligus gerakan dengan semangat sosialisme alias membela kaum buruh dan setara dengannya yang tertindas. Di masa depan pasti akan selalu ada pikiran seperti ini berkembang, walau dalam tanda kutip akan usang. Begitupun kapitalisme yang terus kian masa melahirkan "lintah darat". Kelak ini akan usang juga. 

Saya tidak akan jatuh cinta lagi dengan ide komunisme yang sudah membantai 30 juta penduduk eropa dan membunuh ulama serta menjembatani pertikaian di Indonesia. Akhirnya saya hanya ingin negri ini punya aliran baru di masa mendatang. Bukan Komunisme, Marxisme, Kapitalisme, Liberalisme atau apapun itu. 

Aku berimajinasi liar bahwa kelak dan masa mendatang perlu paham yang bersifat apatis pada politik secara praktik. Menjadi sufi alias berpikir falsafah atau pemikir dalam arti sejati. Perlu lagi Aristotel masa depan dengan aliran manusia pemikir dan menuliskan pikirannya. Aliran itu aku lahirkan dengan sebutan Literaturianisme.

Lagi-lagi ini aliran pandangan bukan agama atau kepercayaan. Ini tentang sebuah anggapan dan matinya aliran lain yang sangat politis dan menjadikan nyawa manusia sebagai tumbal demi kepentingan kekuasaan dengan menunggangi agenda poltik dengan masa dan kuasa yang dimiliki. 

Literaturianisme adalah menuliskan pikiran untuk mejunjung perdamaian, siap bertengkar pikiran dengan semua pikiran apapun dari marxisme hingga kapitalisme misal. Tentu akan berbasis pada bacaan  panjang bagaimana mencapai sebuah perdamaian. Pikiran bisa saling serang asal tidak membunuh nyawa manusia itu harus dipegang dengan baik. 

Merawat buku dan pikiran. Manusia berdiri dengan pikiran. Bukankah ini sebuah keniscayaan?

Akhirnya dengan penuh kesadaran penuh bahwa membaca dan menulis pikiran merdeka adalah kerja literaturianisme. Jadi pemikir bukan jadi manusia tanpa berpikir dan tidak memiliki pikiran. Syahdan yang membedakan manusia dengan binatang adalah pikiran, apa bedanya jika manusia tidak berpikir.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan