Mohon tunggu...
Muhammad Ulil Albab
Muhammad Ulil Albab Mohon Tunggu... Penulis

Hanya Seorang Pengembara Yang Sedang Mencari Makna Kehidupan | Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia | @albabmhd

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Tingkatan Puasa

5 Mei 2021   06:14 Diperbarui: 6 Mei 2021   06:16 109 2 0 Mohon Tunggu...

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din menyebutkan bahwa puasa itu terbagi tiga, yaitu puasa al-awam, puasa al-khawash, dan puasa khawash al-khawash.

Sebelum masuk dalam rincian masing-masing pembagian di atas, perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa yang dapat membatalkan puasa itu terbagi dua, yaitu al-muhbithah (hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa tetapi tidak membatalkan puasa, seperti gibah, dusta, dan lain sebagainya) dan al-mufthirah (hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan tentunya juga membatalkan pahala puasa, seperti makan, minum, dan lain sebagainya).

Apa itu puasa al-awam? Puasa al-awam adalah menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, meskipun masih melakukan hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Pada tingkatan ini, orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan haus tanpa mendapatkan pahala dari puasanya atau dia mendapatkan pahala dari puasanya namun tidak sempurna. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda sebagai berikut:

"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus."

Singkatnya, puasa al-awam cukup hanya dengan menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan saja.

Apa itu puasa al-khawash? Puasa al-khawash adalah menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Dengan kata lain, puasa al-khawash adalah menahan diri, tidak hanya untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, namun juga menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa.

Setidaknya ada enam hal yang mesti dilakukan untuk sampai pada level ini, yaitu:
(1) Menundukkan pandangan serta menahannya dari segala hal yang dicela mau pun dibenci dan yang menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah
(2) Menjaga ucapan dari gurauan, dusta, gibah, adu domba, dan permusuhan, serta menyibukkannya dengan berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur'an
(3) Menahan pendengaran dari hal-hal yang mesti ditahan untuk diucapkan karena ketika sesuatu tidak boleh diucapkan maka secara otomatis tidak boleh pula didengar
(4) Menahan seluruh anggota yang tersisa dari dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci dan menahan perut dari hal-hal yang diragukan statusnya ketika berbuka puasa
(5) Tidak terlalu banyak makan ketika berbuka puasa
(6) Hati orang yang berpuasa mesti memiliki rasa takut kepada Allah dan penuh rasa pengharapan

Singkatnya, puasa al-khawash tidak hanya dengan menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan saja, namun juga menahan penglihatan, pendengaran, ucapan, dan perbuatan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang berbau dosa/maksiat.

Apa itu puasa khawash al-khawash? Puasa khawash al-khawash adalah menahan diri dari segala hal yang tidak berkaitan dengan Allah. Pada tingkatan ini, orang yang berpuasa hanya menyibukkan dirinya dengan beribadah/mengingat Allah dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi. Ini tingkatan tertinggi dari puasa.

Maka dari itu, telah sampai pada tingkatan apa puasa kita? Apakah kita hanya menahan lapar dan haus saja tanpa mendapatkan pahala dari puasa kita? Pikirkanlah!

Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada kita semua dan menunjukkan kita jalan menuju kebenaran. Amin

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x