Mohon tunggu...
April
April Mohon Tunggu... The one on the left, not the right one.

Born from a family of hawkers, I prey upon Jakarta's wasteland like a hawk myself. Translates and Proofread english literatures, arts, and other medias. (even video games!)

Selanjutnya

Tutup

Hobi

"Mabar Kuyy!", Fenomena Leha-leha Terbaru

20 Februari 2020   12:56 Diperbarui: 20 Februari 2020   13:08 14 0 0 Mohon Tunggu...

Siapa yang tidak suka bermain? Apabila boleh saya sekarang juga mengeluarkan laptop atau smartphone saya dan bermain bersama dengan teman - teman saya jamin, hingga esok malam suntuk tidak akan kelar. Belakangan ini dengan adanya tren gaming yang meroket pada berbagai macam gawai yang beredar di pasaran, dengan adanya gawai limited edition atau gawai yang digunakan khusus untuk bermain game.

kita secara langsung tidak langsung menjadi semakin mudah untuk bermain dengan orang - orang disekitar kita. Meskipun rata - rata pemilik smartphone sudah lulus SD, kita kembali lagi ke TK dengan tujuan membangun playgroup.  Pembentukan kelompok bermain ini mempunyai tujuan yang sangat murni - untuk bersenang senang dan bermain bersama. Biasanya pembentuk kelompok ini merupakan pemain yang berpengalaman, atau pemain yang memang sedang mencari teman untuk menemani dia saat bermain. Kelompok ini meskipun dapat terisi dari orang - orang yang jauh berbeda dari satu sama lain tidak memandang individu tersendiri, namun mereka melihat kompetensinya dalam bermain. Kelompok ini akan menyelenggarakan acara main bersama apabila semua anggota dan ketua sudah siap.  Bermainpun juga tidak mudah, karena lawannya sudah dijamin oleh sistem didalam game agar sama sama melawan tim lain sebagai tim oposisi. Satu sesi bermain menjadi suatu acara tersendiri dimana terjadi drama, emosi, kemarahan, dan perekatan/penghancuran tali persahabatan - meski hanya sesaat. Setelah mencicipi euforia kemenangan atau merasakan kepedihannya kekalahan sebagai kelompok, mereka akan terdorong untuk lanjut ke sesi bermain berikutnya atau istirahat terlebih dahulu. 

Mereka sudah mencapai euforia setinggi - tingginya dan serendah - rendahnya , dan mereka tidak berniat untuk melepaskan kepuasan itu. Apabila kelompok ini berjalan lebih dari satu bulan, kelompok ini akan mengalami peruahan yang radikal - yaitu memiliki budayanya tersendiri.

Kelompok ini akan menjadi lebih serius. Tujuannya yang hanya bersenang senang akan menjadi tim yang terbaik. Dengan adanya sistem ranking di game, mereka dapat mencapai status "pemain #1" sebagai penghargaan yang lebih penting dari mencapaikan sesuatu didunia nyata. Pertemuan yang informal akan menjadi pertemuan yang wajib diikuti, dan akan diadakan komitmen yang lebih erat daripada pernikahan. Apabila ketua berhenti main namun, semuanya juga akan mengikuti atau kelompok akan bubar. Banyak kelompok yang sudah seperti ini, salah satunya seperti Nusantara Wolves yang berawal seperti itu , suatu kelompok main bareng yang melihat potensinya untuk bermain di tingkat atas.

Dan suatu kelompok seperti ini bukanlah hal yang asing pula, Irving Janis (1971) telah memaparkan fenomena ini didalam bentuk teori Groupthink. Sekumpulan individu yang bergabung menjadi suatu kelompok dengan satu tujuan, dimana ketua kelompok merupakan fondasi penting atas kemajuan, kemunduran, dan keruntuhan kelompok tersebut. Kelompok ini biasanya dibuat untuk menyelesaikan masalah, namun dapat dibilang bahwa melarikan diri dari kenyataan yang membosankan merupakan permasalahan yang ingin mereka selesaikan. Kelompok tersebut juga disebut bahwa mereka akan menjadi lebih dekat setelah mengalami periode penuh percobaan, alias sesi bermain dimana mereka ditantang dan menantang oposisi. Ketika budaya mereka berubah dari kelompok bermain menjadi kelompok komptitif, disitulah teori Groupthink bersinar karena intisari teori teori groupthink (yaitu kepentingan ketua kelompok dan tujuan kelompok) diintensifikasikan.

Dan ketika suatu kelompok berada di periode itu, kelompok tersebut dapat diperkuat atau runtuh dengan beratnya tekanan terhadap kelompok.

Sumber: Janis, I. L. (November 1971). "Groupthink". Psychology Today. 5 (6): 43--46, 74--76.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x