Media

Herman Deru: Pendidikan Kunci Kemajuan, Anak Tak Boleh Putus Sekolah

13 Oktober 2017   14:07 Diperbarui: 13 Oktober 2017   14:11 509 0 0
Herman Deru: Pendidikan Kunci Kemajuan, Anak Tak Boleh Putus Sekolah
herman-deru-siap-maju-pilgub-sumsel-2018-dengan-jargon-bersatu-sumsel-maju-1140x641-59e0647b07b94b234816d392.jpg

Angka anak putus sekolah di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) masih memprihatinkan. Berdasarkan data Neraca Pendidikan Daerah (NDP) Kemendikbud RI, menunjukkan kondisi dan capaian pendidikan Sumsel pada tahun 2016 dengan Angka Artisipasi Murni (APM) mencapai 91,6 persen (SD), 76,0 persen (SMP), dan 60 persen (SMA/SMK). Artinya, angka anak putus sekolah masih banyak, khususnya di jenjang SMA/SMK mencapai 40 persen. Padahal mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat UUD 1945.

Realitas itu tentu sangat memprihatinkan, Indonesia merdeka sudah menginjak di umur yang ke-72 tahun, tapi masih banyak anak bangsa yang tak bisa melanjutkan pendidikan. Hal ini tentu menjadi catatan buruk bagi pemerintah di Sumsel saat ini, karena tidak bisa mengangkat prestasi dalam bidang pendidikan. Padahal pendidikan merupakan kunci sebuah daerah mencapai kemajuan, karena lewat pendidikan itulah Sumber Daya Manusia (SDM) dilahirkan. Lalu, bagaimana sebuah daerah bisa maju, kalau urusan yang substansial seperti pendidikan masih dispelekan.

Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatra 2018, persoalan tingginya angka anak putus sekolah ini tentu menjadi tantangan serius bagi pemimpin terpilih. Siapapun yang terpilih harus bisa mengangkat prestasi dalam bidang pendidikan, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian ini.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan perkembangan politik yang ada, besar kemungkinan ada tiga pasangan calon yang akan bersaing pada Pilgub Sumsel 2018. Yaitu Pasangan Dodi Reza -- Giri, Ishak Mekki - Aswari Riva'I, dan Herman Deru - Mawardi Yahya.

Dari ketiga calon kontestan tersebut, sampai saat ini hanya Herman Deru yang jauh-jauh hari sudah menyinggung soal pendidikan di Sumsel. Bagi mantan Bupati OKU Timur ini, perbaikan pendidikan dan pemberdayaan akan dijadikan sebagai salah satu fokus program utamanya. Ia siap menggalakkan program pendidikan bagi warga kurang mampu, yang mayoritas anaknya putus sekolah.

Deru menjelaskan ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak tak mendapat pendidikan secara merata, diantaranya: kondisi ekonomi keluarga, kondisi lingkungan yang tak mendukung serta motivasi dari anak yang kurang kuat. Diakui atau tidak, kondisi ekonomi yang kurang baik bisa memaksa anak-anak ikut bekerja. Hal inilah yang membuat motivasi anak untuk sekolah menurun, karena harus menopang keluarganya. Mereka yang terlanjur bekerja lalu memilih melanjutkan itu daripada sekolah, ini menjadi salah satu problem serius yang harus diselesaikan.

Bupati OKU Timur dua periode ini menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk menuntaskan kasus anak putus sekolah tersebut. Terkait pendataan di lapangan, lanjut Deru, akan dilakukan koordinasi dengan Dinas terkait sampai tingkat desa dan kelurahan, Ia ingin anak putus sekolah bisa terdata seluruhnya. Kemudian diperlukan peran aktif pemerintah untuk mengurangi angka putus sekolah di Sumsel. Menurut Deru, percuma menggembor-gemborkan program pendidikan gratis, tapi anak putus sekolah masih banyak. Ini ironi, ini PR kita bersama.

Untuk mewujudkan itu, Deru menekankan semua pihak harus bekerjasama, tidak hanya mengurangi tapi juga menghilangkan anak putus sekolah di Sumsel. Bagi Deru semua anak di Sumsel harus tamat minimal sampai SMA. Pun demikian bagi keluarga yang kurang mampu, Deru berharap para orang tua tidak menghilangkan motivasi sang anak untuk belajar. Deru tidak ingin melihat Anak-anak di Sumsel malas sekolah atau putus sekolah.

Kalau memang sang anak malas sekolah, orang tua harus memaksanya. Tentu saja, pemerintah juga akan menyiapkan alternative pendidikan, bisa melalui program kejar paket seperti yang ada sekarang ini atau pendidikan life skill, vokasi dan sejenisnya. Bagi Deru kalau Sumsel mau maju, semua harus maju. Demi mewujudkan itu anak-anak harus sekolah, belajar, punya skill, jadi SDM yang andal, dan pemerintah mendukung itu semua.