Mohon tunggu...
Alam Semesta
Alam Semesta Mohon Tunggu... Instructional Designer

Pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di Zhejiang Yuexiu University of Foreign Languages, China. Gemar membaca, menulis, dan makan-makan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Juga Ingin Bahagia

24 November 2019   09:15 Diperbarui: 24 November 2019   09:20 42 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Juga Ingin Bahagia
Source Pexel.com

Kelaparan bisa menyebabkan tubuh seseorang menjadi lemah dan mudah jatuh sakit. Kelaparan bisa disebabkan oleh tidak cukupnya uang yang diperoleh untuk membeli makanan. Uang yang diperoleh bisa saja tidak cukup karena kerja yang dilakukan tidak dibayar dengan impas. Hasil yang diperoleh dari kerja keras berpahalakan hanya dengan keikhlasan. Inilah yang saat sekarang masih menyelimuti kehidupan sebagian besar guru di tanah air. Guru-guru yang dibayar dengan gaji secuil, yang kadang juga masih dirampas haknya. Guru yang dibayar dengan gaji sejumput tapi masih dipersulit untuk mendapatkan haknya. 

Di sinilah akar permasalahan utama kualitas pendidikan di tanah air masih berkembang mengikuti deret hitung  lambat dan bahkan belum mampu mengikuti deret angka kuadrat. Dalam sebuah group WA, penulis masih membaca banyak curahan hati dosen yang berstatus tenaga tetap tetapi digaji secara honorer. Koran dan media pendidikan juga tidak jarang memberitakan pengabdian guru di daerah terpencil yang gajinya masih sering terlambat diterima meski turunnya sudah tiga bulan sekali. Bersama dengan siswa ketika berada di ruangan gedung sekolah yang tidak lagi kokoh, guru juga bisa mengalami musibah tertimpa reruntuhan gedung. 

Miris untuk memaparkan masalah dan paparan ini memang tidak menyelesaikan masalah. Tetapi jika buruh saja bisa menuntut untuk dibayar dengan upah minimum, apakah guru tidak berhak untuk mengeluh dan menyampaikan deritanya? Keluhan dan derita ini juga bukan tidak disampaikan, tetapi memang masih ada kekurangan dalam pembenahan sistem pendidikan di negeri ini walaupun memang pembenahan juga sudah dilakukan. Pembenahan yang terkesan lambat dan bahkan lebih lambat daripada gerak siput. 

Ada beberapa pemikiran yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini dan semoga saja tidak hanya menambah masalah. Walaupun bukan solusi, tetapi semoga pemikiran ini dibaca dan didengar oleh pengambil kebijakan di negeri ini.

Pertama, ada baiknya untuk sementara pendidikan di Indonesia berhenti sejenak melakukan perombakan kurikulum. Bongkar pasang instrumen kurikulum, gonta-ganti muatan mata pelajaran, revisi di sana-sini hanya akan menghasilkan inefisiensi di dalam pelaksanaan pembelajaran di lapangan. Sekolah dan guru yang menjadi ujung tombak pelaksana di lapangan, yang sebagian besar masih kelaparan, justru akan semakin terbebani dengan perubahan ini, yang intinya adalah beban tambahan dari aspek administrasi. 

Kedua, ada baiknya bangunan-bangunan sekolah yang belum roboh juga segera diperiksa kelayakan gunanya. Ini merupakan suatu komitmen yang saya yakin juga sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang dicita-citakan pemerintah saat ini. Bangunan sekolah yang layak dan aman untuk digunakan merupakan infrastruktur yang akan menjembatani dihasilkannya generasi penerus yang mampu meneruskan pembangunan yang sedang dilaksanakan saat sekarang. 

Ketiga, ada baiknya dilakukan keseimbangan mendengarkan saran dari generasi milenial di perkotaan dengan keseimbangan mendapatkan masukan dari para penggerak literasi kerakyatan di akar rumput. Kebijakan yang dibuat juga sudah saatnya didasarkan pada rekomendasi yang dihasilkan melalui jurnal-jurnal penelitian di bidang pendidikan serta skripsi yang dibuat oleh mahasiswa.

Keempat, ada baiknya pemanfaatan teknologi untuk mencapai perkembangan kualitas pendidikan secara eksponensial tidak hanya dibatasi pada teknologi mutakhir. Potensi yang ada di setiap wilayah berbeda dan dari potensi wilayah tersebut juga bisa dikembangkan teknologi lokal yang sesuai dengan kearifan lokal.

Kelima, ada baiknya melibatkan mahasiswa dari daerah asal masing-masing untuk mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan keterampilan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan setiap daerah. 

Terakhir, ada baiknya sebagian besar guru dan dosen masih hidup dalam kondisi kekhawatiran, kecemasan, dan kegelisahan juga mendapatkan perhatian. Walaupun guru dan dosen tersebut ikhlas dalam menjalankan tugasnya, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keselamatan guru dan dosen tersebut juga merupakan elemen penting untuk dapat menjalankan tugas dengan baik.

Semoga pemikiran-pemikiran ini segera terwujud dalam bentuk tindakan nyata dan pendidikan di Indonesia bisa segera mengejar ketertinggalan dengan bergerak maju secara eksponensial seperti perkembangan pemanfaatan teknologi mutakhir. 

VIDEO PILIHAN