Mohon tunggu...
Alaek Mukhyiddin
Alaek Mukhyiddin Mohon Tunggu... Santri Aktif Pondok Pesantren Sidogiri

adalah penggagas Jam'iyah sastra di pondok pesantren Sidogiri, sekaligus menjadi ketua perdananya. saat ini menjabat sebagai pemimpin Redaksi Nasyith dan pimpinan umum Mading Taammul. ia merupakan eks Editor Mading Madinnah ( Bentengnya Ahlu Sunnah wal-Jamaah). buku pertamanya adalah misteri Gerbong Maut

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Senja Terakhir di Pesantren

2 Agustus 2020   19:47 Diperbarui: 2 Agustus 2020   19:43 24 0 0 Mohon Tunggu...

Senja telah tiba, tapi aku enggan beranjak dari tempat ini. Aku suka berlama-lama di sini, setelah sekian lama terpental oleh jarak dan waktu sehingga membuatku merindu. Gubuk sederhana yang terletak di pinggir sawah ini membuatku bisa menikmati indahnya suasana senja, meski pikiranku terus saja ber-nostalgia. Udaranya sejuk, sesekali angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Aaah ...segarnya.

Ku lihat luasnya hamparan padi yang mulai menguning. Burung-burung mengudara dengan bebas di bawah bentangan langit yang ditemani oleh kilauan cahaya dari sinar-sinar terakhir mentari di sore hari.

Sebenarnya dulu persawahan ini mengitari Pondok pesantren al-Hikmah, tempatku menuntut ilmu dulu. Sedangkan pemilik dari sawah ini sendiri adalah pengasuhnya, Kyai Shabirin. Namun, setelah aku membalikkan badan, yang tampak adalah bangunan tinggi nan kokoh yang sesekali bergemerisik bising. Ya, kini bukan lagi pesantren, melainkan pabrik beras yang menjadi roda perputaran ekonomi. Masjid tempat kami dulu mengaji berubah menjadi lima kandang sapi. Sedangkan dalem Kyai Shabirin berubah menjadi tempat penggilingan padi.

Aku masih ingat saat sawah ini masih dalam pangkuan pesantren. Semua santri bekerja secara suka rela. Biasanya aku menggarapnya saat senja tiba, serta diselingi permainan yang menyenangkan karena hanya waktu itulah kegiatan pesantren senggang.

Setelah musim panen tiba, Beliau tidak mengambil sepeser-pun dari hasil penjualan, Sebagian dialokasikan ke dapur untuk keperluan makan santri dan sisanya disedekahkan pada yang membutuhkan.

Pesantren al-Hikmah sendiri adalah tempat menimba ilmu khusus untuk anak yang tidak mampu. Entah karena yatim, piatu atau memang terlahir dengan finansial yang serba kekurangan.

Mataku kembali menatap retina nostalgia pada masa lima tahun yang lalu, saat aku dan para santri lainnya berjalan di tengah pematang sawah saat senja tiba. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk menggerakkan orang-orangan sawah agar burung terbang mengudara, saat sebagian hamparan telah menguning, mendekati masa panen.

Baru setelah matahari hampir terbenam, kami memutuskan untuk pulang, berjalan ber-iringan dengan hati-hati di tepi sawah karena takut terpeleset. Kami akan duduk dan tertawa terpingkal-pingkal saat salah satu dari kami jatuh terpeleset ke lumpur. Sungguh hari-hari yang menyenangkan.

Aku segera tersadar dari lamunanku. Dan mulai menyalahkan takdir tentang apa yang sudah terjadi pada pesantrenku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa semua itu terjadi begitu tiba-tiba. Saat aku mulai menyukai senja bersama bayangan teman-temanku yang memantul di genangan air persawahan.

Sorot mataku terus mengarah ke depan. Pikiranku mencoba mengais dan merangkai puing-puing kisah yang terjadi di masa lalu. Saat semuanya mengkubur dalam-dalam hiruk-pikuk pesantren al-Hikmah menjadi pabrik beras terbesar di kota ini.

Tanpa membuang waktu, aku mengeluarkan pensil dan buku dari ransel yang sedari tadi ada di sampingku. kugoreskan huruf demi huruf sehingga merangkai kata Senja Terakhir Di Pesantren.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x