Muhamad Agung Noerwahid
Muhamad Agung Noerwahid CEO at Solit.id

#akuagung "Biarkan Jemari menari mengikuti irama hati" ------------------ Solit.id

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dewi

7 Desember 2017   17:08 Diperbarui: 7 Desember 2017   17:10 793 0 0
Dewi
Source : i.pinimg.com

"Hey!! Kamu yang ada disana!!! Aku sedang berbicara denganmu! Mengapa kamu tidak berani untuk menatap saya?! Kamu takut? Atau KAMU memang merasa bersalah?"-- Ujar seorang wanita berambut panjang dan kusut di sebuah ruangan yang sangat gelap 

Tak ada yang tahu siapakah wanita ini, melihat wajahnya pun belum pernah ada yang melihatnya lagi setelah kejadian itu. Tahun 1998 adalah tahun dimana kejadian itu mulai terkuak oleh sesuatu yang sangat sederhana. Ya, lahirnya bayi berjenis kelamin wanita yang mungil itu menjadi pemicu kejadian hilangnya harga dari sebuah nyawa. Tidak hanya satu dan dua orang, namun berpuluh-puluh orang berubah menjadi Malaikat Pencabut Nyawa palsu. Mereka bukanlah Malaikat yang diciptakan oleh Tuhan, namun mesin pembunuh yang tidak memiliki hati nurani. Salah!! Sepertinya mereka itu manusia yang hanya tidak memiliki hati namun masih memiliki nurani, namun nurani yang negatif.

"Tidak mungkin berpuluh-puluh orang itu kita masukkan ke dalam Hotel Rodeo kan?"ujar mereka yang menyebut dirinya Pihak Berwenang. Ya kita tahu bahwa mereka kebingungan, sehingga kasus ini pun perlahan mereka lupakan, bahkan pemimpinnya pun membakar semua laporan dan data mengenai kejadian ini.

Sudah saja lupakan para Pihak Berwenang itu, karena disini aku mencoba untuk mencari tahu siapakah wanita ini. Menggali informasi dari para warga pun seolah percuma dan sia-sia saja. Mereka semua sudah menghapus kejadian dan siapakah wanita ini dari hardisk yang berada di dalam kepala mereka. 

"Ah Sial!!! Aku harus mencari tahu dengan cara apa lagi? Apa perlu aku mendatangi wanita ini? Tapi jujur saja aku tidak tahu dimana dia berada.."-- Ujarku dalam hati 

Warga yang kini tinggal dengan damai seolah mereka tidak memiliki dosa. Entah apa yang sebenarnya apa yang merasuki mereka. Selama bertahun-tahun mungkin aku sudah ratusan kali mendatangi desa ini, namun tetap saja tak ada informasi. Informasi yang aku miliki hanya tahun dan tragedi itu yang masih sangat mentah sekali, itupun aku dapatkan dari seorang Pihak Berwenang yang kini sudah pensiun dan tinggal di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota dan bisa dibilang sangat terpencil sekali. Mungkin ini hanya membuang-buang waktu saja. Tapi setiap malam suara wanita ini selalu memanggil namaku dan selalu meminta tolong dengan nada layaknya seseorang yang sedang menangis dengan penuh penghayatan.

"Tolong aku Dani.... Tolong...."-- Suara yang selalu aku dengar setiap malam 

Setiap kali aku menceritakan kejadian ini pada teman-temanku, mereka selalu mengatakan bahwa aku sepertinya sudah gila. Bahkan tidak sedikit yang mengucilkan aku karena hal ini. Karena memang aku sudah terbiasa sendiri semenjak aku kecil, aku tidak menghiraukan masalah ini. Aku tidak mengenal siapa orang tuaku, bagaimana rupa dan wujudnya. Aku dibesarkan oleh seorang wanita yang aku pun tidak pernah tahu bagaimana rupanya. Yang aku tahu hanya tangannya yang keriput, setiap pagi dan ketika aku pulang beraktifitas selalu ada makanan rumahan yang sudah siap di depan pintu kamarku. Pernah beberapa kali aku mencoba untuk tidak tidur dan mengintip siapakah dia, tapi dia tidak pernah muncul seolah sudah tahu aku sedang mencoba mencari tahu.

Suatu ketika, saat aku akan berangkat menuju tempat dimana aku bekerja. Ada secarik kertas yang tersimpan di depan pintu kamarku. Walau tulisannya tidak jelas dan seperti tulisan anak kecil yang sedang belajar menulis, tapi aku dapat membacanya.

"Apa kamu sudah pernah mencoba berkomunikasi dengannya ketika dia memanggil dan meminta tolong padamu? Jika belum pernah, maka cobalah!!"-- Isi dalam secarik kertas itu 

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menyusuri jalan berharap aku bertemu dengan siapa yang menulis itu. Tapi, hingga jarak yang sangat jauh aku tidak menemukan apapun. Karena kejadian hari ini, aku mengurungkan niat untuk pergi bekerja dan yang aku lakukan hanyalah berdiam diri memikirkan bagaimana cara untuk berkomunikasi dengan wanita yang selalu memanggil dan meminta tolong itu.

"Ok, malam ini jika suara wanita itu terdengar olehku.. Aku akan mencoba berkomunikasi dengannya.."-- Ujarku dalam hati 

Ya benar saja, seperti malam-malam sebelumnya suara itu terdengar kembali. Aku mencoba berkomunikasi dengannya. Dan ternyata dia menjawabku.

"Tolong aku Dani... Tolong..." 

"Kamu siapa? Bagaimana aku bisa menolongmu jika aku tidak tahu kamu berada dimana?" 

"Tolong aku... Aku tidak tahu siapa aku... Jangan tanyakan itu... Tolong aku..."

 "Kamu ada dimana? Aku ingin menolongmu..." 

"Aku berada di dalam ruangan yang sangat gelap, aku tidak berani keluar. Banyak sekali hewan buas diluar sana.... Tolong aku..."

Hanya itu komunikasi terakhir yang bisa terjalin antara aku dan dia, karena setelah itu hingga saat ini dia tidak pernah memanggilku lagi. Tapi itu tidak membuatku berhenti disini saja, aku tetap akan mencari dia. Karena satu-satunya informasi yang sebelumnya aku dapatkan yaitu dari seorang pensiunan Pihak Berwajib yang aku ceritakan di atas, maka aku pergi menuju rumah pensiunan Pihak Berwajib ini untuk bertanya kembali, dengan harapan dia bisa mengingat kembali kejadian 1998 itu.

Ketika aku akan sampai di rumah orang itu, ada hal yang janggal, membuat mata dan hatiku seolah terganggu dengan hal ini. Setumpuk pepohonan yang berkumpul ditengah-tengah sawah itu tidak lazim adanya. Karena hal ini, aku memutuskan untuk pergi menuju tengah-tengah sawah itu, dan menunda kunjunganku. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam yang kutempuh pun terhambat oleh pagar yang lebih tinggi dariku. Untung saja, pagar itu terbuat dari kayu yang bisa aku potong dengan pisau hutan yang aku bawa untuk jaga-jaga dari tas ranselku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3