Mohon tunggu...
Rudy Santoso
Rudy Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Writer, Memoaris, Influencer, Property Advisor.

Rudy Akasara_Nusa Kota Malang - 1974_writer Penulis - memoaris - influencer - property advisor.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aroma Melati di Rumah Cempaka#1

1 Desember 2022   03:31 Diperbarui: 25 Desember 2022   21:07 361
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Beberapa saat Raka terdiam matanya terpejam, dari mata batinnya terlihat sosok perempuan berpakaian seperti seorang Ratu dengan sebuah mahkota di kepalanya datang dengan mengendarai Kereta Kencana yang ditarik dengan 6 ekor kuda berwarna putih. Kemudian sosok Ratu itu berhenti menatap mereka berdua sambil tersenyum, kemudian berbalik segera pergi dengan Kereta Kencana.

"Ampun Ratu...mohon maaf! Asih lancang mengganggu keturunan Kanjeng Ratu." Mbak Asih bersimpuh sambil menyembah ke sosok Kanjeng Ratu.
Raka terdiam dalam hatinya mengirimkan tawasul Fatehah kepada Kanjeng Ratu yang beranjak pergi kembali ke Alamnya.
"Ampun Raden, maafkan saya Raden. Asih tidak tahu Raden kerabat dari Kanjeng Ratu Hemas. Mohon ampuni saya Raden!" kemudian Mbak Asih merunduk dan bersimpuh menyembah Raka.
"Baik mbak Asih, masih mau mengganggu orang lain atau saya usir pergi?" Jawab Raka tegas sambil memandang Mbak Asih, cewek  bergaun putih yang sedikit usil mengganggu orang dan gentayangan kemana-mana.
"Baik Raden. Saya akan pergi dan tidak mengganggu lagi, ijinkan bercerita tentang diri saya dan meminta pertolongan untuk di carikan tempat tinggal." Mbak Asih memohon kepada Raka.
"Baik saya ijinkan dan akan saya usahakan carikan tempat tinggal. Sekarang ceritakan siapa diri mbak Asih saya akan dengarkan!" Jawab Raka lagi sambil bergeser dan melihat kesamping Bagus masih duduk terdiam dengan wajah tegang.

Bagus hanya merasa ada angin yang berputar di sekitar ruangan tengah tempat mereka duduk, suara kereta kuda, langkah kaki kuda berjalan dan mencium aroma melati bercampur dengan aroma minyak kasturi yang kuat tercium. Membuat Bagus duduk terdiam mendekat ke Raka, berharap dengan cemas, dan rasa takut yang luar biasa..

"Saya mempunyai nama asli Asih Windarti, Raden. Orang tua saya seorang petani di dusun kecil di pinggiran kota Caruban, saya berumur 18 tahun, lahir tahun 1958. Saya meninggal karena gantung diri, di rumah kosong paling ujung yang berdekatan dengan SD Negeri. Waktu itu saya membantu orang tua untuk berjualan hasil panen kami, sayur-sayuran, kacang dan jagung di pasar besar Madiun."         

"Setelah semua dagangan habis segera saya pulang dengan bersepeda, waktu itu tahun 1974 jalan masih teramat sepi. Ketika saya melewati jalan di belakang Pabrik Gula, saya di hadang oleh sekumpulan pemuda yang sedang mabuk. Saya tidak bisa menghindar dari pemuda berjumlah 4 orang itu. Akhirnya saya di seret mereka ke sebuah gubuk di tengah sawah di belakang Pabrik Gula. Saya di sekap selama 5 hari oleh para pemuda itu, dan saya di perkosa bergiliran sampai berkali kali saya pingsan."

"Ketika para pemuda itu terlena karena mabuk dan terlalu banyak minum arak, saya berusaha melarikan diri. Saya terus berlari tidak tahu arah, sampai saya berhenti di dekat stasiun, tepatnya di sebelah timur. Saya merasa putus asa dan hidup saya tidak berguna lagi, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menabrakkan diri di rel kereta api, tetapi saya di selamatkan oleh warga sekitar dan saya di tolong oleh salah seorang warga yang rumahnya di dekat rel kereta api."

"Setelah menginap beberapa hari di rumah warga yang berjanji di antar pulang ke rumah Caruban. Karena rasa putus asa dan rasa malu saya tidak perawan lagi, saya berusaha mengakhiri hidup saya. Kesempatan datang malam hari ketika keluarga itu tidur, saya keluar dari rumah itu dengan membawa tali tampar untuk jemuran. Akhirnya saya terus berjalan sampai rumah kosong di dekat sekolahan SD Negeri Mojopahit. Saya masuk ke rumah itu dan di ruang tengah saya bunuh diri dengan menggantung diri."
"Setelah menggantung diri saya kebingungan karena saya belum saatnya meninggal dan saya terus bergentayangan. Warga sekitar dan keluarga yang menolong itu menemukan jasad saya  dan segera lapor ke kantor polisi, akhirnya saya di kuburkan di kampung saya. Tetapi saya bergentayangan dan menempati rumah kosong itu, dengan harapan saya harus balas dendam ke para pemuda yang memperkosa saya."

"Selama berapa tahun saya tinggal di rumah itu, akhirnya pada suatu saat rumah itu di robohkan karena dijual. Pemilik yang baru membangun rumah baru untuk tempat tinggal keluarga mereka, dan mendatangkan seorang Kyai yang menyuruh saya pergi. Kemudian saya menemukan tempat tinggal di gudang dalam rumah ini."

"Begitulah Raden, perjalan hidup saya akan terus bergentayangan dan mengganggu orang orang yang tidak saya suka." Asih bercerita bahwa dia mati dengan menggantung diri dengan rasa dendam mendalam.
"Baik saya sudah mendengar semua cerita Mbak Asih, sesuai janji nati harus pindah dari rumah ini!" Jawab Raka tegas mengusir Mbak Asih.
"Tolong saya Raden, mohon carikan saya tempat tinggal. Kalau saya belum dapat tempat tinggal saya akan terus mengikuti Raden!" Mbak Asih menyembah memohon belas kasihan.

Raka terdiam beberapa saat melihat Mbak Asih, arwah gentayangan ini rupanya perlu di sempurnakan. Dan Raka berpikir bahwa itu bukan tugasnya, harus ada seseorang yang lebih mampu sekelas Kyai yang harus mendoakan Mbak Asih hingga tenang di alamnya.

"Baik saya akan carikan solusi di mana mbak Asih tinggal, atau lebih baik tinggal di perkampungan kerajaan laut Selatan?" Jawab Raka.
"Waduh Raden. Jangan di sana karena saya tidak pantas kalau hidup disana, bukan tempat saya Raden. Tolong carikan tempat lain saja Raden!" Mbak Asih menyembah memohon ke Raka.
"Baiklah, Mbak Asih boleh mengikuti saya dengan syarat, jangan mengganggu orang yang berada di sekitar saya. Jangan menempati rumah siapa saja tanpa ijin. Kalau melanggar Mbak Asih akan mendapat hukumannya, itu pasti!" Perintah Raka tegas, dengan tujuan Mbak Asih si arwah gentayangan ini berubah sikap.
"Baik Raden saya pamit keluar dari rumah ini, tetapi saya mengikuti Raden selama belum dapat tempat tinggal. Saya akan menunggu di luar dan tidak akan mengganggu siapapun." Jawab Mbak Asih pamit pergi, angin berhembus kencang lewat bersama dengan aroma bunga melati tercium.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun