Mohon tunggu...
Muhammad Akmal Latang
Muhammad Akmal Latang Mohon Tunggu... Melihat hidup ini dari perspektif sendiri, bukan mata orang lain

Kebaikan dan niat baik jangan dilihat darimana sumbernya !

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

4 Tahun Kepemimpinan Jokowi, Ekonomi Terpuruk

20 Oktober 2018   15:15 Diperbarui: 20 Oktober 2018   15:23 0 3 1 Mohon Tunggu...
4 Tahun Kepemimpinan Jokowi, Ekonomi Terpuruk
Foto: faktakita.com

Telah genap 4 tahun kita dipimpin oleh Presiden RI ketujuh Joko Widodo, namun apa yang dirasakan masyarakat Indonesia tidak seperti ekspektasi rakyat terhadap sosok Jokowi sebagai warga sipil yang sering masuk gorong gorong seperti waktu Jokowi memimpin Solo beberapa tahun silam.

Memimpin sebuah negara adalah amanah yang sangat besar sebab yang dipimpin bukan hanya manusia tapi ada agama, ras, suku, budaya dan tanah air Indonesia beserta isinya, namun sejauh apakah kemampuan Jokowi memimpin Indonesia? Mari kita ulas.

Dalam sebuah tulisan saya juga pernah membahas tentang kegagalan pengurusan ekonomi era Jokowi seperti halnya ketidakstabilan ekonomi di indonesia membuat rakyat marjinal harus mengais iba dari orang lain bahkan bantuan yang selama ini dirasakan jauh berbeda pada era pemerintahan SBY selama 2 Periode, ditambah lagi rupiah yang kian hari kian merosot justru masyarakatlah yang menjadi korban.

Pasalnya impor pangan yang tak kunjung berhenti memaksa masyarakat membeli dengan harga yg tinggi namun di lain sisi hasil pertanian lokal memiliki daya jual yang rendah kepada tengkulak karena kelebihan stok khususnya beras.

Dinamika perpolitikan di Indonesia kembali dipertontonkan pemerintah kepada masyarakat, sehingga terkesan ingin memutar balikkan fakta bahwa rezim ini sudah bekerja maksimal, namun jika dilihat secara seksama ini sebagai suatu ketakutan, dimana pemerintah sekarang takut singgasananya  digantikan oleh orang yang berani membela kepentingan orang banyak diluar kepentingan pribadi.

Bisa dilihat ketika ada ketimpangan yang terjadi dan dirasakan langsung oleh masyarakat, Pemerintah dengan bangga menafikkan hal tersebut dengan alasan bahwa itu adalah hoax, kemudian kembali bertanya "rakyat yang mana yang sengsara? rakyat merasakan kesejahteraan di era Jokowi" kalimat itu seakan dijadikan kalimat propaganda di kalangan masyarakat hingga pemerintah dengan bangga mengumumkan prestasi pembangunan yang terselesaikan di era Jokowi tapi sesungguhnya dibangun 70% di era SBY.

Sangat miris melihat para elit pendukung rezim Jokowi yang terus menutup mata terhadap ketimpangan yang semakin melebar, rakyat kecil seakan tidak lagi punya harapan untuk menyuarakan keluh-kesah dan pendapatnya karena takut dicekal oleh pendukung anarkis pemerintah yang akhir-akhir ini kerap melakukan persekusi, main hakim sendiri namun dilindungi oleh pihak kepolisian.

Propaganda ekonomi di era Jokowi pun terus bermunculan, rupiah mencapai Rp 15.300 namun dikatakan "itu adalah efek perang dagang luar negeri!" yah, kami paham ada perang dagang, yg menjadi pertanyaan kenapa indonesia yang kekayaan alamnya luar biasa tidak bisa melawan atau setidaknya bertahan dari perang dagang? apa ini salah rakyat lagi? impor beras yang tidak diperlukan apa rakyat yang memerlukan itu? import BMW, Mercedes, Ferrari apa itu keinginan rakyat? bukan, itu adalah keinginan para elit yang bermain di negeri ini.

Selanjutnya dikatakan oleh pemerintah bahwa utang kita tidak banyak, utang itu masih wajar, utang untuk pembangunan akan terbayar dan lain-lain, ketika orang awam mendengarnya memang langsung percaya namun hal ini telah dikaji mendalam bahwa utang kita mencapai 7000 triliun, membuat Jokowi terus mengobral surat berharga milik negara dan tidak menutup kemungkinan akan ada penjualan BUMN selanjutnya.

Dan jika itu terjadi maka indonesia hampir mustahil dapat membelinya kembali kecuali dipimpin oleh orang yang benar benar paham dan tidak takut mengambil keputusan demi kesejahteraan umat.

Bahkan Jokowi sendiri pernah mengakui kegagalan ekonomi Indonesia dari sistemnya sendiri beliau lontarkan seusai pertemuan dengan para kepala daerah di istana bogor (26/7), Presiden Republik Indonesia ke-7 ini menyatakan bahwa memang ada masalah yang fundamental pada sistem perekonomian Indonesia yang harus dibenahi serta sangat berpengaruh terhadap gejolak perekonomian negara secara internasional.

Masalah yang dimaksud Joko Widodo tersebut adalah masalah Defisit Transaksi Berjalan dan Defisit Perdagangan, pasalnya beliau baru menyadari bahwa uang para pengusaha di Indonesia tidak tinggal di Indonesia namun di titipkan di negara lain, menurut pernyataan menteri keuangan yang lalu dikutip dari sumber bahwa potensi Uang Indonesia yang beredar di luar negeri sebesar Rp. 11.000 triliun yang juga nilainya sama dengan 5X lebih besar dari APBN kita saat ini dan hampir sama dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kita.

Prabowo sendiri sangat sering mengungkapkan bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini salah dan cenderung bermazhab neolib yang tidak akan cocok diterapkan di Indonesia karena Indonesia membutuhkan sistem ekonomi kerakyatan yakni sistem ekonomi sesuai UUD 1945 pasal 33, serta diambil yang terbaik dari kapitalis dan sebagian yang terbaik dari sosialis.