Mohon tunggu...
Akmal Husaini
Akmal Husaini Mohon Tunggu... Wiraswasta - suka menjaga kebersihan

kebersihan sebagian dari iman. Karena itulah jadilah pribadi yang bersih

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Konteks Resolusi Jihad Masa Kini

22 Oktober 2022   19:53 Diperbarui: 22 Oktober 2022   20:11 143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Perdamaian Indonesia - jalandamai.org

"Resolusi Jihad" untuk melawan para penjajah yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy'ari berawal dari rentetan peristiwa perobekan bendera Belanda di hotel Oranje 19 September 1945 dan perebutan senjata tentara Jepang tanggal 23 September 1945 yang kian memanas.

Hal tersebut mendorong Presiden Soekarno berkonsultasi kepada KH Hasyim Asy'ari yang mempunyai pengaruh dihadapan ulama, kemudian melalui utusannya Presiden Soekarno menanyakan hukum mempertahankan kemerdekaan, kemudian dijawab dengan tegas oleh KH Hasyim Asy'ari bahwa umat Islam perlu melakukan pembelaan terhadap tanah air dari ancaman asing yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Pada 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari berinisiatif melakukan rapat konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura di Bubutan, Surabaya. Rapat itulah yang kemudian melahirkan sebuah resolusi untuk mempertahankan kemerdekaan dan bahwasannya perjuangan untuk merdeka adalah perang suci atau jihad yang dikenal dengan "Resolusi Jihad"

Pada tahun 1945 "Resolusi Jihad" sebagai bentuk upaya menggelorakan semangat para santri membela tanah air untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari para penjajah yang kembali ingin menguasai bumi pertiwi. 

"Resolusi Jihad" dalam konteks kekinian dapat kita artikan sebagai upaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari berbagai ancaman invasi ideologi kelompok-kelompok yang berkeinginan mengganti Pancasila sebagai falsafah hidup dan ideologi bangsa Indonesia yang akan menyebabkan terpecahnya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.      

Dengan semangat "Resolusi Jihad" hendaknya dapat menyelamatkan masyarakat Indonesia dari fanatisme buta yang menyalahkan dan tidak menghormati kelompok lain yang mana hal tersebut justru dianggap sebagai suatu kebenaran oleh kelompok tertentu yang menganut paham berseberangan dengan ideologi Pancasila. 

Kelompok tersebut memaknai jihad untuk memerangi semua yang tidak sealiran dengan mereka. Ajaran tentang jihad menjadi kawasan yang berubah makna, menjadi teks untuk penguatan kepentingan ideologis dan politis.  

Para santri yang pada hakikatnya merupakan ruh negara Indonesia  terbentuk dari tradisi pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu dan akhlak, melainkan juga tazkiyatun nafs, menyucikan jiwa dengan cara digembleng melalui berbagai tirakat lahir dan batin.

Sehingga pendidikan akhlak dimaknai bukan hanya sekedar pada pendidikan etika namun lebih kepada permasalahan pola ucap dan pola sikap karena manusia bisa dianggap berakhlak ketika kehidupan yang dijalaninya seimbang antara ucapan, tindakan, pikiran, dan hati.

Sebagai pribadi yang kuat, jiwa dan raga santri menjadi teguh dan totalitas dalam beragama dan berbangsa. Hal ini menjadi penegasan mengapa santri dan kiai tidak pernah lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun