Mohon tunggu...
Akmal Husaini
Akmal Husaini Mohon Tunggu... Wiraswasta - suka menjaga kebersihan

kebersihan sebagian dari iman. Karena itulah jadilah pribadi yang bersih

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Setop Saling Membenci, Bersinergilah demi Harmoni Negeri!

19 Februari 2020   07:03 Diperbarui: 19 Februari 2020   07:09 267
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Indonesia Satu - kompasiana.com

Saling menebar kebencian, saling mencari kejelekan orang lain masih saja sering kita lihat di media sosial. Motifnya pun beragam. Dari yang hanya urusan like and dislike, sampai urusan politik ataupun urusan berbeda pandangan. Semuanya berujung pada saling menebar kebencian. 

Untuk urusan suka tidak suka, kadang berujung pada pemutusan tali pertemanan. Yang urusan politik sampai berujung pada saling menjatuhkan dan menyebarkan hoaks. Sementara yang urusan beda pandangan, sampai berujung pada persekusi.

Munculnya tindakan intoleran diatas, tidak bisa dilepaskan dari maraknya propaganda radikalisme dan ujaran kebencian di dunia maya. Tak dipungkiri, kelompok radikal terus saja menebarkan propagandanya, untuk mendapatkan simpati publik. 

Mereka terus menggalang dukungan, sambil menebar informasi bohong. Ketika tingkat literasi masyarakat rendah, mendapatkan informasi bohong dan dianggap sebagai kebenaran, disitulah bahayanya. Dan hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Tidak sedikit diantara kelompok radikal yang terus mempertentangkan antara agama dan Pancasila. Tidak jarang mereka terus mengeluarkan pernyataan yang tidak masuk akal. 

Segala hal yang berbeda atau berseberangan dengan mereka dianggap kafir. Segala hal yang tidak sejalan dianggap kafir. Bahkan sistem demokrasi dan Pancasila yang menjadi dasar negara, juga ikut-ikutan dianggap kafir. Padahal, Pancasila mempunyai nilai-nilai kearifan lokal yang sudah sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Pancasila terbukti bisa merangkul semua keragaman negeri ini. Bagaimana mungkin nilai-nilai yang positif, yang sejalan dengan semua agama yang ada dan budaya lokal, dianggap kafir? Masyarakat diharapkan juga tidak mudah percaya, dengan kebohongan-kebohongan yang sengaja dimodifikasi untuk meyakinkan publik. 

Pada dasarnya, kita tidak punya tradisi saling menebar kebencian. Kita tidak punya tradisi saling mencari kejelekan, persekusi ataupun melakukan tindakan intoleran lain.

Sebaliknya, tradisi masyarakat Indonesia adalah menebar pesan damai, ramah kepada siapa saja dan senang membantu antar sesama. Karakter itulah yang pada dasarnya melekan dalam setiap kearifan lokal di masing-masing daerah. Saling membenci bukanlah ekspresi yang baik. 

Kebencian hanyalah akan melahirkan kebencian baru, kebencian baru dan kebencian baru. Apakah kita sesama manusia akan terus hidup saling membenci? Apakah kita merasa paling benar sampai akhirnya harus selalu melihat orang lain sebagai pihak yang salah?

Saatnya saling menerima, berdampingan satu dengan lain. Keragaman yang terjadi di Indonesia merupakan keniscayaan. Keragaman yang ada ini merupakan anugerah yang harus dijaga. Karena itulah, dasar negara Indonesia menggunakan Pancasila, yang bisa merangkul semua keragaman tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun