Akhmad Mukhlis
Akhmad Mukhlis Pelajar Psikologi

4ic meng-Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Perilaku Berbohong, Tanda Anak Mengembangkan Kecerdasannya

14 Maret 2018   08:04 Diperbarui: 14 Maret 2018   12:45 1314 9 2
Perilaku Berbohong, Tanda Anak Mengembangkan Kecerdasannya
Ilustrasi gambar diambil dari fabic.com

Tidak ada satu pun manusia suka mendapatkan kebohongan. Entah itu terkait hal sepele ataupun serius. Semua budaya, agama dan bangunan moral lainnya menempatkan bohong sebagai musuh utama meraka. Setiap masyarakat memiliki kisah, dongeng sampai mitos sendiri untuk membentengi bangunan moral dari gerogotan kebohongan. Lihat saja kisah para Nabi, dongeng Pinokio, dan juga penggembala serta serigala, kesemuanya mendidik generasi manusia untuk menjauhi perilaku bohong.

Tapi penelitian menunjukkan hal yang lain tentang berbohong. Dalam beberapa hal, berbohong dianggap sebagai indikator valid untuk melihat kecerdasan pada anak. Studi ilmiah telah menemukan bahwa manusia mulai berbohong saat usia mereka 2 tahun.

Ilmuan psikologi Michael Lewis telah melakukan penelitian jangka panjang terkait perilaku berbohong anak pada tahun 1980-an. Eksperimen dilakukan dengan menempatkan anak pada ruangan di mana terdapat mainan yang disembunyikan dalam ruangan tersebut. Perintahya sederhana, anak-anak diminta untuk tidak mengintip mainan tersebut saat peneliti keluar dari ruangan. Beberapa menit kemudian, peneliti kembali dalam ruangan dan bertanya apakah mereka mengintip mainan tersebut?

Terdapat dua temuan yang konsisten dari percobaan tersebut. Pertama, sebagian besar anak-anak melanggar perintah dan mengintip mainan tersebut saat mereka sendiri dalam ruangan. Kedua adalah sebagian besar dari anak yang melanggar berbohong atas pelanggarannya. Rentang usia anak yang berbohong dalam penelitian tersebut adalah anak berusia 2, 3 dan 4 tahun. Terlepas dari jenis kelamin, ras dan agama (orang tua) mereka.

Penelitian lain dipublikasikan di Jurnal Child Development tahun 2008 oleh Victoria Talwar dan Kang Lee sampai menyebutkan bahwa anak-anak yang berbohong pada usia 2,3 dan 4 tahun perlu dirayakan oleh orang tuanya. Alasannya?

Berbohong dan potensinya bagi anak

Menurut serangkaian penelitian, berbohong merupakan salah satu indikator yang baik bagi potensi kecerdasan anak usia dini. Penelitian di atas menyebutkan bahwa anak-anak yang berbohong memiliki skor IQ verbal lebih baik 10 poin dibandingkan dengan anak-anak yang tidak berbohong. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa dengan berbohong, anak-anak menunjukkan potensi yang kuat dalam excecutive functioning skill (EFS) dan theory of mind (TM). EFS merupakan kemampuan yang memungkinkan anak dapat menahan dorongan dan tetap fokus pada sebuah (tugas) tindakan, sedangkan TM merupakan untuk melihat dunia dari perspektif orang lain.

Berbohong merupakan tindakan sengaja membuat pernyataan salah dengan maksud untuk menanamkan kepercayaan salah ke dalam pikiran penerima pernyataan tersebut. Untuk sukses berbohong, seseorang harus dapat memiliki penilaian yang tepat atas keadaan mental mereka sendiri dan keadaan mental penerima (misalnya, apakah penerima tidak tahu tentang keadaan sebenarnya yang diketahui oleh para pembohong itu sendiri). 

Setalah itu, pembohong juga harus membuat dan menghasilkan pernyataan palsu yang berbeda dari kepercayaan sejati mereka tentang keadaan. Pembuatan pernyataan palsu harus disusun dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Inilah susahnya berbohong. Mengapa susah, karena dengan berbohong kita dituntut untuk konsisten pada perilaku dan pernyataan yang salah sembari menyembunyikan perilaku dan pernyataan yang sebenarnya.

Jadi, dengan memeriksa perilaku bohong pada anak-anak, kita dapat memperoleh wawasan penting tentang bagaimana anak belajar menggunakan teori pikiran mereka dalam situasi kehidupan sehari-hari untuk tujuan adaptif (atau maladaptif). Keterangan di atas menggambarkan bahwa berbohong pada usia dini sangatlah baik bagi perkembangan kognitif mereka.

Apakah berbohong mengkhawatirkan?

Temuan-temuan tersebut ibarat sebuah paradoks bagi kebanyakan orang tua. Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi manusia jujur, namun bukti empiris menunjukkan bahwa berbohong memiliki manfaat bagi perkembangan kognitif mereka. Kejujuran dibutuhkan anak-anak bukan hanya bagi bangunan moral mereka, namun juga dalam kasus-kasus khusus seperti kasus kriminal dan pelecehan seksual. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memastikan perilaku berbohong tersebut tidak bertahan sampai tahapan usia selanjutnya?

Sudah sejak lama, psikologi menyepakati penguat perilaku positif daripada hukuman untuk mengubah perilaku ke arah yang lebih positif. Salah satunya adalah melatih anak-anak kita untuk berkomitmen, bahasa orang dewasa adalah melatih menepati janji. Psikolog Angela Evans menemukan bahwa anak-anak cenderung tidak mengintip mainan (saat eksperimen dilakukan) jika sebelumnya mereka diajak untuk bersepakat tidak melakukan hal tersebut. 

Ini aneh, mengingat anak usia dini belum mampu memahami istilah "janji". Itu artinya anak usia dini mampu memahami pentngnya menjaga komitmen yang telah dibangun. Temuan tersebut membuka perspektif baru bagi kita semua bahwa pada usia dini, pesan kebaikan yang menanamkan manfaat perilaku jujur lebih bermanfaat daripada memberikan pesan ancaman berupa akibat buruk sebuah kebohongan.

Bagaimana bila tidak?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika anak kita tidak melewati fase berbohong pada tahapan anak usia dini? Talwar dan kolegannya menyebut bahwa fungsi eksekutif dan teori pikiran dapat saja dilatihkan dengan stimulasi yang lain. Misalnya lewat permainan interaktif dan bermain peran. 

Dengan bermain peran misalnya, anak-anak diajarkan untuk meninggalkan identitas aslinya sementara. Hal tersebut memberikan kesempatan pada mereka untuk menjalankan teori pikiran, yaitu melihat dunia dari perspektif orang lain (peran). Artinya, jangan kaget jika anak kita pada usia dini (sampai 6 tahun) mulai bisa berbohong, justru kita harus merayakannya. Namun, berbohong bukanlah satu-satunya jalan untuk meningkatkan kapasitas intelektual anak.