Mohon tunggu...
Akhmad Reza
Akhmad Reza Mohon Tunggu... Pegawai Swasta

"Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya," Imam Ali ra

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cikeusik, ISIS dan Banalitas Pemahaman Agama

10 Februari 2015   23:25 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:28 199 10 14 Mohon Tunggu...

Sepintas dengan agak mengernyitkan dahi, apa hubungannya antara Cikeusik dengan ISIS ? Keduanya berada di lokasi yang sangat jauh ? Yang satu terletak di Pandeglang Banten, sementara yang terakhir disebut berada di Timur Tengah, tepatnya di antara Syiria dan Irak.

Secara jarak, memang di antara keduanya terpaut jauh. Namun, justru ada kesamaan yang mendekatkan mereka. Di Cikeusik, empat tahun lalu, tepatnya 6 Februari 2011, 3 anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) harus tewas menggenaskan dikarenakan keyakinan mereka. Jenazah mereka ditelanjangi dan diperlakukan tidak manusiawi. Sekali lagi, ini dikarenakan keyakinan mereka yang dianggap berbeda dengan mayoritas.

Lalu ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok ini tak segan-segan membunuh rakyat tak berdosa yang berbeda pemahaman dengan mereka. Ribuan rakyat dibunuh secara brutal dan jauh dari perikemanusiaan. Ironisnya, mereka tidak pernah tebang pilih. Jangankan kepada yang berbeda keyakinan, sesama muslim yang tidak mendukung gerakan mereka menemui nasib yang sama. Baik pelaku penyerangan terhadap anggota JAI di Cikeusik atau gerakan ISIS akhir-akhir ini menisbahkan tindakannya pada sebuah penafsiran. Penafsiran yang menurut mereka merupakan satu-satunya kebenaran. Sementara, pihak lain di luar kelompok mereka adalah salah dan layak dimusnahkan dari muka bumi.

Jika sudah begini, menjelmalah agama menjadi bencana. Dalam bukunya “When Religion become evil” karya Charles Kimball mengonfirmasi hal ini. Agama yang semestinya menciptakan manusia-manusia malaikat malah menciptakan manusia buas yang melebihi kebuasan binatang.

“whatever religious people may say about their love of God or the mandates of their religion, when their behavior toward others is violent and destructive, when it causes suffering among their neighbors, you can be sure the religion has corrupted and reform desperately needed..”

Jika agama yang diharapkan sebagai “obor moral” yang meng-guide perilaku manusia sudah tidak bisa diharapkan, kemana kita harus bersandar ? Sebagian pihak mengagungkan nalar. Katanya semakin rasional nalar seseorang maka semakin terkendali lah sikapnya. Namun tesis ini tidak sepenuhnya benar. Donald B.Calne dalam bukunya “Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia” membantah hal tersebut. Menurutnya, Nalar hanyalah piranti semata, selayaknya panca indera manusia. Nalar tidak berperan dalam menentukan kebajikan atau tujuan manusia. Dia bebas nilai dan tidak memiliki muatan moral. Itulah mengapa, kaum cendekiawan Jerman yang bernalar pun, misalnya berbondong-bondong mendukung Nazi Jerman.

Dus, mau tidak mau kita harus kembali pada agama. Bagaimana agama yang mengajarkan kedamaian bisa melahirkan orang-orang yang justru anti perdamaian ? Bagaimana menjelaskan perilaku para penyerang JAI di Cikeusik ? Atau bagaimana menjelaskan pihak ISIS yang membakar hidup-hidup Muath Kassesbeh, pilot Yordania yang notabene masih sesama muslim ?

Ketika membicarakan Islam. Tolok ukur atau standard yang mesti kita pakai tentu adalah Pembawa ajaran Islam sendiri, Yaitu Rasulullah Saw. Bagaimana perilaku Sang Nabi Saw sebagai pembawa panji Islam ? Apakah Rasulullah Saw adalah sosok yang penuh kebencian, pendendam atau haus darah ? Bagaimana Beliau Saw merespon penghinaan atau ejekan yang dialamatkan pada dirinya ? Sejatinya tidak hanya Nabi Muhammad Saw, semua Nabi atau Rasul yang datang ke dunia ini tidak lepas dari ejeken, penghinaan, bahkan upaya pembunuhan. Contohnya dapat kita nukil dari riwayat Beliau Saw.

Syahdan, ketika Nabi Muhammad Saw berada di Thaif. Beliau tidak hanya dicaci dan dihina, malahan diusir dan dilempari batu. Darah mengucur dari kepala hingga ujung kaki. Melihat kondisi Nabi, Jibril as menghampiri Nabi dan menawarkan untuk menimpakan gunung kepada para penganiaya yang kejam tersebut. Alih-alih menyetujui usulan Jibril, Nabi justru mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan keturunannya dikaruniai nikmat Islam. Sejarah mencatat, kesabaran dan kebijakan Nabi itu justru berhasil membuat budak Nasrani bernama Addas terkesima dan akhirnya masuk Islam. Dan penduduk Thaif yang bermaksud untuk menghabisi nyawa Rasulullah Saw, mereka pula telah menjadi orang-orang yang sangat mencintai Beliau Saw.

Cerita lain yang sering kita dengar adalah seorang wanita yang setiap hari melempari kotoran unta ketika Beliau Saw berjalan di lorong kota Mekkah. Pada suatu hari, wanita tersebut tidak nampak seperti biasanya. Rasulullah Saw bertanya ke mana si fulan ? Dari orang-orang sekitar diketahui bahwa si fulan sedang sakit. Rasulullah Saw-lah orang pertama yang menjenguk si fulan. Sikap buruk wanita itu tidak menyurutkan Beliau Saw untuk menunjukkan akhlaknya yang tinggi.

Contoh lain yang begitu menarik adalah ketika “Futuh Mekkah” atau jatuhnya Mekkah ke genggaman kaum muslimin. Ketika itu, jika Rasulullah Saw mau, Beliau Saw bisa saja menyuruh pasukannya untuk menumpahkan darah pembunuh keji, penghina, dan tokoh-tokoh yang selama ini sangat menyulitkan Rasulullah Saw dan pengikutnya. Mungkin sejarah akan memahami apabila Beliau Saw melakukan hal demikian, karena perlakuan kaum Qurays sungguh sudah di luar kemanusiaan. Tapi justru kita tahu dari catatan sejarah, Nabi Saw melakukan pengampunan untuk musuh-musuhnya. Semua perbuatan mereka dimaafkan, kecuali beberapa orang saja yang sudah keterlaluan degilnya

Pengampunan massal yang dilakukan Nabi Saw tidak diketemukan pretensinya dalam sejarah. Sebaliknya melalui catatan sejarah kita belajar, banyak tokoh yang gagal meredam amarahnya ketika sudah berada di tampuk kekuasaan. Vendetta atau balas dendam adalah hal lumrah jika kekuasaan sudah digenggaman.

Contoh dari Rasulullah Saw sungguh tidak kita temukan dalam perilaku Al-Qaida, Taliban atau ISIS sekarang ini. Perilaku mereka ibarat “jauh panggang dari api.” Sungguh ironis, jika mereka senantiasa mengkampanyekan bahwa tindakan terror yang mereka lakukan adalah sebagai upaya pembelaan terhadap Islam. Secara tegas kita sebagai umat Islam mesti mengatakan bahwa mereka adalah “duri dalam daging” yang justru menciderai ajaran Islam dan melecehkan sosok Rasulullah Saw. Apa yang mereka pertontokan tak lebih dari banalitas (kedangkalan) dalam pemahaman agama.

Pemerhati masalah sosial keagamaan tinggal di Bandung.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x