Akbar Zainudin
Akbar Zainudin wiraswasta

Trainer Motivasi, Manajemen dan Kewirausahaan. Penulis Buku "Man Jadda Wajada". BUKU BARU: "UKTUB: Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 Hari". Ngobrol bisa di Twitter: @akbarzainudin atau www.manjaddawajada.biz

Selanjutnya

Tutup

Bisnis headline

Geliat Industri Gerabah di Banyumulek Lombok

12 Juni 2012   21:43 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:03 5596 3 5
Geliat Industri Gerabah di Banyumulek Lombok
1339535182403250411

[caption id="attachment_187624" align="aligncenter" width="532" caption="Kreasi Gerabah Banyumulek Lombok"][/caption]

Desa Banyumulek adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Kediri kabupaten Lombok Barat. Luas daerahnya 4, 21 ha dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 jiwa yang 80 % adalah perajin gerabah. Sepanjang perjalanan menuju Desa Banyumulek, di sebelah kiri dan kanan jalan, yang terbentang adalah art shop, toko-toko yang memajang berbagai jenis gerabah untuk dijual kepada para pengunjung.

Ya, desa ini memang desa gerabah. Keterampilan membuat gerabah di desa ini didapatkan secara turun temurun. Para pengrajin senior menurunkan bakat dan keterampilan membuat gerabah kepada generasi muda yang menjadi seniornya. Begitulah hingga sekarang ini, tua muda di desa Banyumulek mempunyai keterampilan pembuatan gerabah.

Pada awalnya, gerabah ini digunakan sebagai bahan rumah tangga biasa, untuk pot ataupun vas bunga, dan berbagai hiasan rumah. Lambat laun, seiring dengan perkembangan dan gaya hidup, gerabahpun dibuat dengan berbagai desain menawan yang mempunyai fungsi sebagai bagian dari gaya hidup.

Proses pembuatan gerabah sendiri melalui beberapa tahapan. Bahan baku utama dari gerabah adalah tanah liat, dan juga pasir sebagai campuran. Selain bahan utama, diperlukan pula bahan-bahan pendukung untuk pembakaran, yaitu jerami, sampah kering, kayu, dan sabut kelapa. Sedangkan untuk pewarnaan alami, menggunakan dedak dan air kulit biji asam.

[caption id="attachment_187625" align="aligncenter" width="532" caption="Bahan Baku Tanah Liat Dihancurkan dan Dikeringkan"]

13395353181225315195
13395353181225315195
[/caption]

Langkah pertama dalam proses pembuatan keramik adalah pengolahan tanah. Tanah liat dijemur sampai kering, sekitar 3 hari di bawah sinar matahari. Tanah yang sudah kering kemudian dihancurkan dan disaring. Tanah yang sudah disaring ini kemudian direndam ke dalam bak sampai terbentuk endapan tanah di dasar bak. Nah, endapan tanah inilah yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan keramik, setelah air yang berada di atasnya dibuang. Tanah ini kemudian dicampur dengan pasir dengan perbandingan 2 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian pasir, lalu diaduk hingga rata. Adonan yang sudah jadi disimpan di tempat yang sejuk dan ditutup dengan karung plastik, lalu diambil sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.

[caption id="attachment_187626" align="aligncenter" width="532" caption="Tanah Dimasukkan ke Dalam Air"]

1339535422770132739
1339535422770132739
[/caption] [caption id="attachment_187628" align="aligncenter" width="532" caption="Disaring, Dicampur Pasir, Disimpan di Karung Plastik"]
1339535504236992931
1339535504236992931
[/caption]

Langkah kedua adalah proses pembentukan. Adonan yang sudah disimpan diambil seperlunya dan ditaruh di atas alat putar untuk dibentuk sesuai dengan keinginan. Adonan yang sudah dibentuk lalu diangin-anginkan dan tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung, selama kurang lebih 2 hari.

[caption id="attachment_187629" align="aligncenter" width="532" caption="Mulai Membentuk dari Adonan Yang Sudah Tersedia"]

1339535632572410917
1339535632572410917
[/caption]

[caption id="attachment_187630" align="aligncenter" width="532" caption="Dibentuk Sesuai Keinginan"]

13395357131098191817
13395357131098191817
[/caption]

Adonan yang sudah dibentuk ini kemudian dioles dengan cairan yang terbuat dari campuran tanah liat yang halus dan minyak kelapa. Produk setengah jadi ini lalu digosok dengan batu halus atau botol kecil agar mengkilat, lalu disikat agar kilatnya meratas. Setelah terlihat kilat pada produk cukup merata, produk ini lalu dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.

[caption id="attachment_187631" align="aligncenter" width="355" caption="Produk Yang Sudah Terbentuk Dihaluskan"]

13395357881358279391
13395357881358279391
[/caption]

[caption id="attachment_187632" align="aligncenter" width="532" caption="Dianginkan Sampai Kering selama 1-2 Minggu"]

1339535879698478811
1339535879698478811
[/caption] [caption id="attachment_187633" align="aligncenter" width="532" caption="Dijemur 2 hari di bawah sinar Matahari"]
13395362841248000452
13395362841248000452
[/caption]

Proses selanjutnya adalah pembakaran. Produk yang sudah dijemur hingga kering lalu ditata rapih di tempat pembakaran. Gerabah yang sudah kering diletakkan di atas jaring-jaring besi yang sudah dianyam dan disangga dengan batu bata. Di bawah jaring itu diletakkan kayu bakar untuk pembakaran. Di sela-sela produk dan dan bagian atas ditutup dengan jerami atau sampah kering.

[caption id="attachment_187634" align="aligncenter" width="532" caption="Menyiapkan Pembakaran"]

13395363631214593080
13395363631214593080
[/caption]

[caption id="attachment_187635" align="aligncenter" width="532" caption="Ditata Sebelum Dibakar"]

13395364251451009629
13395364251451009629
[/caption]

Mulailah proses pembakaran gerabah. Gerabah dibakar selama kurang lebih 2 jam. Untuk mengetahui apakah gerabah sudah matang atau belum, bisa dilihat dengan tanda warna gerabah menjadi merah. Api dibiarkan mati dengan sendirinya, lalu gerabah diangkat dari tempat pembakaran.

[caption id="attachment_187636" align="aligncenter" width="532" caption="Dibakar selama 2 jam"]

1339536486730443942
1339536486730443942
[/caption]

Proses terakhir pembuatan gerabah adalah proses pewarnaan. Menariknya, proses pewarnaan di desa gerabah ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan dari alam. Jika menginginkan warna hitam polos, maka setelah pembakaran, gerabah dilumuri dedak secara merata. Setelah dedak dibersihkan, maka keramikpun akan menjadi hitam. Sedangkan untuk warna belang kecoklatan, pewarnaan menggunakan air kulit biji asam. Prosesnya sama, gerabah yang sudah dibakar dilumuri dengan air kulit biji asam selama beberapa saat. Setelah itu, gerabahpun akan berubah warna menjadi belang kecoklatan.

[caption id="attachment_187637" align="aligncenter" width="532" caption="Hasil Setelah Dibakar"]

1339536574277973194
1339536574277973194
[/caption]

Setelah warna dasar terpenuhi, langkah terakhir adalah finishing. Gerabah sebagai bahan dasar sangat mungkin dikombinasikan dengan berbagai bahan lainnya seperti kaca, batok kelapa, pecahan kulit telur, anyaman, dan berbagai bahan lain sesuai dengan kreativitas dan kebutuhan. Motif yang dilekatkan pada gerabah juga bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan pesanan pembeli. Untuk membuat berbagai motif ini, dilakukan melalui proses pengecatan.

[caption id="attachment_187638" align="aligncenter" width="532" caption="Hasil Akhir"]

13395366502079197774
13395366502079197774
[/caption]

Walaupun para pengrajin di desa Banyumulek ini terus memproduksi gerabah setiap hari, dan penjualan terutama untuk ekspor meningkat, tetapi dari sisi keuntungan yang lebih banyak mendapatkan justru dari para pedagang dan pengumpul, yang sebagian besar berasal dari Bali.

[caption id="attachment_187639" align="aligncenter" width="532" caption="Gerabah Siap Dijual"]

13395367001415288151
13395367001415288151
[/caption]

Gerabah yang dibuat oleh para pengrajin di Desa Banyumulek Lombok ini dipesan secara “mentah” dengan harga murah oleh para pengusaha di Bali. Pengusaha di Bali inilah yang kemudian melakukan finishing akhir, memberikan sentuhan desain, dan menjualnya kepada para pembeli di luar negeri dengan harga mahal.

[caption id="attachment_187640" align="aligncenter" width="355" caption="Gerabah Siap Dijual"]

133953674989135849
133953674989135849
[/caption]

Pada akhirnya, walaupun nilai ekspor ke luar negeri dari gerabah ini setiap tahun mengalami kenaikan, tetapi yang menikmati kenaikan harganya bukanlah para pengrajin, tetapi para pedagang dan pengusaha di Bali yang berhasil memberi nilai tambah yang tinggi terhadap hasil kerja para pengrajin Lombok ini.

[caption id="attachment_187641" align="aligncenter" width="355" caption="Kombinasi dengan Hiasan Kulit Telur"]

13395368001194752571
13395368001194752571
[/caption]

Apa yang terjadi pada para pengrajin gerabah di Banyumulek ini merupakan pelajaran berharga, bahwa “merek” mempunyai peran yang sangat penting dalam penjualan produk. Produk gerabah yang dijual mentah tanpa merek dihargai murah, dan produk harga murah ini setelah diberikan nilai tambah berupa desain dan aksesori lain, ditambah lagi dengan tempelan merek pada produknya, bisa mengubah harganya menjadi sangat mahal.

[caption id="attachment_187642" align="aligncenter" width="532" caption="Kombinasi dengan Kaca"]

133953684835736334
133953684835736334
[/caption]

Hal kedua yang juga menjadi pelajaran adalah, setiap produk akan dihargai sama dengan yang lainnya jika tidak mempunyai kelebihan di mata konsumen. Kelebihan inilah yang disebut sebagai nilai tambah suatu produk. Jika produk tidak mempunyai nilai tambah, maka konsumen tidak mau membayar dengan harga lebih mahal.

[caption id="attachment_187643" align="aligncenter" width="532" caption="Dipajang di Art Shop"]

1339536904947739645
1339536904947739645
[/caption]

Apa yang dilakukan oleh para pengrajin di Bali dengan memberikan nilai tambah berupa desain dan juga merek yang dicantumkan pada produk. Pada akhirnya, para pembeli, yang kebanyakan dari luar negeri lebih mau membeli produk gerabah bikinan pengrajin Lombok dari para pengusaha di Bali dibandingkan dengan membeli langsung dari para pengrajin. Para pembeli ini lebih percaya diri dan juga lebih nyaman membeli dari para pengusaha di Bali karena bisa jadi lebih percaya dengan merek dan kualitas yang ditawarkan.

[caption id="attachment_187644" align="aligncenter" width="532" caption="Salah Satu ArtShop di Banyumulek Lombok"]

1339536951198095066
1339536951198095066
[/caption]

Nampaknya, perlu ada perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan yang ada di Kabupaten Lombok Barat khususnya, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Pusat pada umumnya. Perlu ada langkah-langkah serius agar kepentingan perajin ini bisa dilindungi. Jangan sampai produk mereka setiap tahun diekspor ke luar negeri, tetapi yang menikmati justru bukan mereka sendiri.

Apa yang bisa dilakukan? Pertama, tentu saja adalah strategi pengembangan produk. Mulai dengan inovasi pada teknologi dan desain, dan juga bagaimana menciptakan produk-produk yang bisa dikemas sebagai souvenir. Dengan demikian, setiap wisawatan baik domestic maupun manca Negara, saat datang ke desa wisata Banyumulek, selalu tergoda untuk mau tidak mau membeli souvenir dari art shop di sana.

Kedua, perlu ada pola pemasaran bersama, yang dilakukan oleh kelompok perajin ataupun koperasi yang sudah ada, sehingga kepentingan para perajin bisa terlindungi. Dengan program pemasaran bersama, rantai distribusi kepada konsumen bisa lebih dipangkas dan efisien.

Anda mencari gerabah yang unik khas Lombok? Jangan lupa mampir ke desa gerabah Banyumulek.

Salam Man Jadda Wajada, BISA!

AKBAR ZAINUDIN

  • Email: akbar.zainudin@gmail.com
  • FB: Akbar Zainudin
  • Twitter: @akbarzainudin

Penulis buku-buku motivasi:

  1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010, Cetakan ke-9)
  2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011, Cetakan ke-3)
  3. 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (Bandung: Mizania, 2011, Cetakan ke-2)
  4. Hasanah Dunia Akhirat (Bandung: Mizania, 2012, Cetakan ke-1)