Mohon tunggu...
Muhammad Akbar Maulana
Muhammad Akbar Maulana Mohon Tunggu... Editor - Digital Creator

---------

Selanjutnya

Tutup

Gadget

Pakar: Indonesia Bisa Jadi Panutan dalam Mengatasi Tantangan di Era Hoaks

18 Oktober 2019   21:22 Diperbarui: 20 Oktober 2019   18:03 35
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sementara Dr. Janet Steele, yang telah mempelajari Indonesia selama lebih dari 20 tahun, mengatakan situasi buzzer di Indonesia tidak "secara unik mengkhawatirkan."

Studi baru dari Universitas Oxford dan Oxford Internet Institute mencatat Indonesia sebagai negara dengan kapasitas cybertroops yang rendah -- aktif selama pemilu, tapi tidak beraktivitas hingga siklus pemilu berikutnya.

Dr. Steele mengungkapkan keheranannya bahwa studi berjudul "The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation" itu mendapat perhatian besar di Indonesia, terutama dari kalangan media, padahal contoh kasus di Indonesia hanyalah sangat kecil dibanding negara-negara lainnya.

"Hal ini terjadi di seluruh dunia, dan ini sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi saya pikir ini bukan hal yang secara unik mengkhawatirkan di Indonesia," ujarnya. "Saya sangat terkesan dengan usaha kantor berita melawan hoax dan disinformasi."

Steele memuji upaya cek fakta yang dilakukan lewat kolaborasi berbagai media di Indonesia.

"Saya pikir sangat bagus ketika hoaxbuster dilakukan oleh kantor berita swasta. Yang kita tidak inginkan adalah pemerintah terlibat dalam menentukan sesuatu sebagai dinsinformasi hanya karena mereka tidak menyukai isinya," kata Steele.

Bagaimana dengan peran pemerintah?

Sesi diskusi ini juga membahas bagaimana pemerintah di seluruh dunia membatasi kebebasan pers dan kebebasan berpendapat baik online maupun offline dengan alasan memberantas berita bohong atau ide ekstrem.

"Contohnya, pada 2018 ada sekitar 292 kasus penistaan, ujaran kebencian, dan konten seksual di media sosial. Menurut saya, hal ini membantu buzzer media sosial, karena orang-orang takut menyuarakan opini mereka di media sosial," kata Irwan Saputra dari Dompet Dhuafa USA.

img-20191017-wa0006-5dac3ee80d8230535a1034a2.jpg
img-20191017-wa0006-5dac3ee80d8230535a1034a2.jpg
"Jadi cara paling aman untuk menyuarakan opini mereka adalah dengan retweet atau sharing apa yang para buzzer sampaikan di media sosial," tambah Irwan.

Sementara Steele mengatakan hal serupa sudah terlihat sejak Orde Baru saat pemerintah melarang artikel berbau SARA untuk meredam 'rumor.'

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun