Mohon tunggu...
Akbar Faizal
Akbar Faizal Mohon Tunggu... Konsultan - Politisi

Ayah dari tiga anak hebat, suami dari seorang istri yang tangguh dan anak dari seorang veteran TNI yang tak pernah menyerah pada seluruh tugas tempurnya.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pichacao, Grafiti di Sepanjang Rio de Janeiro

16 Agustus 2019   12:02 Diperbarui: 16 Agustus 2019   17:45 119
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi pribadi

Pesan Dubes Eddy Yusuf, orang Bandung yang menyelesaikan fakultas ekonomi di Unhas kepada anggota rombongan kami agar menghindari daerah-daerah tertentu apalagi jika berniat berjalan sendiri. Banyak kisah tentang perampokan terbuka di siang hari. Arloji mahal istri seorang pejabat tinggi dari Jakarta dirampok secara terbuka di siang hari meski sasaran utamanya adalah tas yang berhasil dipertahankannya.

Rio adalah kisah tentang sebuah kota yang sangat keras. Kisah kehidupan di Favela ---perkampungan kumuh miskin yang tersebar di pinggir kota terutama di perbukitan sekitar kota Rio--- yang brutal selalu menarik untuk dibaca dan menjadi ciri khas Rio. Puluhan Favela yang bertumbuh mengepung Rio bahkan sejak tahun 1800 menyempurnakan penderitaan Kota ini.

Favela adalah sarang penjahat yang melakukan berbagai kejahatan dari narkoba, perdagangan seks hingga pembunuhan. Perang antar geng atau antara polisi dan geng kerap terjadi. Beberapa Favela besar seperti Rocinha, Alemao, Vidigal atau Parada de Lucas dikenal sebagai daerah yang seakan tak tersentuh hukum.

Warga Favela biasanya datang dari negara bagian miskin semisal Piaui atau Ceara di bagian timur Brasil yang datang untuk mencari penghidupan yang lebih layak di Rio. Favela dengan karakter yang sama juga ada di kota-kota besar lainnya selain Rio khususnya Sao Paulo atau Belo Horizonte.

Kembali ke soal grafiti, pemerintah kota hingga federal Brasil pusing dengan situasi ini. Tak ada yang tahu pasti kapan vandalism ala Rio ini mulai terjadi. Beberapa mahasiswa magister dan doktoral dari berbagai universitas di Brasil secara khusus meneliti soal ini. Namun tak ada yang bisa memastikan kapan perilaku vandalism ini mulai terjadi. Begitu mengganggunya perilaku vandalism ini sehingga setiap negara bagian memiliki UU yang melarang aksi coret-coret ini (Patrimonio Publica).

Lucunya, semakin keras pemerintah setempat melarang semakin riuh pula kota oleh coretan. Para pelaku merasa tertantang dan berani mengambil risiko. Tapi tampaknya pelarangan ini tak akan berdampak banyak sebab secara hukum pelaku yang tertangkap tangan melakukan aksi yang mereka lakukan saat malam dan dini hari hanya dicatat identitasnya lalu dilepaskan.

Pemerintah kota bahkan membuat larangan penjualan cat atau pilox kepada anak-anak dibawah umur sebagai langkah pencegahan perilaku vandalism usia dini. Diyakini banyak pihak bahwa grafiti-grafiti ini dilakukan secara terorganisasi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok memiliki identitas sendiri-sendiri yang bisa diketahui dari model dan jenis gambar masing-masing.

Terdapat semacam kode etik tak tertulis diantara kelompok pencoret kota ini untuk tidak saling "merusak kehormatan". Jarang terjadi sebuah grafiti ditimpa gambar lain. Mereka yang ingin menggambar di tempat yang sama akan mencorat-coret di samping grafiti yang telah ada sebelumnya. Ini sekaligus memberi pesan kepada kelompok sebelumnya jika mereka juga mampu atau telah hadir di situ.

Yang mencengangkan persaingan antar kelompok ini untuk mencoreti atau menggambari dinding-dinding yang sangat sulit untuk dicapai. Dalam perjalanan dari bandara Internasional Rio de Janeiro ke pusat kota, saya awalnya memahami gambar-gambar dengan pola acak yang tertera di hampir semua dinding sepanjang perjalanan sebagai cap dari perusahaan yang mendirikan bangunan tersebut. Atau semacam gambar permanen pada lempengan keramik.

Tapi saya menjadi tak yakin sebab polanya tak konsisten. Sebuah hotel berlantai 15 tercoret grafiti dari bawah hingga ke dinding lantai paling atas. Dinding jembatan gantung yang membentang di atas sungai juga dipenuhi coretan grafiti khususnya pada bagian yang sulit seperti tiang penyangga kabel raksasa yang menjulang puluhan meter.

Saya bisa memastikan siapapun yang terjatuh ke dalam sungai di bawahnya akan sulit ditemukan dalam kondisi hidup. Semakin sulit lokasi coretan, semakin diburu untuk dicoreti. Ini juga sebagai isyarat bagi kelompok lainnya akan dominasi mereka. Beberapa pekan sebelum saya tiba di Rio media memberitakan seorang gadis tanggung tewas terjatuh dari ketinggian sebuah apartemen saat menggambar grafiti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun