Mohon tunggu...
Akbar Alvin Haq
Akbar Alvin Haq Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNSRI 2019

Semangat !!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Strategi Perang Clausewitz: Apakah Relevan di Zaman Nuklir?

3 Desember 2021   06:00 Diperbarui: 3 Desember 2021   06:41 145 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Carl von Clausewitz telah diteliti secara luas oleh para pakar berdedikasi selama 150 tahun dan diakui sebagai salah satu dari sedikit penulis perang yang benar-benar hebat. Pada tahun-tahun terakhir, banyak aspek dari gagasan dan konsepnya telah menerima banyak perhatian dan terus tetap relevan, dan sering digunakan dalam proses pendidikan doktrin dan militer dan sipil saat ini. Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah menganalisis aspek-aspek teoretis terpenting tentang perang dan strategi yang dipaparkan oleh Clausewitz, yang beberapa di antaranya telah memberikan sumbangsih yang bertahan lama kepada cara berpikir modern dan masih relevan bagi para ahli strategi masa kini. Tiga pokok kunci akan digunakan untuk mendukung argumen ini. Poin pertama adalah kutipan tradisional pemikirannya: di satu sisi, "perang adalah perpanjangan kebijakan;" di sisi lain," perang adalah tindakan kekuatan yang memaksa musuh kita untuk bertindak sesuai dengan keinginan kita." Poin kedua adalah melawan dia sifat perang berhubungan dengan analisis teori tritunggal. Poin terakhir menyangkut pemahamannya tentang sifat strategi

Secara historis, serta dalam dunia modern dan masa depan, teori-teori perang Clausewitz menyediakan hukum ilmiah yang dengannya seseorang dapat memahami sifat perang. Clausewitz membahas sifat - sifat moral yang wajib dimiliki militer di tempat lain, dan menyimpulkan, "tidak soal seberapa jelas kita melihat warga negara dan tentara dalam satu pihak … bisnis perang akan selalu bersifat pribadi dan terpisah. Jadi para prajurit akan melihat diri mereka sebagai anggota dari semacam serikat kerja (Čajić, 2016).

Teori strategi, sekali lagi, dapat menghadapi kompleksitas tingkat tinggi sehingga akan melemahkan usahanya untuk membuat masa lalu dapat dipahami dan masa depan dapat diprediksi.. Alih-alih teori, "kepekaan terhadap penilaian" seseorang lebih atau kurang yang menuntun tindakan. Si jenius Clausewitz adalah memprediksi perubahan dalam konstitusi sosial politik masyarakat. Ini menyediakan politik dengan infrastruktur naratif yang memungkinkan pernyataan kebenaran dibuat dan ditantang. Ahli strategi itu mewakili karakter baru, cara baru untuk menjalankan kekuasaan, yang melengkapi kekuasaan sang penguasa dan kontrak sosial. Menurut Clausewitz, elemen yang menentukan adalah strategi untuk membangun ruang bermusyawarah dan perundingan politik, di mana pihak-pihak yang berbeda berebut makna dan kepentingan yang saling bertentangan. Secara kiasan, strategi itu menggambarkan kelanjutan machiavellianisme dengan sarana lain; Ini bukan pangeran yang memaksakan kehendaknya pada bawahannya, tetapi institusi perang dan rasionalitas strategis yang memungkinkan perhitungan dan keseimbangan kepentingan, serta pertukaran dan perdagangan yang menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan. Perlunya strategi muncul dari beberapa suara bersaing untuk penantinya haluan tindakan. Dalam situasi seperti itu, strategi ini menawarkan diri sebagai alat narasi yang di dalamnya para penulis berupaya menegaskan wewenang mereka (Kornberger, 2013)

Perang memperebutkan tempat tidak identik dengan absurditas barbarisme dan kepekaan. Studi ini menunjukkan bahwa perang menurut Clausewitz hanyalah  alat  politik (tujuan nasional suatu negara). Perang bukanlah  tujuan tetapi hanya alat  politik (kebijakan tujuan nasional) suatu negara. Perang itu sendiri adalah konstan karena prosedur alasan pertempuran strategi taktik skala atau bentuk beruah dari waktu ke waktu. Dengan demikian Clausewitz melihat bahwa perang bukan hanya tindakan politik tetapi instrumen politik yang nyata  kelanjutan dari perdagangan politik upaya untuk mencapai hal yang sama tetapi dengan jalan yang berbeda. Pandangan politik adalah tujuan perang adalah cara dan dalam pandangan Clausewitz cara harus selalu disertakan dalam tujuan. Studi ini juga menunjukkan bahwa dalam On War ditemukan sinergi yang erat antara filsafat dan pengalaman (Wahid, -)

Senjata nuklir perangkat yang dirancang untuk melepaskan energi secara eksplosif sebagai akbiat dari fusi nuklir fusi nuklir atau kominasi keduanya. Senjata termonuklir sering disebut sebagai bom atom. Senjata termonuklir juga dikenal sebagai bom termonuklir atau lebih umum bom hidrogen; Mereka umumnya didefinisikan seagai senjata nuklir  di mana sebagian energi dilepaskan oleh fusi nuklir. Senjata nuklir menghasilkan energi ledakan yang besar. Pentingnya mereka dapat lebih dihargai dengan menimbun kata kiloton (1.000 ton) dan megaton (1.000.000 ton) untuk menggambarkan energi ledakan mereka pada tonase yang setara dengan bahan kimia konvensional TNT. Misalnya bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima Jepang pada tahun 1945 hanya mengandung sekitar 64 kilogram uranium yang sangat kaya melepaskan energi yang setara dengan sekitar 15 kiloton ledakan kimia. Ledakan itu segera menciptakan gelombang kejut yang kuat panas yang luar iasa dan radiasi pengion yang mematikan. Arus konveksi yang diciptakan oleh ledakan membawa debu dan puing-puing lainnya ke udara menciptakan awan jamur yang sejak itu menjadi fitur virtual ledakan nuklir (Norris, 2021).

Nuklir diketahui memiliki efek destruktif yang terjadi tidak hanya ketika inti meledak tetapi juga  puluhan tahun kemudian dalam bentuk radiasi. Sayangnya pemahaman ini tidak menutup kemungkinan adanya niat suatu negara untuk memiliki senjata nuklir yang hampir seluruhnya membenarkannya sebagai sistem pertahanan diri. Saat ini sebenarnya terdapat perjanjian internasional  yang mengatur tentang energi nuklir seperti: Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (NPT) Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) Treaty on the Nuclear Weapons Free Zone in Asia Tenggara dan regional lainnya. Ketika Korea Utara memutuskan untuk meninggalkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir ketegangan global terkait dengan penggunaan senjata nuklir meningkat. Beberapa perjanjian internasional, termasuk NPT dan CTBT, melarang penggunaan senjata nuklir, tetapi tidak memuat ketentuan yang  secara khusus mengatur tentang ancaman penggunaan senjata nuklir. Selain tercakup dalam sejumlah perjanjian internasional, penggunaan senjata nuklir  melanggar beberapa aturan hukum humaniter internasional kebiasaan (HHIK) (Dani Budi Satria, -)

Ketika senjata nuklir meledak, bola api dibuat dengan suhu yang sama dengan yang di pusat matahari. Energi yang teremisi datang dalam berbagai bentuk. Sekitar 85% energi ledakan menghasilkan ledakan udara (dan shock) serta radiasi termal (panas). Sisanya 15% dilepaskan sebagai radiasi awal, yang dihasilkan dalam interval menit pertama, dan radiasi sisanya (atau ditunda), dipancarkan selama jangka waktu, beberapa mungkin dalam bentuk kejatuhan lokal. Ekspansi gas yang sangat panas pada tekanan yang sangat tinggi dalam bola api nuklir menciptakan gelombang kejut yang menyebarkan keluar pada kecepatan tinggi. Dampak merusak yang dikaitkan dengan kata "tekanan dinamis ", atau angin berkecepatan tinggi, disertai gelombang kejut. Fitur khusus dari ledakan nuklir adalah emisi radiasi nuklir, yang dapat dibagi menjadi radiasi awal dan radiasi residual. Radiasi awal, yang juga dikenal sebagai radiasi cepat, terdiri dari sinar gamma dan neutron yang dihasilkan dalam hitungan menit setelah terjadinya ledakan. (Cochran, 2021)

Dalam penjelasan mengenai strategi perang Clausewitz, di dunia modern dan masa depan, teori perang Clausewitz memberikan hukum ilmiah yang dengannya seseorang dapat memahami sifat perang. Teori strategi, sekali lagi, dapat menghadapi kompleksitas tingkat tinggi yang akan melemahkan upayanya untuk membuat masa lalu dapat dipahami dan masa depan dapat diprediksi, dengan ahli strategi  mewakili karakter baru, penggunaan kekuatan baru, yang melengkapi otoritas pemimpin dan kontrak sosial.  Faktor penentu, menurut Clausewitz,  adalah strategi  membangun ruang untuk musyawarah dan negosiasi politik di mana pihak-pihak yang berbeda bersaing untuk kepentingan dan makna  yang berlawanan secara diametral. Perang antariksa tidak identik dengan irasionalitas, barbarisme, dan kepekaan. Studi ini menunjukkan bahwa perang menurut Clausewitz hanyalah alat politik (tujuan nasional suatu negara). Perang bukanlah akhir tetapi hanya alat politik (national target policy) suatu negara. Perang itu sendiri adalah konstan karena prosedur, alasan, pertempuran, strategi, taktik, skala atau bentuk berubah dari waktu ke waktu. Di dalam zaman nuklir, ini menjadi sesuatu yang menimbulkan hubungan dari strategi Clausewitz ini dengan zaman nuklir. Dengan adanya pemmikiran dari Clausewitz ini, penggunaan nuklir ini akan teroganisir dengan baik, tidak menyalahgunakan nuklir, dan juga menjadikan nuklir sebagai alat yang dapat menciptakan perdamaian di seluruh dunia. Dan juga sudah terdapat perjanjian dan badan yang memantau pengembangan nuklir di tiap tiap negara, seperti Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (NPT) Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) Treaty on the Nuclear Weapons Free Zone in Asia Tenggara dan regional lainnya, dan juga badan nya yang seperti kita tahu adalah International Atomic Energy Agency ( IAEA ).

Menurut saya, dalam pandangan Clausewitz ini, sang jenius ini, karena sudah di zaman modern, beliau mengembangkan cara berperang dengan konsep damai. Jadi berperang di zaman modern tidak lagi dengan adanya unsur militer dengan menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian besar dimasa lalu, tetapi dengan cara melakukan negosiasi terhadap negara yang berselisih sehingga mencapai kesepakatan, dan bisa terwujud kepentingan tiap tiap negara yang berselisih. Dengan itu dunia akan damai, tak adanya pertumpahan darah di medan perang, tidak menimbulkan kerugian dan korban jiwa yang besar. Karena sejatinya untuk melakukan hal itu, perlu pengorbanan yang besar dan biaya yang tidak sedikit, tetapi jika dipikirkan lagi, untuk apa melakukan hal sebesar itu demi kepuasan nafsu negara untuk menghancurkan suatu negara dengan cara barbar. Makanya diterapkanlah pemikiran Clausewitz ini agar menjaga kestabilan negara ini, seimbang tak ada ketimpangan, menyelesaikan masalah dengan cara damai. Karena seperti yang kita tahu bahwa nuklir ini dipakai dengan niat yang buruk, maka dampak nya akan ke seluruh dunia, mulai dari ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan bahkan bisa membuat negara itu hancur jika terkena nuklir. Tetapi di zaman modern, dengan pengembangan teknologi dan informasi yang baik, pemanfaatan sumber daya alam dan juga manusia, seiring berjalannya waktu, dapat mencegah hal yang tidak diinginkan. Kita juga semua tahu bahwa sekarang sudah ada perjanjian Internasional dan juga badan atau institusi yang bertanggung jawab atas penggunaan nuklir di tiap tiap negara, dan juga memantau perkembangan nuklir yang berupaya digunakan untuk menciptakan perdamaian. Ini juga menjadi fokus dunia terkait negara yang tidak memiliki nuklir sangatlah khawatir, dan mungkin sekarang juga semua negara sedang repot dengan menyiapkan, membeli, ataupun membuat nuklir sebagai pertahanan dan keamanan negara nya, karena dalam pandangan realis, lebih memetingkan keamanan negara nya dan selalu merasa insecure terhadap negara lain. Tetapi sebenarnya kedamaian bisa terwujud jika semuanya menyelesaikan masalah dengan cara negosiasi, saling membicarakan apa yang menjadi masalah, dan juga bisa tiap negara ini beraliansi agar hubungan tiap negara semakin baik, tak adanya saling salah menyalahkan, yang ada saling membantu sesamai demi keamanan dunia.

DAFTAR PUSTAKA

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan