Mohon tunggu...
Rahmad Agus Koto
Rahmad Agus Koto Mohon Tunggu... Microbial cellulose expertise

Aku? Aku gak mau bilang aku bukan siapa siapa. Terlalu klise. Tidak besar, tapi aku punya pengaruh. Memberikan pengaruh kepada komunitas sosial dimanapun aku berada.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mengapa Prabowo 100% Pasti Menang?

15 April 2019   13:26 Diperbarui: 15 April 2019   13:27 0 29 36 Mohon Tunggu...
Mengapa Prabowo 100% Pasti Menang?
Kampanye Akbar Prabowo Sandi GBK (The National/Reuters)

Dalam pemilihan presiden yang akan segera kita selenggarakan tiga hari lagi, aku pastikan bahwa Prabowo Subianto akan menang dan menjadi presiden Indonesia yang ke delapan.

Yoi, menyusul pernyataanku itu pastinya akan ada yang bilang klo aku itu sok mendahului Tuhanlah, takaburlah dan segala macam tuduhan yang sejenis. Oleh karena itu, aku sudah mempersiapkan sanggahannya dan argumen-argumen untuk pernyataanku itu. Senyum.

Secara biologis, pada prinsipnya otak kita memang memiliki biomekanisme untuk memprediksi atau mempunyai kemampuan untuk memperkirakan suatu peristiwa yang belum terjadi. Kita ambil contoh yang sederhana, peristiwa terjadinya hujan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebelum hujan terjadi, akan muncul indikasi-indikasinya yang sangat jelas, yang bisa kita lihat dan rasakan.

Diantaranya berupa kemunculan gumpalan-gumpalan awan yang menghitam, terdengarnya suara guruh dan petir, perubahan kecepatan angin, perubahan suhu dan perubahan kelembaban udara. Intinya, semakin banyak informasi terkait yang kita diperoleh, maka semakin akuratlah prediksinya.

Jadi, kepastian yang saya maksudkan dalam konteks sebatas kemampuan daya pikir dan pengalaman hidup manusia. Mengenai Tuhanlah yang menentukan segala-galanya ya sudah sangat jelaslah, anak SD pun tahu itu, gak ada lagi yang bisa dibahas dari sisi itu. Jelas ya. Apa? Gak jelas? Ya udah, itu kan urusanmulah Masbro, Mbaksis. Ngekeh.

Tahun 2012, adalah tahun di mana aku mulai sangat konsen dengan hiruk-pikuk politik nasional hingga sekarang, nyaris setiap hari aku mengamatinya melalui nternet dan melalui kehidupan sehari-hari, khususnya terkait pemberitaan Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Baiklah, cukup basa-basinya. Berikut ini sejumlah argumen-argumen untuk pernyataanku itu.

  1. Berubah haluannya sejumlah "kepala suku" buzzer Jokowi dan atau pendukung utamanya yang memiliki suara politik yang sangat berpengaruh (opinion leader/influencer), terutama di ranah medsos, dan menjadi pendukung Prabowo. Misalnya Dahlan Iskan, Anies Baswedan, dan Sudirman Said. Beberapa hari yang lalu, sejumlah ketua dan anggota pengurus ormas-ormas pendukung Jokowi, seperti Sjafti Hidayat (Bara JP), Guntur Siregar (Sekjen Projo) dan Djumhur Hidayat (ARM), membuat acara deklarasi terbuka di Taman Aspirasi, Monas, Jakpus. Mereka hijrah mendukung Prabowo-Sandi. Secara fakta, ranah medsos dikuasai oleh pendukung Prabowo, hal yang diakui oleh pakar media sosial, Ismail Fahmi. Di Kompasiana sendiri, misalnya Ilyani Sudarjat dan saya sendiri.
  2. Banyaknya elemen masyarakat yang merasa dikecewakan oleh Jokowi, khususnya masyarakat dari kelas perekonomian menengah kebawah, yang akhirnya menyadari bahwa Jokowi merupakan sosok yang gampang sekali mengingkari janji-janji politik segampang ia mengumbarnya, yang membuat kehidupan sehari-hari mereka relatif semakin susah. BBM dan Listrik, kata-kata kuncinya. Asal klen tau aja ya, dalam lima tahun terakhir ini aku ada loh bikin survei acak secara langsung di berbagai kota besar di Sumatera dan Jawa. Mulai dari tukang sate, penarik ojol, kontraktor bangunan sampai ke pengusaha-pengusaha besar.
  3. Gerakan #2019GantiPresiden yang menggelinding bak bola salju yang jatuh dari puncak gunung Everest. Menggulung semua yang mencoba menghalanginya. Hehe.
  4. Dipilihnya KH Ma'ruf Amin sebagai pasangannya yang membuat banyak pemuja Ahok menjadi kecewa berat, dimana para pendukung Ahok adalah salah satu pilar utama pendukungnya. Seperti yang telah kita ketahui bersama, KH Ma'ruf Amin merupakan salah satu sosok sentral yang menjadi asbab dipenjarakannya Ahok. Selain itu, dipilihnya beliau juga menunjukkan secara begitu telanjangnya betapa pihak Joko Widodo sedang memainkan teknik politik identitas, teknik yang dahulunya begitu mereka benci. Alih-alih menaikkan, Amin malah menggerus suara politik untuk Jokowi.
  5. Sandiaga Effect. Secara fisik dan kinerja, cawapresnya Prabowo ini benar-benar tidak sebanding dengan cawapres dari lapak sebelah ya. Hal yang sadar tak sadar telah diakui oleh orang-orang dari pihak Jokowi sendiri, terbaca dari sejumlah pemberitaan. Sandi unggul dari segi penampilan, finansial dan stamina. Beberapa hari yang lalu, Sandi memperoleh Rekor MURI dengan berkampanye di 1.550 titik. Dari sejumlah debat, sangat jelas Sandiaga terlihat lebih cerdas dan lebih menguasai persoalan. Selain itu, Sandi menjadi pemicu massifnya gerakan "The Power of Emak-emak". Kontribusi Sandi sangat signifikan menaikkan elektabilitas Prabowo.
  6. Erick Thohir. Siapa sih yang tidak mengakui bahwa sosok ini hebat dalam mengelola bisnis pribadinya? Kita akui juga kesuksesannya dalam memimpin Asian Games kemarin. Tetapi apakah ianya serta merta menjadi hebat dalam berpolitik praktis? Tentu tidak semudah itulah wahai Ferguso. Senyum. Sepengamatanku, semenjak diangkat jadi ketua timsesnya beliau terlihat kikuk, banyak mengumbar pernyataan yang gak penting, sampai sekarang gak terlihat gebrakannya yang menonjol sebagai panglima lapangan pencitraan Joko Widodo. Sungguh berbeda sekali dengan Djoko Santoso, panglima tim sukses lawannya yang terkesan senyap, namun menunjukkan hasil yang signifikan.
  7. Masuknya tokoh-tokoh "aneh" yang dulunya berada di kapal Prabowo ke dalam kapal Joko Widodo yang sedang menuju kekaraman, semacam Ngabalin, La Nyalla dan Faisal Assegaf.
  8. Gerakan ABI 212. Bagi orang yang otaknya masih berfungsi dengan baik, tentunya mengakui bahwa gerakan ini adalah gerakan sosial politik yang sangat besar dan terus membesar. Terbukti dari naiknya jumlah peserta Reuni 212 kemarin yang sangat signifikan. Ketawain aja klo ada yang bilang gerakan ini gak ngaruh kepada elektabilitas pasangan yang J-M yang sangat timpang itu. Senyum sik.
  9. Dukungan resmi dan terbuka SBY/Partai Demokrat kepada Prabowo. Dimana pada pilpres 2014, beliau memilih bersikap netral. Tentunya hal ini membawa pengaruh besar terhadap eletabilitas Prabowo.
  10. Romy dan Bowo. Di masa-masa kritis menjelang Hari H Pilpres ini, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, sahabat dekat dan salah satu pendukung utama Jokowi kenak OTT korupsi, disusul oleh tertangkapnya Bowo Sidik dengan amplo-amplop yang diduga keras akan digunakan untuk "serangan fajar", dan semakin heboh lagi dikarenakan ia mengatakan bahwa Nusron Wahid (juga pendukung utama Jokowi), yang memerintahkannya untuk menyiapkan amplop tersebut.
  11. Paradigma baru kampanye politik yang dibawa oleh pendukung Prabowo-Sandi. Tanggal 7 April 2019 yang lalu, adalah hari yang sangat bersejarah bagi Indonesia, baik secara politik maupun secara sosial. Kampanye yang adem, damai, bersih, jauh dari hingar bingar hura-hura. Ditandai dengan sholat berjamaah para peserta di lokasi kampanye. Kemarin seorang teman non-muslim yang berdomilisi di Jakarta mengatakan kepadaku bahwa kampanyenya itu memang luar biasa damainya, jauh dari kesan sangar dan kearoganan. (Artikel terkait: Paradigma Baru Kampanye Ala Indonesia?).
  12. Dukungan Ustad Abdul Somad (UAS), penceramah yang dikenal sebagai ustad jutaan ummat. Selama ini beliau memilih pasif, namun setelah mengatasi kebimbangannya yang diuraikannya dalam pertemuannya dengan Prabowo pada tanggal 11 April 2019, beliaupun menyatakan dukungannya secara resmi. (Video dan Transkrip Lengkap Dialog UAS dengan Prabowo/Poin-poin Penting dari Tausiyah Khusus UAS kepada Prabowo Subianto). 
  13. Disusul oleh dukungan terbuka Ustad Adi Hidayat, AA Gym dan Gerakan Hijrah yang digerakkan oleh Arie Untung, Teuku Wisnu dll.
  14. Rahasia pribadi. Terlalu gaib klo diungkapkan disini, berbau-bau kode keras dari alam soalnya. Ngahahahha.

Berdasarkan uraian argumen-argumen diatas, akupun yakin 100% Prabowo akan memenangkan Pilpres 2019 ini. Hanya kejadian luar biasa yang bisa mengubah keyakinanku itu menjadi nol. Mengenai prediksi angka hasil pilpres, aku tetap pada angka 57% untuk Prabowo-Sandi dan 43% untuk Jokowi-Amin yang pernah kutuliskan tahun lalu (Catet Ya, 57% vs 43%).

Bagaimanapun nanti hasil akhirnya, aku (kita) tetap berharap semoga pemilunya berjalan lancar, aman dan damai, bebas dari kecurangan-kecurangan. Tetap berharap, presiden yang terpilih adalah sosok pemimpin adil dan bijaksana, yang terbaik bagi Indonesia. 

Salam adil dan makmur bersama Prabowo-Sandi untuk Indonesia Menang.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x