Rahmad Agus Koto
Rahmad Agus Koto Bioentrepreneur

"Alam terkembang jadi buku!"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketika Nafsu Belanja "Online" Tidak Terkendali

13 Juni 2018   14:38 Diperbarui: 13 Juni 2018   21:24 1803 5 3
Ketika Nafsu Belanja "Online" Tidak Terkendali
ilustrasi: fajar.co.id

Seorang wanita yang masih relatif muda berusia 26 tahun, mencuri uang perusahaan tempatnya bekerja hingga sebanyak US$ 300.000 atau sekitar Rp 3 miliar.

Saat pihak kepolisian mendatangi rumahnya, mereka menemukan hampir 1.000 lipstik, pakaian, tas, dan parfum. Sebagian besar barang-barang tersebut masih belum dibuka dan bahkan beberapa pakaian hanya dipakai sekali karena ingin dipamerkan di media sosial.

"Aku tak tahan untuk membeli semua itu saat melihatnya di internet. Belanja online membuat adrenalinku terpacu." (Anonim): South China Morning Post, (2017).

Sudah cukup banyak berita-berita yang memberitakan orang-orang yang terjebak dalam permasalahan keuangan dikarenakan nafsu belanjanya yang tidak terkendali.

Tidak sedikit juga diantaranya berakhir dengan konflik rumah tangga hingga berujung kepada perceraian.

Bahkan hingga melakukan perbuatan kriminal dalam upayanya untuk mengatasi permasalahan keuangan yang dihadapinya atau hanya untuk sekedar memenuhi nafsu belanjanya.

Berita di awal artikel ini hanyalah satu di antaranya.

Oniomania, Sophaholic, Recreational Shoppers dan Compulsive Buying Disorder (CBD) adalah istilah-istilah yang umumnya digunakan untuk penyakit yang sama, kecanduan belanja.

Iya, secara psikologi kecanduan ini dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan, dengan tingkatan mild, moderate hingga severe.

WHO memasukkan kategori gangguan kejiwaan ini ke dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10), Chapter V, dalam Block F00-F99.

Top Ten Markets for Recreational Shopping (ACNielsen, 2006): Hong Kong, 93%. Indonesia, 93%. Singapore, 90%. South Korea, 89% . Philippines, 88%. Malaysia, 88%. Thailand, 86%. United Arab Emirates, 84%. China, 84% . Taiwan, 83%.

Catatan:

1. Data di atas adalah gambaran umum betapa besarnya jumlah penduduk dunia berbelanja yang dimotivasi oleh rekreasi, bukan atas kebutuhan hidup yang sifatnya penting dan mendesak.

2. Data tersebut, tidak mewakili jumlah penderita Oniomania yang sebenarnya.

3. Saya tidak memperoleh data yang terbaru, namun bisa dijadikan sebagai acuan betapa banyaknya penderita Oniomania. Apalagi di era medsos yang berkelindan dengan kebiasaan berbelanja secara online.

Dalam satu dekade terakhir, nafsu belanja itupun menemukan surganya di pasar online atas segala kemudahannya dalam mencari informasi produk-produk komersil, perbandingan harga-harga dan kecepatan proses belanja yang ditawarkannya.

Oniomania disebabkan oleh faktor psikologis berupa rasa tidak percaya diri, di mana dengan belanja barang-barang tertentu membuat ia merasa status sosialnya meningkat.

Ketidakpercayaan dirinya itu juga membuatnya rentan menjadi korban iklan komersil, apalagi oleh iklan-iklan kreatif yang pandai mengeksploitasi nafsu belanja.

Selain itu, sebagai sarana untuk "melarikan diri" dari rasa stres atau depresi yang diakibatkan oleh berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya.

Dengan berbelanja online, hormon-hormon yang menimbulkan perasaan bergairah dan bergembira seperti dopamin dan endorfin pun dipompa dalam jumlah relatif besar ke dalam sistem peredaran darah.

Jika yang bersangkutan tidak dapat mengendalikannya, maka hal itu akan menjadi kebiasaanya, membuatnya kecanduan.

Berikut ini beberapa ciri-ciri penderita Oniomania:

1. Sering membeli sesuatu tanpa ada perencanaan sebelumnya.

2. Gemar belanja secara diam-diam. Ada unsur kesengajaan supaya tidak diketahui oleh pasangan atau temannya.

3. Tidak jujur dengan membeli apa dan seberapa besar uang yang dibelanjakannya ketika ditanyakan oleh seseorang yang dekat dengannya.

4. Menganggap belanja adalah kegiatan yang menyenangkan, menjadikannya sebagai hobi.

5. Kadang-kadang timbul perasaan bersalah setelah membeli sesuatu karena menyadari bahwa barang yang sudah dibeli tidak begitu dibutuhkan dan memberatkan keuangannya.

6. Ada kalanya muncul keinginan yang kuat untuk berbelanja tanpa memiliki alasan yang jelas.

7. Mengalami kesulitan dalam membedakan antara keinginan dengan kebutuhan saat berbelanja.

Solusi untuk penderita Oniomania, khususnya yang masuk dalam kategori berat (severe) adalah terapi konseling atau pengobatan berdasarkan hasil konsultasi dengan psikiater, terapi fisik seperti olahraga dan yoga, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.

Untuk menghindarkan diri dari Oniomania, menurut Robert La Rose (Ahli Telekomunikasi Department of Telecommunication Michigan State University, Amerika Serikat), dengan mengendalikan diri saat belanja "online", memahami dan menghindarkan diri dari ciri-ciri penderita Oniomania, mengatur keuangan dengan baik, dan membuat skala prioritas untuk barang-barang yang akan dibeli.

Bagaimana dengan Anda?