Bahasa

Melongok Makna "Share"

29 Juli 2018   10:21 Diperbarui: 29 Juli 2018   10:46 344 1 0

Melongok Makna "Share"

Oleh: Ajun Pujang Anom

Kita sudah terlampau sering melihat artikel, yang dibawahnya mungkin tertulis seperti ini, "Jika ini anda anggap kebajikan. Jangan berhenti di tangan anda. Sebarkan!" Atau, "Saudara ingin berlimpah pahala dengan mudah. Share tulisan ini ke  semua kontak saudara." Bahkan mungkin dengan kata-kata yang lebih mengancam, "Teman, jangan biarkan dirimu masuk neraka. Hanya butuh sedikit kuota, kau bagikan tulisan ini ke seluruh groupmu. Walhasil, kau dibebaskan dari kerakusan. Dan mendapat keberkahan."

Sebagian dari kita pasti ada yang tergiur, dan bilang, "Cocok deh ini. Saya share ah." Atau mungkin, "Apa salahnya, berbagi kebenaran? Akan kuposting ke medsos sekarang juga."

Sebagian dari kita, ada yang kadar tergiurnya rendah, cuma manggut-manggut, dan berujar, "Bagus, bagus." Tanpa tergerak untuk membagikannya. Apakah orang model semacam ini, tak takut ancaman di atas? Mungkin juga takut, tapi takutnya tidak terlalu parah. Secara tak sadar, mereka merasa dalam hati berkata, "Tulisan manusia kok ditakuti."

Apakah ada sebagian kita yang tak tergiur sama sekali? Tentu ada dong. Bukankah di dunia, selalu ada kubu yang berseberangan? Makanya aneh, jika pada suatu masa, ada rezim yang menyeragamkan pemikiran.

Apakah yang tak tergiur itu orang sesat? Nanti dulu dong. Jangan mudah ngomong sesat. Ada banyak alasan yang membuat orang itu, tidak berbagi tulisan. Meskipun tulisan itu sangat bagus.

Pertama, belum mampu atau baru belajar, terhadap apa yang dicantumkan di tulisan. Khawatir, kalau di-share. Terus ditanya balik, tak bisa jawab.

Kedua, merasa ada kepentingan tertentu di balik tulisan. Bisa politik, bisnis, atau lainnya. Bukankah hari ini, siapapun yang memegang "viral" akan menangguk keuntungan?

Ketiga, benarkah yang ada di tulisan itu? Jangan-jangan salah. Pemikiran su'udzon ini wajar, tak patut dipersalahkan. Karena sebaik apapun tulisan, jika diembel-embeli kata share. Menyimpan segumpal keraguan.

Keempat, ini lanjutan yang ketiga. Tak mungkin melakukan klarifikasi. Kalaupun iya, pasti dapat jawaban, "Ini saya dapat dari Si Anu." Ketika kita bertanya ke Si Anu, Si Anu berkata, "Dari Si Ono." Saat kita mengejar kebenarannya. Tak pernah menemui siapa pelakunya. Ini kan sebuah kesia-siaan.

Terus gimana dong? Apa yang perlu dilakukan? Boleh nge-share, asal yakin itu benar dan bisa mengecek kebenarannya (salah satunya dengan bertanya pada penyebarnya). Kalau tidak, mending, buat tulisan sendiri. Selain melatih diri untuk berbagi kebajikan dan juga rasa tanggung jawab.

Bojonegoro, 29 Juli 2018