Mohon tunggu...
Fiksiana

"Pada Suatu Hari", Selalu Seperti Itu

5 April 2018   23:40 Diperbarui: 5 April 2018   23:47 0 0 0 Mohon Tunggu...

Entah siapa yang memulai, ungkapan "pada suatu hari" selalu hadir dalam pembelajaran Bahasa Indonesia (khususnya di tingkat dasar). Apakah ini merupakan pengaruh dari Bahasa Inggris ataukah sebaliknya? Dan tentunya selalu di awal kalimat dan awal paragraf. Seakan tak afdol rasanya, jika tak memakainya. Tapi apakah disadari ungkapan ini dapat "mengkerdilkan" kreativitas atau kejeniusan berbahasa.

Tak bolehkah awal paragraf diawali seperti ini:

1. Glodhak, begitulah suara yang kudengar pada suatu hari. Kuduga itu pasti suara buku atau setidak-tidaknya benda mati. Tak mungkin kucing. Kucing jatuh tak mungkin suaranya glodhak. Dan pastinya kalau jatuh, kucing akan mengaduh dengan bahasanya sendiri, bahasa yang tak kumengerti.

2. Malu, aku akui aku malu pada suatu hari. Mengapa aku malu aku tak tahu? Tiba-tiba malu hadir saja dalam diriku.

Lihat "pada suatu hari" tetap dipakai, namun posisinya dirubah. Tidak harus selalu leading di depan. Dan ini tentunya kesan yang muncul berbeda, tidak kaku. Berbeda jika dua potongan cerita di atas diawali dengan "pada suatu hari". Perhatikan di bawah ini:

1. Pada suatu hari, kudengar suara glodhak. Kuduga itu pasti suara buku atau setidak-tidaknya benda mati. Dan seterusnya.

2. Pada suatu hari, aku malu, aku akui itu. Mengapa aku malu aku tak tahu? Dan seterusnya.

Nuansa yang nampak adalah ketidak-alamian dalam berkomunikasi. Terlalu "protokoler", pesan yang ingin disampaikan menjadi "tak terkirim". Sungguh sebuah kerugian luar biasa.

Bagaimana halnya bila "pada suatu hari" kita cabut dari dua cerita di atas? Lihat saja hasilnya di bawah ini!

1. Glodhak, ini pasti suara buku atau benda mati. Tak mungkinlah kucing. Kucing tak menghasilkan glodhak. Lagipula saat jatuh, pasti menjerit-jerit tak karuan.

2. Aku kok malu ya? Mengapa aku jadi malu? Tiba-tiba pula, aneh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x