Analisis

Nama Ahok Disebut, Ini Artinya Apa?

9 Oktober 2018   01:15 Diperbarui: 9 Oktober 2018   05:22 1080 3 4
Nama Ahok Disebut, Ini Artinya Apa?
sumber gambar: detik.com

Nama Ahok disebut berkaitan dengan Ratna Sarumpaet. Bermula dari keheranan seorang politikus pendukung pasangan capres Prabowo-Sandi karena Ratna Sarumpaet bisa masuk tim sukses. 

"Bu Ratna itu, saya juga agak aneh ya, kok dia masuk ke... menjadi timses. Karena kan kalau ukurannya dengan koalisi PKS dan Gerindra melalui Pilgub di DKI, lah kan beliau pendukung Ahok," kata Hidayat Nur Wahid seperti dikutip dari detik.com (Senin, 8/10/2018).

Keheranan Hidayat Nur Wahid tadi langsung kena "skak mat" oleh kubu Jokowi:

  • Pada Pilgub atau Pilkada DKI 2012, Ahok diusung oleh Partai Gerindra dan disandingkan dengan Jokowi (PDIP).
  • PKS dukung Jokowi di Pilkada Solo, bahkan Hidayat Nur Wahid salah satu jurkamnya, kok tidak heran?
  • Ratna Sarumpaet bukan Ahoker, tapi Wowower.

Pengen ketawa ngakak setelah kubu Jokowi melakukan "skak mat" atas keheranan politikus PKS dan juga pendukung Prabowo-Sandi tadi. Namun di sisi lain tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang heran atas keheranan Hidayat Nur Wahid mengingat jabatan di parpolnya adalah Wakil Ketua Majelis Syuro PKS.

Bukankah jabatan itu cukup tinggi? Kok bisa heran begitu, dan akhirnya kena "skak mat" oleh kubu lawan? Apakah hal ini semakin menegaskan sekaligus membuktikan pendapat sebagian pihak yang mengatakan kalau partai politik di negeri ini identik dengan ketua umum atau orang nomor satu, sementara politikus lain hanya sebatas "cecunguk" atau seperti itu? Makanya kalau asal bicara tidak begitu besar dampak negatifnya untuk partai, begitu juga sebaliknya?

Terlepas politikus lain yang memiliki jabatan di parpolnya memang benar atau bukan "cecunguk", satu hal yang boleh dibilang cukup menggelikan, Ahok tidak perlu promosi, sementara politikus lain ditengarai cukup banyak yang sudah berusaha namanya disebut, masuk berita, diingat oleh publik, bisa ngetop atau semacam itu, tapi belum berhasil juga. Promosi diri sudah sedemikian rupa, tapi masih saja kalah ngetop dengan Ahok. Di situlah kadang bukan merasa sedih, tapi pengen ketawa ngakak terbahak-bahak.

Di sisi lain tersenyum simpul saja, karena kasus hoax Ratna Sarumpaet ternyata sampai sekarang masih saja bikin pusing mereka yang sudah tertipu. 

Saat ini cukup berisik soal perlu atau tidak perlu, penting atau tidak penting mereka yang sudah tertipu tadi dikenakan sanksi hukum dengan tuduhan penyebar hoax, tapi sejak awal cenderung tidak ada yang meributkan tentang kebodohan, kedunguan atau semacam itu.

Tanya, kenapa?