Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Professional

Pekerja seni

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Bumi Manusia" Buminya Nyai Ontosoroh

23 Agustus 2019   09:11 Diperbarui: 23 Agustus 2019   09:22 0 10 6 Mohon Tunggu...
"Bumi Manusia" Buminya Nyai Ontosoroh
sumber: falcon pictures

Meramu cerita Fiksi sejarah menjadi sebuah tontonan yang menarik itu tidaklah mudah, terlebih lagi sebuah tontonan dengan durasi yang cukup panjang, tanpa ada rasa bosan mengikuti alur cerita yang dibangun.

Kolaborasi Hanung Bramantyo sang sutradara Bumi Manusia dengan Salman Aristo, si penulis skenario sangat sukses. Alur cerita yang dibangun sangat mengalir, sehingga tontonan yang berdurasi tiga jam lebih, tidak membosankan.

Pemilihan casting pemain pun cukup pas, Inne Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh, bermain sangat gemilang. Sepanjang secuen dan scene mengalir, Nyai Ontosoroh sangat mencuri perhatian, sehingga film ini lebih terasa seperti cerita tentang 'Buminya' Nyai Ontosoroh.

Semua unsur produksi yang terlibat didalamnya bekerja dengan maksimal, sehingga susah mencari celanya meskipun ada. Secara pengadeganan, Hanung berhasil membangun kualitas peran para pemain, dramatisasi cerita pun tervisualisasi dengan maksimal.

Bumi Manusia adalah karya Masterpiece Pramoedya Ananta Toer, bagian dari Tetralogi Novel Sastra yang ditulisnya selama masa penahanan di Pulau Buru. 

Bagaimana Pram meramu sebuah Fiksi dengan latar sejarah, sangat terasa kekuatannya dalam film Bumi Manusia.

Pemilihan Iqbal Ramadhan sebagai 'Minke,' yang merupakan Leading Star, sepertinya adalah bagian dari marketing untuk menyasar kaum millennial, tapi sayangnya, sebagian besar Millennial kita bukanlah penikmat karya sastra, jadi agak meleset dari target.

sumber: falcon pictures
sumber: falcon pictures
Secara casting memang agak kurang pas Iqbal memerankan Minke, Handsome sih oke, wajahnya pribumi banget, sehingga ketika dipadankan antara Minke sama Anneliese, yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh, sangatlah serasi.

Film Bumi Manusia ini sangat kental dengan ketokohan Nyai Ontosoroh, Minke dan Anneliese hanya jadi 'pemanis' dari film ini. Perlawanan Nyai Ontosoroh yang hanya seorang Gundik dari Herman Mallema, seorang pengusaha kaya.

Perlawanan terhadap perlakuan diskriminasi kolonial terhadap kaum pribumi, perlawanan seorang gundik terhadap orang yang 'Mengawininya' tanpa menikahi, yang membuatnya kehilangan haknya diakhir cerita, baik terhadap harta warisan orang yang mengawininya, juga terhadap hak asuh anak yang dilahirkannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x