Ajinatha
Ajinatha Freelancer

Pekerja seni

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Manuver PKS dan Isyarat Kekalahan Prabowo?

23 April 2019   00:05 Diperbarui: 23 April 2019   00:13 2120 29 15
Manuver PKS dan Isyarat Kekalahan Prabowo?
Hidayat Nur Wahid. 2018 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

"Perjuangan politik haruslah dalam koridor konstitusi. Harus dilakukan tanpa kekerasan." ~ Prabowo Subianto

Indah sekali ya kata-kata Pak Prabowo ini kalau diterapkan dalam berpolitik, pastinya tidak akan terjadi polemik 'Quick Count' yang sudah mengarah kepada kekerasan dan perpecahan. Mari kita lihat seperti apa Manuver PKS ditengah kekisruhan politik akhir-akhir ini.

Ada beberapa indikator yang diisyaratkan PKS sebagai pengakuan bahwa Prabowo sudah kalah. Apa yang mendasari PKS terkesan bermanuver politik, ditengah konflik persengketaan perhitungan suara, antara kubu 02 dan kubu 01.

Pertama PKS sebagai bagian dari Koalisi Indonesia Adil Makmur, PKS mengakui hasil Quick Count yang memperlihatkan beberapa persen partainya naik, sementara BPN tidak mengakui Sama sekali hasil Quick Count. Menjadi aneh kalau PKS Ikut tidak mengakui hasil Quick Count, sementara jelas-jelas berdasarkan hasil Quick Count PKS naik beberapa persen.

Pengakuan inilah yang dianggap kalangan politisi sebagai manuver politik dari PKS, terutama kalangan politisi yang berseberangan dengan Kubu 02. Kedua, PKS mempersilahkankan Sandiaga Uno untuk kembali menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI, padahal posisi tersebut merupakan jatah bagi kader PKS.

Sementara BPN sudah memberikan sinyal Sandiaga Uno tidak mungkin kembali kekursi wagub DKI Jakarta, karena Sandiaga posisinya Di Kantor Wakil Presiden. Artinya BPN meyakini Prabowo-Sandi memenangkan Pilpres 2019.

Apakah sudah ada 'Bargaining' antra PKS dengan kubu Jokowi-Ma'ruf.? Secara ideologi, antara PKS dengan Koalisi Indonesia Maju seperti Minyak dan Air, tidak mungkin bisa bercampur, bisa saja bercampur kalau PKS mau merubah ideologi politiknya.

Menurut saya sangat kecil kemungkinannya, karena akan sangat sulit diterima Koalisi Indonesia Maju. Manuver yang dilakukan PKS hanyalah ungkapan kegelisahan mereka terhadap posisi yang dijanjikan Gerindra. PKS sangat yakin kalau Prabowo kalah, dan Sandiaga akan kembali kekursi Wagub DKI Jakarta.

Yang jelas PKS tidak ingin Ikut meributkan sengketa perhitungan suara, apa lagi sampai Ikut larut dalam perseteruan yang berakibat pada kerusuhan. Seperti halnya Demokrat dan PAN yang mulai membuat jarak, agar tidak terlibat dalam perbuatan yang Inkonstitusional.

TKN Jokowi-Ma'ruf sangat merespon secara positif atas sikap PKS ini, menganggap sebuah kejutan kalau Partai Keadilan Sejahtera mulai membahas peluang Sandiaga Uno kembali menjabat wakil gubernur DKI Jakarta meski penghitungan suara pemilu 2019 belum selesai.

"Ini surprise. Pertama, artinya PKS itu orang-orang yang cerdas yang mengakui quick count. Mereka mengakui  quick count berapa persen partai dia naik, kan dia harus konsisten ketika quick count yang partai diakui, masa pilpres enggak diakui," kata juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, di Rumah Cemara, Jakarta, Senin, 22 April 2019.

Tapi berdasarkan Wakil Ketua Majelis Syuro Partai PKS, Hidayat Nur Wahid, Satu Sisi memang dia mempersilahkan Sandiaga kembali kekursi Wagub DKI Jakarta, tapi menurutnya Pemilu belum selesai, sangat mungkin Sandiaga menjadi Wakil Presiden.

"Ya monggo saja kalau beliau mau. Tapi kan belum tentu beliau kalah dalam wapres, kalau beliau nanti menang sebagai wapres? Ini proses belum selesai," kata Hidayat di gedung DPR.

Sumber : Viva.co