Mohon tunggu...
Ajeng Pujianti Lestari
Ajeng Pujianti Lestari Mohon Tunggu... Freelancer - Ibu Rumah Tangga

Ibu Tiga Anak. Menulis biar enggak pusing.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Tentang Ibu yang Menggorok Tiga Anaknya

22 Maret 2022   16:41 Diperbarui: 22 Maret 2022   17:20 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Oke, kasus ini memang sedang hangat-hangatnya dan anda barangkali sudah bosan membaca analisis kasusnya. Tapi ijinkan saya untuk tetap menulis dan menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran saya. 

Pertama-tama, ketika kasus ini mencuat di media, saya cuma bisa beristighfar sambil mengelus dada. Bukan, bukan karena kasus si ibu itu sendiri, tapi karena komenter netijen di instagram dan twitter. Ada yang bilang si ibu kurang iman, gak sayang anak, gak punya otak, dan kata-kata kasar lain. Duh beneran ya, kenapa gampang banget kasih komen judgemental gini sih? 

Saya enggak membenarkan perbuatan si ibu ini. Membunuh jelas perbuatan yang salah, tapi bisa dong kita menahan diri untuk mengeluarkan statement apapun sampai tahu betul duduk permasalahannya seperti apa? Saya sempat melihat sekilas video si ibu di dalam tahanan. Pedih banget ketika dia bilang bahwa keinginan dia itu cuma, "disayang suami."

Kemudian setelah dirunut-runut lagi ke belakang, ternyata beliau ini memang depresi karena mesti mengurus tiga anak yang usianya berdekatan, tanpa suami. Si suami dikabarkan berada di luar kota dan pekerjaannya tidak tetap. Jadi, beban yang hraus ditanggung ini memang berat, tidak hanya urusan anak dan pekerjaan rumah, bahkan sampai ke urusan uang. 

Barusan saya melihat status Facebook seorang teman. Dia mengambil analogi ponsel dalam memandang kasus ini. Apa jadinya kalau ponsel dengan RAM 4GB serta Memory 64 GB harus diisi dengan berbagai aplikasi besar-besar dan dipaksa bekerja terus tanpa ada jeda untuk mengisi daya? Mati pastinya. 

Poin yang mesti dicermati adalah, jika mesin saja tidak bisa diberi beban yang melebihi kapasitasnya, apalagi manusia? 

Menjadi ibu, tidak pernah mudah. Gigi  Hadid, supermodel berdarah Palestina yang kini tinggal di USA bercerita kalau sejak melahirkan Khai, dirinya tak sempat untuk sekedar menyisir rambut. Bahkan, ada masa-masa dimana selama seminggu dia tak memakai make up sama sekali saking rieweuhnya sama Khai.

Nah, rasanya valid banget kalau mengurus anak itu sangat challenging lha wong sekelas Gigi Hadid yang support system-nya kuat dan duitnya sekebon aja merasa kewalahan. 

Terus gimana? 

Sejujurnya, saya pengen banget memeluk si ibu, to comfort her. Tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya. Seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anak mereka. 

Saya sangat berharap, semoga kepolisian bisa menangani kasus ini dengan mengangkat nilai kemanusiaan serta treatment yang tepat. Semoga sanak-anak dari si ibu yang selamat, bisa kembali sehat, sembuh dari trauma, dan kembali mencintai ibunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun