Mohon tunggu...
Aisya Tjahja
Aisya Tjahja Mohon Tunggu... Mahasiswa - masih belajar

words are free

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Belajar Berempati

7 Juli 2021   22:33 Diperbarui: 30 Juli 2021   20:41 98 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Berempati
empathy illustration (sumber: nytimes.com)

"gitu doang kok happy, biasa aja kali,"

"kamu mah masih mending,"

Dannn ... masih banyak lagi perkataan orang lain yang seakan-akan mengecilkan hati kita. Itulah mengapa kita perlu menerapkan sikap empati ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, aku jelasin dulu ya apa itu 'empati'. Menurut Wikipedia, Empati didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.  Dengan mengasah empati, kita dapat menyikapi perasaan orang lain dengan baik. Kita juga dapat lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara, dan memberikan reaksi.

Ada orang yang merasa bahagia dengan mendapatkan uang sepuluh ribu, tapi di sisi lain ada juga orang yang merasa kurang dengan nominal tersebut. Bagi orang yang merasa bahagia tersebut, dengan uang sepeluh ribu itu, dia bisa membeli dua bungkus nasi untuk dimakan bersama adiknya. Nominal tersebut sangat berarti bagi dia dan dia bersyukur akan itu. Tingkat kebahagiaan manusia memang berbeda-beda, nggak perlu kita membandingkannya dengan orang lain. Bersikap empati merupakan sikap yang tepat untuk dilakukan, berbahagia untuk kebahagiaan orang lain dan memberikan reaksi positif kepada perasaan orang lain. Karena dengan reaksi positif tersebut, orang lain akan merasa dihargai. Jangan pernah meremehkan kebahagiaan orang lain!

Selain tingkat kebahagiaan, juga ada tingkat masalah. Tuhan memberikan masalah kepada hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya. Apa pun masalah yang sedang kita alami, Tuhan tahu bahwa kita mampu mengatasinya. Tingkat permasalahan tiap orang pun berbeda-beda. Mungkin masalah orang lain terlihat mudah dan ringan bagi kamu, tapi kamu belum tentu kuat dengan permasalahan tersebut. Begitu pun sebaliknya. Kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan mengecilkan hati orang lain dengan perkataan maupun tindakan. Hati-hati dalam bereaksi.

Tingkat pencapaian pun juga berbeda. Ada yang di usia 23 tahun sudah lulus kuliah, ada yang sudah bekerja, ada yang sudah menikah, dan ada juga yang telah tiada. Kalau di usia 23 tahun kamu sudah lulus kuliah, tidak perlu menjatuhkan orang yang masih berjuang untuk lulus. Kalau kamu sudah bekerja, tidak perlu juga membanding-bandingkan dengan orang yang masih berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Setiap jalan yang kita pilih memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak perlu merasa superior, kita semua memijak bumi yang sama.  Nggak perlu juga mengurusi pencapaian orang lain, just focus on your target. Jangan jadi orang yang ribet.

Masuk universitas terbaik memang suatu kebanggaan, segala usaha yang telah dilakukan rasanya membuahkan hasil yang baik. Tapi tidak asing juga kan, dengan perkataan-perkataan seperti ini :

"aduh, universitas mau sebagus apa juga nggak menjamin masa depan kamu kok,"

Imagine gimana rasanya orang yang sudah berjuang dengan keras demi masuk ke univeritas tersebut?  perkataan seperti itu sangat jauh dari sikap empati. Padahal masih banyak banget kata-kata yang lebih layak dikeluarkan, seperti :

"udah masuk universitas impian, makin semangat ya belajarnya, jangan kendor!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN