Mohon tunggu...
KKN MMK Kelompok 43
KKN MMK Kelompok 43 Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Laman ini merupakan wadah publikasi berita dari program kerja yang dilakukan oleh mahasiswa KKN MMK 43 UIN Walisongo Semarang tahun 2022

KKN kami berlokasi di Kabupaten Banjarnegara

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Edukasi dan Toleransi sebagai Aspek Penting di Era Globalisasi

12 Desember 2019   06:45 Diperbarui: 12 Desember 2019   09:58 64
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dewasa ini, edukasi atau pendidikan tentunya semakin meningkat, bersamaan dengan teknologi yang meningkat juga, serta pendidikan pun harus dijunjung tinggi. Karena akhir-akhir ini semua selalu mengutamakan tentang pendidikan, sukses, dan masa depan yang gemilang. Tapi dibalik itu, ada satu pendidikan yang terasa kian pudar dengan seiring berkembangnya zaman yaitu pendidikan moral.

Pendidikan moral yang bisa disebut dengan "Cara memanusiakan manusia" adalah pendidikan untuk menjadikan manusia bermoral atau bermanusiawi. Artinya pendidikan moral ini bukan mengajarkan tentang akademik, namun non akademik, khususnya sikap dan etika yang dipakai dikehidupan sehari-hari.

Mengingat akhir-akhir ini kian banyak kasus-kasus karena kurangnya pendidikan moral tersebut. Salah satu contoh kasusnya yaitu kasus Kekerasan Gender Berbasis Seksual. Istilah kekerasan berbasis gender digunakan untuk membedakan kekerasan umum dari kekerasan yang menargetkan individu atau kelompok atas dasar jenis kelamin atau identitas gender mereka. Gender dan seksualitas adalah sesuatu yang sampai sekarang masih menjadi hal yang kurang dipahami banyak orang.

Tidak banyak yang menyadari bahwa gender dan seksualitas adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kasus-kasus kekerasan. Sebelumnya perlu dipahami bahwa gender dan seksualitas adalah dua hal yang berbeda. Jika gender adalah hal yang merujuk pada karakteristik sosial yang ditugaskan kepada seseorang karena identitasnya sebagai perempuan, laki-laki, maupun lainnya.

Sedangkan seks berbicara atau merujuk tentang hal-hal atau karakteristik biologis perempuan, laki-laki, dan lainnya. Secara sederhana gender adalah hal sosial sedangkan seks adalah hal biologis. Kekerasan berbasis gender merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang disebabkan oleh peran pelabelan berdasarkan jenis kelamin. Faktanya, kasus kekerasan ini mayoritas dialami oleh perempuan.

Kenapa mayoritas perempuan?

Sama seperti hal lainnya yang juga berlaku pada masyarakat kita, kehidupan sosial ini melihat perempuan sebagai makhluk yang lemah dan berada di bawah kontrol laki-laki. Adalah salah satu pemahaman yang melatarbelakangi timbulnya kasus kekerasan ini. Pelecehan seksual yang dialami perempuan biasanya masih sering direspon dengan sangat tidak bijaksana oleh lingkungan sosial yang budaya patriarkinya masih kuat, seperti catcalling yang dialami perempuan biasanya dianggap sebagai hal yang biasa saja dan terkadang  menyalahkan korbannya.

Sungguh miris yang menjadi korban. Tidak hanya dianggap lemah, tetapi juga ditambah sebagai pihak yang salah. Mungkin inilah yang membuat banyak perempuan lebih memilih untuk bungkam. Anggapan - anggapan masyarakat yang seperti sudah menjadi "budaya" itulah yang sepertinya karena kurang menerapkan pendidikan moral. Beberapa kasus kekerasan berbasis gender yang sering terjadi di lingkup masyarakat antara lain pelecehan seksual, perbudakan, catcalling, gender shaming, dan juga pelaksanaan kebijakan yang diskriminatif.

Ada pula dampak yang timbul karena tindakan diatas ialah terhadap individu, kelompok, atau bahkan masyarakat itu sendiri. Yang dapat mengalami khawatir berlebih, menyalahkan korban, stigma sosial, depresi, dan meningkatnya ketidaksetaraan gender. Untuk penyebab terjadinya kasus - kasus ini belum diketahui pasti. Sama seperti kasus kekerasan gender atau pelecehan seksual ini yang masih saja menjadi masalah yang belum tuntas.

Namun, ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi penyebab adanya kasus tersebut diantaranya: anggapan pria tentang wanita lebih lemah atau korban yang mudah ditaklukan, adanya trauma masa kecil yang berhubungan dengan kekerasan seksual, pernah atau bahkan sering menonton konten - konten porno, dan lain - lain yang mungkin lebih beresiko menjadi penyebab. Entah karena kurang pengawasan atau kurangnya parenting. Yang jelas semua masalah bergantung pada dirinya sendiri.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun