Mohon tunggu...
Aisyah Fad
Aisyah Fad Mohon Tunggu... Penulis - Menulis untuk berjalan, belajar memahami, dan berbagi.

Freelancer

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kecanduan Berbuat Baik, Baikkah?

15 Juni 2021   10:00 Diperbarui: 15 Juni 2021   10:13 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kecanduan Berbuat Baik, Baikkah? (huffingtonpost.com)

Niat yang baik, tidak selalu bersambut baik. Namun perbuatan baik selalu menghasilkan apresiasi yang baik. Akan tetapi apakah kecanduan berbuat baik itu sebuah prestasi?

Seperti diketahui perbuatan baik memunculkan rasa bahagia bagi pelakunya.Jika seseorang telah terbiasa dengan perbuatan baik, mereka paham dan mampu menikamati sensasi yang muncul karena membuat orang lain tersenyum dan menjadi sumber bagi kebahagiaan orang lain.  

Bukan tidak mungkin orang semacam ini akan kecanduan berbuat baik. 

Kecanduan dalam arti, mereka menolong siapa saja dimana saja, tanpa perduli kenal atau tidak, atau apakah uluran tangannya sesuai dengan kebutuhan yang ditolong. Bahkan mereka tidak perduli diri sendiri, apakah mampu menolong atau tidak. Apakah pertolongan mereka berakibat buruk kepada diri mereka sendiri. Merasa tak perlu memahami duduk perkara sebenarnya. Dan menyesal menjadi endingnya. 

Contoh ekstremnya, bagaimana seorang siswa meminjamkan SPP miliknya untuk membayar SPP siswa lain. Padahal  orang tua yang meminjamkan tidak lebih mampu daripada yang dipinjami. Buntutnya gagal bayar, dan semua kena masalah. 

Kecanduan Berbuat, Baikkah (ggwp.id) 
Kecanduan Berbuat, Baikkah (ggwp.id) 

Atau seperti kasus yang diunggah oleh youtuber Nessie Judge dalam salah satu kontennya yang berjudul : Oy! Cara NAGIH UTANG paling Savage . Dalam sebuah kasus seorang ponakan yang baru saja membuka usaha pulsa memberi utangan pada bibinya, utangan terus membesar lebih dari 1 juta, ironisnya ketika ditagih si bibi malah mengintimidasi sang ponakan dengan menyebutnya, orang susah, miskin dsb.

Bibinya sudah pasti wan prestasi, namun, ada apa dengan sang ponakan? Mengapa sang bibi sudah gagal bayar masih terus diberikan pinjaman? bahkan membengkak hingga 6 digit? Apakah sang ponakan sudah kecanduan berbuat baik? sehingga meniadakan  alarm-alarm, penundaaan bayar yang dilakukan sang bibi periode sebelumnya?  

Bagi mereka yang kecanduan berbuat baik yang penting, "saya lihat dan saya tolong".  No investigasi, no pikir-pikir. Gercep!

Apakah kecanduan seperti ini superior? Bukankah pada dasarnya segala "candu" atau berlebihan itu tidak baik?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun