Mohon tunggu...
Ai Rosita
Ai Rosita Mohon Tunggu... Relawan - Menjadi seseorang yang memiliki arti dan berguna untuk dirinya sendiri dan lingkungan sekitar

Orang yang merasa kesepian dan tidak memiliki arti, mencoba menyelami sedikit arti dalam dirinya

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Anak adalah Generasi Penerus Bangsa, Stop Kekerasan Seksual terhadap Anak

21 September 2022   14:08 Diperbarui: 21 September 2022   14:18 164 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Parenting. Sumber ilustrasi: Freepik

Anak merupakan generasi penerus bangsa, sebagai generasi penerus mereka harus dididik, dibekali dengan ilmu dan akhlak yang baik. Sebagai orang tua kita harus memperhatikan dan memenuhi hak-hak anak. Berdasarkan UU No. 23 tahun 2022 setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.

Anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dalam bentuk apapun. Namun faktanya masih banyak anak yang mendapatkan kekerasan bukan hanya secara fisik namun kekerasan seksual bahkan menjadi korban pemerkosaan.

Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak Merupakan Kasus Tertinggi

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) terdapat 11.952 kasus kekerasan anak sepanjang tahun 2021. Dari jumlah tersebut terdapat 7.004 kasus kekerasan seksual. Pelaku kekerasan seksual saat ini banyak yang berasal dari orang-orang terdekat korban.Tidak hanya tetangga bahkan orang tua dan anggota keluarga besar lainnya. Bukan hanya remaja bahkan balita yang menjadi korbannya.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan kasus pemerkosaan terhadap anak 12 tahun di Medan sampai terinveksi HIV. Tindakan kekerasan seksual telah dialaminya dari usia 6/7 tahun dan pelaku kekerasan seksual tersebut merupakan orang terdekat korban. Beberapa bulan lalu, peristiwa meninggalnya seorang anak di  Kabupaten Tasikmalaya yang menjadi korban bully sekaligus pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman-temannya. Kasus ini sungguh amat keji, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah mampu menyuruh korban untuk bersetubuh dengan kucing. Menyebabkan korban depresi sampai harus kehilangan nyawa. Perbuatan keji ini sungguh tidak bisa ditolerir. Membuat kita menghela nafas sejenak, apa yang terjadi pada generasi kita?

Kasus-kasus lainnya yang dialami anak-anak, tindakan pemerkosaan yang dilakukan bukan hanya oleh orang lain bahkan oleh orang tuanya sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman menjadi neraka untuk mereka. Ancaman mereka dapatkan sehingga mereka takut untuk mengadu bahkan kepada ibunya sendiri.

Lingkungan pendidikan bahkan lingkungan pendidikan agama yang seharusnya menjadi tempat untuk mencari ilmu menjadi tempat yang mengerikan bagi mereka. Banyak kasus yang muncul ke permukaan. Akhir tahun lalu, pemerkosaan dilakukan oleh seorang pimpinan pondok pesantren terhadap para santrinya di Cibiru. Bukan satu atau dua orang saja yang menjadi korban bahkan belasan santri sampai ada yang melahirkan. Kasus pelecehan seksual di salah satu pesantren di Jombang bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk menangkap pelaku sampai terjadi drama dalam penangkapannya. Seorang motivator yang juga seorang founder Sekolah Selamat Pagi Indonesia menjadi pelaku pelecehan seksual kepada anak didiknya.

Dampak dari kekerasan seksual yang dialami korban menimbulkan dampak trauma yang pasti akan berkepanjangan. Trauma ini bahkan dapat menimbulkan keinginan korban untuk melakukan bunuh diri. Luka yang dialami korban tidak bisa sembuh begitu saja dengan cepat. Belum lagi stigma negatif yang melekat pada korban yang tentu saja menambah trauma bagi mereka.

Peran Orang Tua

Orang tua berperan penting untuk mencegah kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak. Apa yang harus dilakukan? Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak:

Bangun pola komunikasi dengan anak

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan