Mohon tunggu...
Ainun SuciQurani
Ainun SuciQurani Mohon Tunggu... Lainnya - Bdz_x

belajar bukan karena nilai melainkan karena ia bernilai

Selanjutnya

Tutup

Diary

Kenangan Terakhir bersama Gurunda Alustadz Alimuddin Alhafidz Rohimahullah

28 Juli 2021   08:40 Diperbarui: 28 Juli 2021   08:55 25 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenangan Terakhir bersama Gurunda Alustadz Alimuddin Alhafidz Rohimahullah
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Menurutku tak ada yang lebih manis melainkan rasa seorang murid yang sedang duduk bernostalgia dengan gurunya, izin pamit meminta doa dan ridhonya sambil ditemani secangkir teh juga gorengan hangat. Tetapi ternyata juga ia kenangan yang terakhir yang sangat berharga.

Setelah 6 tahun dididik dan ditempa dipondok agak berat hati rasanya pergi jauh darinya tanpa pamitan dan ridho dari mereka yang telah berjasa mendidik saya hingga ketitik ini, tuk itulah tepatnya sekitar beberapa hari lagi sebelum terbang merantau ke pulau seberang tuk menuntut ilmu melanjutkan study di STIBA Arrayah, kusempatkan diri bersilaturrahmi kerumah guru-guru sekaligus tuk mengatakan Taqobballlauhu minna wa minkum kepada mereka yang saya sendiri sudah saya anggap sebagai orang tua motivator hidup. 3 orang teman juga ikut serta bersama sambil berinsiatif tuk menghadiahkan kue brownis cokelat, cukup sederhana.

Dari rumah kerumah, saling menyapa dengan penuh senyum kepada asatidz, berpelukan melepaskan rindu dan haru kepada ustadzaat, bercerita tentang diuniversitas mana kita akan berlabuh dan tentunya disetiap pertemuan akan ada nasihat dan pesan-pesan indah yang saya dan taman-teman dapat. Ada satu hal yang berbeda tuk kali ini, ketika bersilaturrahmi kerumah ustadz Alimuddin, sesosok yang kepribadiaannya terkenal penuh humoris dengan kata-katanya yang penuh hikmah tak jarang membuat para muridnya tertawa ceria dan terus semngat jika belajar bersamanya. Waktu itu ntah kenapa hati saya dan teman-teman tergerak tuk merekam moment silaturrahmi bersamanya, hingga segala pesan dan perkataan yang penuh humoris lelucon terekam baik dalam moment itu, bercerita, berdiskusi dan tentunya dibarengi hidangan gorengan dan secangkir teh yang masih hangat. Setelah alustadz bertanya kepada kita akan diuneversitas mana kita akan lanjut, dan setelah beberapa lelucon yang dilontarkan beliau bertanya:

"Coba lihat, betapa banyak pondok-pondok dinegri ini, betapa banyaknya juga mesjid-mesjid bertebaran, hampir tak terhitung negri ini mampu mencetak para penghafal qur'an tiap harinya, hampir tiap hari kata-kata dan kalimat motifasi tuk terus menerus menghafal qur'an terdengar dimana-mana. Ini bahkan tentang alqur'an laa royba fihi  tidak ada keraguan didalamnya, namun coba jawab! Mengapa hingga sekarang negeri Indonesia ini blm mengalami kemajuan, bahkan tiap hari negeri ini semakin krisis dan krisis?" itu katanya dan tuk pertaanyaan itu tentu membuat hati tersentak, sebuah pertanyaan yang membuat saya juga teman2 pun bingung bagaimana menjawabnya, yang ada hati sedikit teriris dengan sebuah pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang patut disedihkan dan direnungi. Melihat kami kebingungan, sambil tersenyum ia lanjut berbicara dan menjawab kurang lebih ia berkata, "Kerena kecuekan kita... seakan mereka berkata biarlah kalian terlena khusyu' beribadah dimesjid-mesjid, tenang! Kami akan menfasilitasi segalanya bahkan memberi beasiswa tuk para penghafal qur'an tapi satuhal jangan pernah berbicara tentang politik! Dan lihat! benarkan betapa gelisahnya mereka, ketika para cendikiawan dan ulama maju tuk mengkritisi. Yang penting yang perlu kalian ketahui jaga alqur'an didada kalian! hafal! Dan bukan sekedar hafal! Dipondok mungkin alquran yang selalu ditangan kalian, tapi ingat pesan saya! diluar sana gedget akan bebas bersama kalian maka baca alquran dari mushaf aslinya bukan dari hp! Teruslah membaca buku-buku bacaan! jangan pernah berhenti karena ada banyak hal yang kalian akan ketahui dan kalian tidak akan memperolehnya dibangku kelas. Dan nanti jikalau kalian telah selesai s1, lanjut dan terus lanjut teruskan pendidikan".

Yah, 3 pesan dalam sebuah moment yang sangat jarang saya dapat. 3 pesan yang ternyata ia yang akan menjadi pesan terakhir tuk kudengar dan ia sebuah moment pertama dan terakhir yang saya jumpai, bagaimana tidak setelah hampir 2 tahun dalam rantauan ditanah Jawa dengan koneksi yang sangat terbatas dan sebelum beberapa bulan akan pulang kembali, saya telah berencana tuk bersilaturrahmi kembali kepondok dan mengkhususkan tuk harus bertemu dengannya, akan tetapi kabar duka lebih pertama menghampiri dan mengabarkan bahwa ia telah pergi keRahmatullah tuk selamanya. Rohimakumullah yaa Ustaadzi

#Catatan sebellummerantau kembali tukS2

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN