Mohon tunggu...
Ainiyah Hasnaf
Ainiyah Hasnaf Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Airlangga

Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Money

Antara Stunting dan Covid-19, ke Manakah APBN Kita Mengalir?

20 Juni 2022   11:16 Diperbarui: 20 Juni 2022   11:23 90 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

UNICEF merilis sebuah laporan yang mengejutkan pada tahun 2013: Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan jumlah kasus stunting terbanyak di dunia. Data yang dihimpun pada tahun 2010 tersebut melaporkan bahwa sekitar 36% anak Indonesia menderita stunting (UNICEF, 2013). Sejak saat itu, stunting menjadi perbincangan hangat di tanah air. Sebenarnya, apa itu stunting?

Dalam bahasa Inggris, stunting artinya terhambat. Dalam konteks kesehatan, stunting adalah kondisi yang mana seorang anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek daripada tinggi badan rata-rata anak-anak seusianya. Kondisi ini sendiri disebabkan oleh kurangnya asupan gizi anak dalam kurun waktu yang lama dan/atau akibat sering terinfeksi penyakit (Torlesse et al., 2016). 

Stunting juga berdampak terhadap performa fisik dan psikis anak. Stunting dapat meningkatkan risiko infeksi penyakit dan mortalitas mereka. 

Beberapa penelitian juga mengobservasi bahwa anak-anak yang menderita stunting cenderung memiliki masalah perilaku dan performa akademik yang lebih buruk. Ketika mereka tumbuh dewasa, penderita stunting memiliki risiko lebih besar menderita penyakit kronis dan cenderung kurang produktif dalam bekerja (de Onis dan Branca, 2016).

Tren stunting di Indonesia patut mengkhawatirkan kita. Dari sisi medis, stunting akan menambah beban pada sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Mereka juga akan membebani ekonomi negara, mengingat adanya penelitian yang menemukan bahwa stunting juga memengaruhi produktivitas kerja. Padahal, generasi muda penderita stunting akan masuk angkatan kerja dalam beberapa tahun ke depan. 

Bila masalah ini tidak segera ditangani, angkatan kerja Indonesia di masa yang akan datang tidak akan dapat menjalankan peran maksimalnya. sebagai bonus demografi yang digadang-gadang akan membawa Indonesia menuju keemasan.Karena alasan-alasan tersebut, tidak heran bila Pemerintah RI benar-benar fokus dalam membasmi stunting. 

Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu) dilaporkan telah mengalokasikan dana sebesar Rp32,98 triliun dalam APBN 2021 demi memenuhi target pemerintah untuk menekan jumlah kasus stunting nasional hingga angka 14% pada tahun 2024 (Indraini, 2021). Dalam satu segi, hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah peduli terhadap kondisi rakyat. 

Pendapatan rata-rata nasional turun, termasuk pendapatan rumah tangga. Para orang tua yang kehilangan pekerjaan tidak semuanya dapat serta-merta menemukan pekerjaan baru, sehingga terpaksa bekerja serabutan dengan upah minim atau bahkan menganggur. Akibatnya, mereka kesulitan menyuapi anak-anak mereka dengan makanan yang bergizi. Lama-kelamaan, anak-anak mereka dapat mengalami gizi buruk dan berujung pada stunting.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah keberadaan beberapa varian virus COVID-19 yang dapat menyerang anak-anak. Anak-anak sangat rentan terhadap virus karena kekebalan tubuh mereka belum optimal. Infeksi virus separah COVID-19 di usia muda tentu dapat mengganggu kesehatan mereka ke depannya. Hal ini juga dapat berujung pada kasus stunting pada anak. Dari uraian di atas itu, dapat kita simpulkan bahwa pandemi COVID-19 pun pada akhirnya juga berkontribusi terhadap kenaikan angka stunting di Indonesia. 

Oleh karena itu, seharusnya pemerintah melalui Kemenkeu mengurangi dana stunting dan menambah dana untuk penanganan pandemi COVID-19. Dana pandemi juga harus lebih diprioritaskan, karena bila negara ini berhasil melawan pandemi COVID-19, negara dapat mengurangi berbagai masalah sekaligus. Mulai dari tingginya angka kematian, ekonomi yang merosot, bahkan hingga kenaikan angka kasus stunting.

Terakhir, pemerintah juga harus menata ulang komponen-komponennya dalam menghadapi baik pandemi COVID-19 maupun urgensi stunting. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan