Mohon tunggu...
Aini Nursajidah
Aini Nursajidah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Aini Nursajidah Program Studi Keperawatan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Menelisik Pembelajaran Online Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

21 Januari 2022   22:11 Diperbarui: 21 Januari 2022   22:28 73 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Penghujung tahun 2019 menjadi musibah yang mengerikan bagi seluruh penduduk dunia. Bagaimana tidak? sebuah virus menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menyerang siapa saja. Virus yang diklaim sebagi corona virus disease (Covid-19), muncul pertama kali di Kota Wuhan, Cina. Dan sekitar bulan Maret 2020 telah menjangkit ke nusantara. Covid-19 ini menyebabkan segala aktivitas mulai terhambat. Berbagai kebijakan mulai diterapkan oleh pemerintah sebagai upaya untuk memotong rantai penyebaran Covid-19 ini. Salah satunya adalah Work From Home. Bekerja dari rumah adalah cara efektif untuk tetap beraktivitas meski hanya bersua di layar kaca. Begitu juga dengan mahasiswa UNISA yang harus menjalani kuliah daring atau kuliah online.

Kuliah online ini telah diterapkan oleh Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) dan beberapa perguruan tinggi lainnya di seluruh Indonesia. Sehingga segala aktivitas akademik sebagian besar dilakukan via online. Awal diterapkannya kuliah online ini, membuat sebagian besar mahasiswa bersorak-ria gembira, karena bisa kuliah sambil rebahan. Selain itu, juga membuat semua civitas akademik menjadi melek teknologi. Generasi milenial tentu merasa senang dengan keputusan tersebut. Namun, kuliah online tidak se menyenangkan di awal dan tidak sesuai dengan ekspektasi kaum rebahan yang bisa berkuliah dengan santai. Nyatanya, semua itu hanya fatamorgana dan ilusi semata. Kemudian, banyak yang dikeluhkan mahasiswa. Mulai dari tugas yang banyak, kondisi jaringan yang terkadang tidak mendukung, alasan tidak efektif dan efisien, dan masih banyak lagi.

Menurut pendapat teman teman saya, mereka lebih memilih kuliah offline dibandingkan kuliah online. Mereka mengatakan bahwa kuliah online memiliki sisi positif dan negatif. Salah satunya adalah harus terus menerus membeli paket internet. Namun, mau tidak mau mereka tetap mengikuti perkuliahan via daring. Juga tidak terpenuhinya hak antara pengajar dan peserta didik, hilangnya kontrol atau pengawas dari pendidik dan orang tua terhadap anaknya, waktu belajar yang terbatas sehingga menyulitkan memahami materi, dan keluhan jaringan yang acap kali tidak mendukung, dan beberapa alasan lainnya.

Namun di sini banyak kita lihat kuliah online memiliki banyak kekurangan dan memberikan dampak negatif kepada peserta didik. Dampak positif nya adalah semua materi atau bahan ajar bisa disalin dari google. Memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak. Dalam satu hari bisa kuliah 3 sampai 4 mata kuliah. Ada juga yang mengaku bahwa sekarangmahasiswa lebih sering buka buku dan mencari materi atau referensi yang belum dijelaskan oleh dosen. Namun tak ayal, mahasiswa juga lebih memilih kuliah offline dengan alasan bahwa kuliah online lebih banyak sisi negatifnya.Ada pula pendapat bahwa kuliah online tidak enak sama sekali, bukannya paham dengan materi yang diberikan dosen, tapi malah membuatnya sulit mengerti.

Berbagai tanggapan telah disampaikan dan hal itu cukup mewakili mahasiswa lain yang mengeluhkan hal yang sama. Selain sisi negatif, mahasiswa juga tetap mempertimbangkan sisi positif dari kuliah online. Dengan kuliah online banyak hal baru yang didapatkan, mulai dari membuka cakrawala pengetahuan untuk melek teknologi, ikut dalam trend perkembangan zaman yang semakin canggih. Oleh karena itu, setiap orang harus bisa memaknai segala hal dari berbagai sudut pandang. Sehingga, tidak menimbulkan salah kaprah yang berujung sia-sia.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai dosen dan mahasiswa diharapkan bisa memanfaatkan internet dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan internet, mahasiswa dapat melakukan konmunikasi dengan dosen, dengan teman, dengan anggota kelompok, bahkan dengan narasumber lain. Pembelajaran online juga membutuhkan bahan ajar yang menarik dan mudah di pahami oleh mahasiswanya. Oleh karena itu, dosen dan mahasiswa harus bisa bekerjasama untuk mencari dan menemukan metode dan media belajar yang variatif dan inovatif agar tidak membosankan. Dan sebagai generasi muda, momen wabah Corona Virus Disease-19 ini mengundang kita untuk menyatakan jati diri kita. Kita diundang untuk tidak lantas berpangku tangan, berpasrah, dan hanya mengeluh dalam menghadapi pandemi ini. Tindakan-tindakan nyata kita yang kreatif dan inovatif, kiranya dapat kita aplikasikan dalam kehidupan nyata seperti menjadi seorang relawan. Tindakan-tindakan inilah yang menjadi bukti bahwa kita semua adalah warga dunia yang tentu tidak diam atas penderitaan, melainkan memilih menggunakan kesempatan besar yang tersedia ini untuk menyatakan jati diri kita sebagai warga dunia yang berani.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan