Mohon tunggu...
Ainaya Safira
Ainaya Safira Mohon Tunggu... Jangan takut untuk mencoba

Memang baik menjadi orang hebat, tapi lebih hebat menjadi orang baik

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Awal

10 Oktober 2019   09:07 Diperbarui: 10 Oktober 2019   09:06 0 2 0 Mohon Tunggu...

Senin, 3 November 2014 menjadi hari yang bisa dibilang sangat bersejarah bagi Yoga amzar, seorang anak berumur 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas 7 di SMP Taruna Harapan. Tidak ada yang tau dan tidak ada yang menyangka akan hal itu bahkan bagi Yoga sendiri.
      Pagi itu, Bu Asti datang ke kelas tempat saya menimba ilmu bersuka duka dengan teman untuk 3 tahun kedepan, kelas 7 D.
" Assalamualaikum hari ini ibu mau ngasih pengumuman tentang lomba bulan bahasa buat sabtu nanti tanggal 30 Oktober, buat lombanya ada lomba baca puisi, cipta puisi, nyanyi, baca dongeng, story telling terus masih banyak lagi, buat yang minat ikutan nanti bisa sama KM ditulis dikertas 1 lembar ya kalian mau ikutan lomba apanya, oke udah jelas ya semuanya, assalamualaikum" Jelas Bu Asti sambil meninggalkan kelas kita.
"Yo jadi siapa aja yang mau ikutan?" Tanya Rama didepan kelas. Ya Rama adalah ketua murid di kelas kita, seorang yang pintar tapi selalu bercanda dalam segala hal.
"Aku mau ikut baca puisi" ya dia april, wanita yang ikut ekskul bahasa yang bisa dibilang baca puisi itu makanan sehari-harinya.
"Sisanya siapa lagi? Ini story telling mau siapa?" Tanya Rama lagi.
"Goy kamu aja yang ikut, kamu kan jago Inggrisnya."
Ya aku dipanggil Agoy tiap hari, agak aneh sih dipanggil gitu, tapi itu nama panggilan aku dari kecil, mungkin karena dulu banyak nama Yoga jadi mereka manggil aku Agoy, dibalikin gitu namanya. Dan itu Gilang, temen sebangku aku yang orangnya agak nakal tapi serius kalo lagi belajar.
" Ga ah Lang malu kali lah aku kalo disuruh story telling depan banyak orang" Balasku yang langsung ditatapi tajam oleh Gilang.
" Rama, ini si Agoy pengen ikut katanya story telling" Teriak Agoy sambil mengangkat tangannya dan menunjuk padaku.
" Eh gila kamu Lang kenapa jadi aku?"
" Jadi bener kamu mau ikutan Goy?" Tanya Rama dengan serius
" Yaudah deh iya tulisin aja" Balasku yang agak kesal dengan kelakuan Gilang
" Wah Goy madep kamu ikutan" Itu Kiara, dia pinter banget dikelas, Inggrisnya apalagi, tapi dia pemalu ga berani bicara didepan umum.
"Ra temenin dong jangan sendiri aku" Rayuku pada Kiara yang berharap dia menemaniku lomba, tapi Kiara hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya, yang artinya? Ya sebuah tolakan.
"Aku temenin Goy" itu Sandi, temanku yang baik nan pinter yang baik hati yang mau nemenin aku lomba.
" Hah serius San? Tanyaku sekali lagi yang masih tidak percaya dan dibalas dengan anggukan oleh Sandi.
"Ok ini sekarang udah keisi semua ya orang orang yang ikut lomba, sekarang kertasnya mau aku kasihin ke Bu Asti" Jelas Rama yang setelah itu meninggalkan kelas untuk menuju ke ruang guru.
     Sepulang sekolah aku langsung bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah tadi.
"Bu, Agoy ikut lomba story telling" Jelasku pada ibu sepulang sekolah sambil tak lupa salam kepadanya
"Oh bagus dong kalo gitu, latihan yang rajin" Balas ibu sambil tangan kirinya seperti memainkan rambut kepalaku.
"Oh kalo itu pasti" sambil senyum lebar kuberikan padanya.


PERJUANGAN
"Wah banyak amet ini" Kaget Sandi saat melihat kertas story telling yang harus dihafal dan dibaca tanpa melihat nanti.
"Ahh segini sedikit dan cuma sehalaman lebih, bisa lah ini" Balasku yang amat yakin.
"Iya ya pasti bisa lah"

Waktu kertas diberikan menuju lomba kurang lebih sekitar 2 minggu, memang jadi hari yang berat terutama bagi aku, disaat yang lain bisa santai santai, aku harus ngafalin teks story telling buat lomba bulan bahasa. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi kertas hafalan itu ga pernah lepas dari tangan. Emang selama ngafalin itu gaada kendala yang berat, paling cuma di masalah conversation atau pengucapannya aja.
"San ini dibacanya apa?" Tanyaku pada Sandi
"Aduhh Goy aku juga gatau ini, tanyain ke Mrs. Yanni aja yok? Inisiatif Sandi
"Ahh gila kali nanyain yang gitu sama aja nyari mati, bukan dijawab nanti, yang ada malah dimarahin masa yang gini juga gabisa atau apalah itu" Balasku sambil memainkan tangan seperti orang yang sedang berbicara.
"Hmmm bener juga sih, terus mau gimana ini?" Tanya Sandi lagi
"Yaudah lah nanti aja pas lomba kita denger peserta yang lainnya."
"Oke dah"
" Hadeh yang mau lomba ni" Ucap Kiara yang datang dari kantin
"Pas banget ada kamu ra, ini dibacanya apaan? Tanyaku pada Kiara
"Yaelah gini doang masa gatau"
"Iya apa ini dibacanya?" Tanyaku pada Kiara yang dibalas dengan senyuman olehnya
"Ahh jangan bilang kamu juga gatau Ra" Kata Sandi yang mulai kesal dengan kelakuan Kiara. Memang Kiara ini orangnya sering ngeselin, kaya tadi aja contohnya tapi untungnya aja dia pinter.
"Hehehehe" Ketawa Kiara dengan santainya
"Tuh kan bener kamu gatau" Balas Sandi yang benar benar kesal dan pergi keluar kelas.
"Tuh liat Ra temen kamu jadi ngambek hahaha" Kataku sambil menunjuk Sandi yang keluar kelas. Memang Sandi ini bisa dibilang orangnya baperan dan gampang ngambek. Kiara yang melihatnya juga ikut tertawa bersamaku.
"Yaudah aku lanjut dulu ngafalinnya" Kataku pada Kiara yang dibalas dengan kepalan tangan diangkat yang berarti semangat.


PEMBUKTIAN
    Pagi itu tidak seperti pagi biasanya, pagi itu seakan lebih berat dibanding pagi-pagi yang lain, ya hari itu hari lomba bulan bahasa, hari pembuktian akan perjalanan dan perjuangan yang telah dilakukan selama ini.
     Hari ini aku sengaja berangkat lebih awal karena ingin berlatih juga disekolah, sampai di sekolah hanya ada Satrio dikelas.
" Yo bisa bantu ga? Pintaku
"Bisa, emang apaan?"
" Tolong test-in yo ini buat story telling"
"Oh bisa ayo mulai" Bala Satrio. Aku mulai melakukannya dari awal sampai selesai. Dan Satrio memberi jempol padaku setelahnya.
     Lomba dimulai dan aku mendapat nomor urutan 20, memang agak sedih karena bisa dibilang nomor itu bukan nomor keberuntunganku, tapi tak apalah. Akhirnya sampai ke nomor 20, aku mulai melangkah ke panggung, dan mulai melakukan story telling.
      Tegang pada awalnya tetapi sangat lega pada akhirnya, iya itu yang aku rasakan sebelum dan sesudah lomba, signifikan sekali rasanya. Untungnya tidak ada kendala yang berarti saat melakukannya, hanya gemetar ditangan yang tidak bisa tertolong.

    Senin, 3 November 2014 hari itu hari senin, upacara bendera yang sakral dilakukan saat pagi hari. Sesudah upacara, Bu Asti mulai membacakan siapa saja yang menang pada lomba bulan bahasa Sabtu kemarin, sampai akhirnya dibacakan pemenang lomba story telling.
"Ra gaakan menang aku Ra ini" kataku pada Kiara yang berdiri di sampingku sesudah upacara. Kiara hanya diam tidak menjawab apapun.
Bu Asti mulai membacakan siapa pemenang lomba story telling, mulai dari juara 3 dan saat juara 2
"Yoga Amzar dari kelas 7 D" Kata Bu Asti melalui microphone.
"Goy menang Goy" Kata Kiara sambil memukul-mukul badanku.
Aku mulai maju ke tengah lapang dan disana kepala sekolah memberi sebuah piala yang sangat bersejarah, kenapa? Karena itu piala pertama dalam hidupku, sesuatu yang tidak mudah untuk didapatkan, sesuatu yang butuh perjuangan yang besar. Ya memang itu bukan sesuatu yang wah bagi orang lain, orang lain paling mikir itu cuma piala kosong, tapi bagiku itu sesuatu yang tak akan pernah bisa dilupakan sampai tua sekali pun.

Pulang sekolah ibu kaget karena tiba-tiba aku membawa piala.
"Goy itu piala siapa?" Tanya ibu
"Piala Agoy bu, juara 2 story' telling" sambil tersenyum aku membalasnya
"Alhamdulillah perjuangan kamu ga sia-sia" sambung ibu lagi.  Ada rasa bangga disitu karena untuk pertama kalinya liat orangtua terutama ibu bangga kepadaku, bangga kepada anaknya yang berprestasi, senang karena perjuangan anaknya membuahkan hasil, hasil yang tidak diraih dengan mudah.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x