Mohon tunggu...
Ainag Al Ghaniyu
Ainag Al Ghaniyu Mohon Tunggu... a jannah seeker

Writing is healing, a poem is my heartbeat, a prose on my bloodstream

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Pandemi yang Melumat Pintu Rezeki

10 Mei 2021   04:35 Diperbarui: 10 Mei 2021   04:52 320 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pandemi yang Melumat Pintu Rezeki
Gambar : Pixabay

Kedatangan ramadan selalu dinanti suka cita setiap tahun, termasuk oleh para pengusaha. Tak terkecuali ramadan tahun 2020, saat pandemi telah berlangsung selama tiga bulan. Semua orang masih berharap pada naiknya angka-angka belanja, melonjaknya kebutuhan terutama bahan pokok dan pelengkapnya seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagai bagian dari keberkahan ramadan.

Endah adalah seorang perempuan di usia menjelang 40 tahun dengan empat orang anak usia sekolah. Suaminya, Didik, bekerja serabutan, sesekali ngojek, sesekali nukang jika ada yang mengajaknya, atau berjualan apapun yang bisa dijual. Sang istri yang sebenarnya menjadi penggerak utama perusahaan keluarga.

Yang disebut perusahaan ini berjualan aneka komoditi dengan harga tak lebih dari lima puluh ribu setiap item. Penjualannya dengan sistem pre order, karena mereka tak punya lapak, kios, apalagi toko. 

Ya makanan matang, ya baju serta barang fashion lainnya, ya bahan pokok, ya perlengkapan rumah tangga. Semua produk diperolehnya dari beberapa suplier barang murah, dengan pangsa pasar menengah ke bawah.

Omsetnya saat laris paling besar 400 ribu per hari, keuntungannya hanya 30-100 ribu rupiah. Tapi tidak setiap hari dagangannya laku. Suaminya, malah tak tiap bulan dipekerjakan jasanya oleh orang lain, sehingga pilihan terbaik adalah membantu usaha dagang sang istri.

Seperti pedagang lain, Endah berharap ramadan membuka kesempatan pada mereka untuk mengisi dompetnya yang lebih sering kempis dua bulan terakhir. Biasanya pesanan makanan matang untuk berbuka, kue-kue sajian lebaran, baju, atau perlengkapan rumah akan membludak. 

"Kang, nanti Sampean ambil dagangan ke Mbak Sri sekalian mampir ke tokonya Pak Pujo, ya. Pastikan kita dapat stok baru, tapi Sampean tawar lagi harganya lho, Kang. Kita kan jadi resellernya sudah berapa tahun," ucapnya penuh keyakinan pada sang suami menjelang hari pertama puasa.

Suaminya mengangguk. Ia sedang menahan diri untuk tidak menambah nasi di piringnya, karena beras yang tersedia hari itu sudah menipis. Tak tega melihat keempat anaknya yang tengah lahap menandaskan nasi berlauk tempe bacem dan sayur bening di hadapannya.

Ternyata sampai minggu kedua ramadan, dompet mereka tak kunjung menebal.

"Buk, apa ndak jualan masker saja? Kemarin  Kang Rohim nawarin. Tapi aku masih ragu karena Sampean kan belum pernah jualan masker. Kata Kang Rohim, dia juga bikin pembersih tangan itu lho, apa ya, susah nyebut namanya,"

ucap suami sambil menatap wajah lesu sang istri yang tengah menghitung-hitung uang yang terkumpul hari itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x