Mohon tunggu...
Ainag Al Ghaniyu
Ainag Al Ghaniyu Mohon Tunggu... Buruh - a jannah seeker

Writing for healing

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Keseruan Ramadan Seorang Bocah

19 April 2021   16:24 Diperbarui: 19 April 2021   17:35 544
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masa kecilku dihabiskan dengan pindah dari satu kota ke kota yang lain, mengikuti mutasi kerja yang dialami ayahku, yang bekerja di salah satu BUMN di negara ini. Salah satu kota yang pernah kutinggali  saat kecil adalah Nganjuk, sebuah kota kecil dan sepi di Jawa Timur.

Meski hanya tinggal di sana dari TK sampai kelas dua sekolah dasar, masa itu adalah saat aku mulai belajar berpuasa. Pada tahun 80-an, tidak ada anak-anak produk sekolah Islam yang sudah terbiasa melakukan ritual ibadah bahkan sampai menjadi unsur penilaian seperti saat ini. Sehingga belajar berpuasa adalah suatu keterpaksaan bagiku.

Bagaimana tidak terpaksa, jika setiap mendengar adzan, aku akan merengek-rengek supaya diijinkan berbuka. Rasanya menderita sekali, hahaha. 

Beda jauh dengan anak-anak jaman sekarang bukan? Kebanyakan karena lingkungan pergaulan, anak-anak sekarang malah termotivasi puasa penuh, terlebih melihat teman-temannya melakukan hal yang sama.

Setiap sore sepulang dari kantor, ayah akan memboncengku dengan vespanya menuju alun-alun yang terletak di antara masjid jamik dan pendopo kabupaten. Kami berada di sana hanya beberapa menit, sekedar menunggu bunyi meriam terdengar, sebagai penanda waktu berbuka puasa.

Alun-alun kota Nganjuk setiap sore sudah dipadati penduduk yang sama-sama ingin mendengarkan dentuman meriam. Bisalah disebut alternatif kegiatan ngabuburit warga kota kecil tersebut, karena tak banyak pilihan tempat bisa didatangi warga atau kegiatan yang menarik dilakukan.

Sebenarnya aku tidak benar-benar ingat apa yang dibunyikan secara rutin setiap hari selama bulan ramadhan saat itu. Hanya ayahku mengatakan bahwa itu meriam, bekas peninggalan tentara Belanda.

Aku percaya saja, karena bunyinya menggelegar dan mengagetkan, sekalipun aku sudah sering mendengarnya dari jarak dekat. Setiap menjelang detik-detik dibunyikan, aku selalu bersiap menutup kupingku rapat-rapat. Penasaran, tapi takut kaget, hihihi.

Setelah meriam itu dibunyikan, kami pun kembali pulang untuk menikmati makanan berbuka yang telah disiapkan ibu. Rasanya lebih lega mendengar dentuman meriam itu dibanding azan maghrib, hahaha...

Kota berikutnya yang kami tinggali cukup lama adalah Situbondo. Masih kota kecil, yang terletak di jalur pantura (pantai utara) Jawa Timur.

Kota ini saat kutinggali memproklamirkan diri sebagai kota Santri. Jangan salah, kota Santri adalah kepanjangan dari Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi dan Indah. Namun selain sebagai akronim, Situbondo juga dikenal sebagai kota santri yang sesungguhnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pondok pesantren yang berada di seluruh pelosok kabupaten ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun