Mohon tunggu...
Ain Saga
Ain Saga Mohon Tunggu...

bekerja di jakarta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Gadis Kemoceng

26 Januari 2014   06:42 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:28 89 2 9 Mohon Tunggu...

JUdul: Gadis Kemoceng
Oleh: AIN sAGA

Seperti biasa, kuhirup wangi kopi dari Cafe coppucino di seberang apartementku. Mungkin agak sinting, karena Café belum memasang tulisan open, sedang aku telah antri memasukinya.

Sambil membaca surat kabar terbaru, kupesan kopi susu kegemaranku dan sepotong cake berlapis cokelat berbentuk bulat telur. Hm, tak ada siapa-siapa di sana, hanya seorang office girl yang saban pagi selalu bergelut memangkas debu di atas meja lengkap dengan kemoceng di tangannya yang halus.

Sekilas, wajahnya begitu bergairah seperti rembulan bertengger di planet Mars. Ia khusuk menyapu dan mengelap setiap sisi meja dan lantai kafé. Sungguh pekerja yang rajin dan tangguh, pujiku dalam hati. Tiba-tiba hasrat nakal sifat guyonku muncul begitu saja di kepala. Tanpa terlihat olehnya, kusiram isi cangkir kopiku setengah hingga basah dan kotor lantai yang barusan di pelnya penuh semangat.

“ Hei, Nona, kemarilah, kopiku tumpah, tolong dibersihkan, ya!” perintahku berlagak Pak Bos. Si Cantik Gadis Kemoceng-begitulah akhirnya aku menjulukinya- menolehkan kepalanya dan melihat sisi bawah lantai tempatku duduk.

“Apa yang terjadi, Tuan?” ah, ternyata ia tak marah. Suaranya begitu lembut seperti seorang peri dari negeri dongeng. Tanpa berkata sepatah kata, dibersihkannya tumpahan kopiku barusan. Diambilnya lap meja dan kembali ia meliukkan kemoceng di tangannya dengan anggun. Kuperhatikan lentik halus jemarinya yang tengah bekerja. Tubuhnya tinggi semampai dengan pinggang ramping menggoda iman.

“Maaf, ya, membuatmu harus bekerja keras,” kataku kepadanya, seraya memintanya duduk menemaniku barang dua tiga menit saja. Dia menggeleng lemah sambil terus berlalu membersihkan meja lainnya. Gadis misterius, gumamku kecewa tak tahu siapa namanya. Tapi aku tak putus asa. Masih ada hari esok dan esok lagi. Aku takkan menyerah mengenal Si Gadis kemoceng.

Sebelum pergi, masih sempat kulambaikan tanganku ke arahnya. Gadis itu menukarnya dengan sepenggal senyum manis. Matanya tampak besinar terang seperti sinar hangat mentari pagi yang membuatku lebih semangat mengajar di kelas. Ah, andai mahasiswiku ada yang secantik dia? Aku berkhayal sejenak, sebelum telepon genggamku berdering pertanda waktu mengajarku hampir tiba.

“Ketty, Ayah mungkin agak pulang telat, ya. Ada seminar di kampus,” kumatikan telepon selulerku segera setelah yakin, suara di balik teleponku baik-baik saja. Bergegas ku menuju tempat biasa kuhabiskan secangkir kopi sepulang tugas mengajarku sebagai dosen bahasa Inggris.

Ah, Si Gadis kemoceng itu pasti sudah pulang, bisikku merasa patah hati. Tak urung kumasuki café dengan perasaan galau tak tentu. Sebagian meja dan kursi telah terisi penuh para pecandu hang out, maklum malam minggu. Dan kubatalkan pertemuanku dengan anak gadisku Ketty. Paling ia juga akan menghabiskan malam minggunya dengan pacarnya Leon. Sebuah bayangan senyum melabuh hangat di mataku, menarikan sepercik rasa rindu yang gemuruh. Gadis Kemoceng! Siapa lagi? Hatiku mendadak kembali bermekaran bak bunga sakura di musim bercinta.

“Nasi goreng telur seporsi, ya mas!’ kuteriakkan pesananku pada pramusaji yang tengah lewat di dekatku. Suara lembut Sabrina menyanyikan lagu lawas “September Ends” membuat salju rinduku makin menggunung. Beku. Kenapa ia tak muncul? Bisikku kecewa.

Ia, gadis yang begitu saja buatku jatuh cinta, kembali memenuhi sudut hatiku. Senyumnya, lembut jemari lentiknya serta halus perangainya. Ah, siapakah dirinya? Batinku gelisah dihajar sepi di antara keramaian kafe.

Jarum jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk angka setengah duabelas malam. Dan aku bosan menunggu. Kubereskan tas punggung kecilku berisi buku dan beberapa file materi mengajar, dan berlalu pergi seraya mengangsurkan empat lembar gambar Jenderal Soedirman dalam uang tersebut.
Karena tergesa, tak sengaja bahuku menabrak sepasang kekasih yang baru saja makan di ruang yang sama. Aku mendongakkan wajah, memandang pemilik tubuh tinggi semampai di depanku dengan mata terkejut.

“Ketty? Gaun itu? Kenapa kamu yang memakainya?” kuberondong gadis di depanku yang ternyata adalah anakku sendiri dengan pertanyaan yang galau. Darahku terasa mendidih. Mukaku pias seperti mayat hidup. Gemetar aku mengkeram pinggang anak gadisku, yang tak kusangka memakai gaun yang kubelikan minggu lalu untuk Si Gadis Kemoceng.

“Ya, Ayah. Engkau benar sekali, Gadis office girl yang telah membuat ayah kasmaran itu aku, Ketty, anakmu yang tak pernah kaupedulikan. Bahkan aku menyamar dengan pakaian office girl pun, Ayah tak ingat lagi padaku.”

Tangis Ketty pecah di dadaku. Dipukulnya dadaku seperti ingin melampiaskan segala ombak marah yang berapi-api. Aku hanya mampu berdiam dan membiarkan hujan salju dalam dadaku meleleh membakar segala keadaanku. Tak kuduga, Si Gadis kemoceng adalah anak gadisku sendiri. Dan bumi terasa berguncang dalam irama mata peningku. Ketty ... ah, kubetulkan letak kaca mataku seraya menatapnya lekat-lekat. Ada wajah Si Gadis kemoceng di situ. Arrrghh ...!

SELESAI.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x