Aiman Witjaksono
Aiman Witjaksono Wartawan

So Called Journalist

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Caleg Gagal yang Bertingkah Janggal

5 Mei 2019   23:05 Diperbarui: 7 Mei 2019   11:24 791 9 4
Caleg Gagal yang Bertingkah Janggal
ilustrasi sedih - Shutterstock

"Pak saya sudah berikan telur ke 3000 warga, saya siapkan 2 mobil box berisi telur, tapi yang milik saya ga sampai 500 orang!"

PENGAKUAN TULUS, MEREKA YANG GAGAL
"Belum lagi, saat keliling saya dimintai warga uang jajan. Ada yang kopi sampai mie instan. Sekali saja duduk, rencananya mau istirahat di warung, puluhan warga datang, 300 ribu saya ludes, ngga tau itu penjualnya juga gelembungkan jumlahnya mungkin!"

Itu adalah pengakuan tulus seorang tim sukses (timses) salah satu Caleg di Cirebon, Jawa Barat, kepada saya. Ia membantu caleg agar terpilih, tapi dari hasil penghitungan C1 di daerahnya, hampir dapat dipastikan, sang caleg gagal. Sang Timses pun buntung. Harta benda habis-habisan, tak jarang yang tersisa hanya utang.

Ada pula seorang Caleg yang saya wawancara, mengaku tidak ada yang berbeda dengannya. Tapi lepas saya wawancara, pandangan matanya menerawang dengan rokok yang saya perhatikan tak pernah lepas dari hisapan selama 2 jam saya berada di sebuah padepokan yang dipercayanya bisa membantu mengurangi kegelisahan pasca gagal maju menjadi Caleg sebuah partai.

Keduanya saya wawancara dengan identitas tertutup. Karena yang bersangkutan malu jika tampak dan dilihat kerabatnya melalui TV nanti. 

KUMANDANGKAN AZAN SEBELUM WAKTUNYA
Bahkan ada salah seorang Caleg gagal dari partai lainnya, tiba-tiba mengumandangkan azan di masjid sebelum waktu shalat tiba. Saat diingatkan oleh pengurus masjid, sang Caleg mengatakan, "Siapa yang berani melarang saya, saya ini sebentar lagi jadi ketua dewan!"

UANG HABIS UNTUK SERANGAN FAJAR
Pengumuman lolos atau tidaknya sang Caleg memang masih menunggu keputusan resmi KPU pada 22 Mei 2019, mendatang. Tapi sebagian besar dari mereka sudah mengetahui hasilnya, karena lingkup pemilihan daerah yang tidak terlalu besar.

Faktanya hanya sebagian kecil dari para caleg yang lolos. Sisanya gagal. Padahal mereka sudah mengeluarkan uang ratusan hingga miliaran rupiah, dan sebagian besar digunakan untuk "serangan fajar"! Luar biasa!

Sejak Pemilu 2009 hingga Tahun 2014 Kementerian Kesehatan mencatat ada ribuan caleg gagal mengalami depresi. Sekitar 7000 lebih caleg gagal pada pemilu 2009 sempat berobat di sejumlah rumah sakit terkait guncangan pada dirinya. Tahun ini jumlahnya diperkirakan meningkat, karena banyaknya Parpol peserta pemilu dan banyaknya caleg yang berkontestasi melebihi dari pemilu yang pernah ada di Indonesia.

Data dari KPU RI ada 245.106 Caleg di seluruh Indonesia yang berlaga pada pemilu kali ini. Adapula bahkan partai yang dalam satu daerah pemilihan kabupaten, memiliki caleg lebih dari 10 calon. Pada faktanya, tak ada satupun caleg itu yang berhasil tembus. Rata-rata pada setiap partai papan atas, hanya tembus 1 hingga 2 caleg dari setiap daerah pemilihan. Untuk mencapai angka 2 caleg per dapil per partai itupun tergolong sulit.

DARI DEPRESI HINGGA TRAGEDI
Per hari minggu (28/4) kemarin selain Caleg gagal, juga ada 287 penyelenggara pemilu yang gugur karena berbagai sebab seperti stroke dan asam lambung. Tapi faktor pencetus utamanya adalah kelelahan. Selama sepuluh hari berturut - turut sejak persiapan hingga penghitungan 5 kotak suara (kecuali DKI Jakarta, 4 kotak suara), sungguh pekerjaan yang luar biasa.

Selama sepuluh hari itu pula, para penyelenggara pemilu di TPS hingga penghitungan kecamatan, yang rata - rata berusia di atas 40, bahkan tak jarang di atas 60 tahun harus tidur 2 hingga 3 jam per hari saja.

Pemilu memang telah berlalu, tapi masalah yang tersisa ini tak bisa dianggap hal biasa. Ratusan meninggal, sebagian depresi hingga gangguan jiwa. Di tengah harapan yang ada, Presiden dan wakil rakyat nantinya, harus segera menyusun aturan baru pemilu.

Sederhana dan wajar jadi pertimbangan, dimana amanat penderitaan rakyat jadi pikiran utama.

Saya Aiman Witjaksono...

Salam!