Mohon tunggu...
NIA
NIA Mohon Tunggu... Penulis - Finding place for ...

- Painting by the words

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Latata

1 November 2020   14:15 Diperbarui: 1 November 2020   14:17 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sang Ibu menghela napas. “Jika ujiannya susah, mengapa ada teman kamu yang mendapat empat bintang, sedangkan kamu tidak? Jika Ayahmu tahu nilaimu seperti ini, dia pasti akan marah, Latata. Ujian berikutnya, kamu harus lebih baik dari ini. Belajar yang sungguh-sungguh.” Latata menyanggupi.

Waktu terus bergulir, ujian kembali diselenggarakan. Latata pulang ke rumah dengan senyuman mengembang saat menunjukkan hasil belajar pada orangtuanya.

“Lima bintang itu skor penuh, bukan?” Ibunda Latata bertanya pada suaminya yang sedang mengamati hasil ujian Latata, lalu dibalas dengan anggukan. “Tapi mengapa Latata ada diurutan kedua?”

Mendengar itu, rasa senang di hati Latata meredup. “Itu karena temanku lebih dulu menyelesaikan ujiannya, jadi dia mendapat peringkat satu.”

Ayahanda dan Ibundanya mengangguk.

“Lain kali, kamu harus bisa mendapat peringkat satu juga,” ucap Ayahanda. Latata kembali menyanggupi.

Waktu bergulir kembali, ujian diselenggarakan lagi. Kali ini sedikit berbeda, dimana ujian dilakukan untuk semua ilmu yang diajarkan sebagai syarat untuk naik tingkatan yang lebih tinggi. Jadi, peringkat akan ditentukan dari total skor semua bidang ilmu.

“Ibunda... Ayahanda... Aku dapat peringkat satu!” teriak Latata sembari melambai-lambaikan hasil ujian naik tingkat. Dia yakin sekali jika kali ini orangtuanya akan memujinya, mengatakan jika dirinya pintar.

“Di sekolah lain, murid yang meraih peringkat satu, nilainya lebih tinggi darimu, Latata. Jika kamu menginginkan gelar sempurna, maka menjadi nomor satu tidaklah cukup. Kamu harus menjadi yang terbaik. Itu syarat untuk menjadi manusia yang berhasil, seperti saudara sepupumu.”

Latata menyimak petuah Ayahnya. Ada kekecewaan bersemayam di hati. Ia merasa segala yang dilakukan tidak pernuh cukup untuk membuat hati orangtuanya senang. Seakan ia telah gagal membuat mereka bangga memilikinya. Namun, di sisi lain, ucapan Sang Ayah sudah tentu benarnya. Anak dari adik Ibu dan Ayahnya adalah buktinya. Sebab itu, ia pun ingin mencapai hal yang sama.

Siang dan malam ia belajar hingga mengorbankan waktu tidur, mengabaikan waktu bermain. Namun karena raganya yang telah lelah, pikirannya sulit untuk memahami isi buku yang dibaca. Meski begitu, Latata tidak mengenal kata menyerah. Tekadnya telah bulat. Ia ingin membuat Ayah dan Ibunya bangga, lalu memujinya. Hingga ujian kenaikan tingkat kembali diselenggarakan, Latata harus rela menerima kenyataan jika usahanya tidak berbuah sesuai harapan. Ia meraih peringkat satu, tapi bukan yang terbaik. Membuatnya ragu untuk melangkahkan kaki ke rumah dan menjumpai orangtuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun