Yosilia Nursakina
Yosilia Nursakina Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Hati-hati Perkembangan Anak Terhambat Akibat Bermain Gawai Berlebihan

11 Februari 2019   21:14 Diperbarui: 12 Februari 2019   03:58 306 6 2
Hati-hati Perkembangan Anak Terhambat Akibat Bermain Gawai Berlebihan
heart.co.uk

Membesarkan anak generasi digital memang banyak tantangannya. Bagaimana tidak? Saat ini, kita harus 'bersaing' dengan HP dan gadget lainnya untuk mendapatkan perhatian anak-anak.

Rasanya anak dan gadget sulit sekali dipisahkan. Sembari sarapan, mereka memainkan games Plants vs Zombies. Ketika ada acara keluarga, mereka menotnon Youtube. Lalu sebelum tidur, Youtube lagi yang dikunjungi. Bahkan di keluarga yang berkecukupan, tiap anak sudah punya iPad-nya masing-masing.

Mau mencoba membuat anak marah atau menangis? Mudah saja. Ambil gadget mereka. Saking ketergantungannya, mereka pasti akan mencoba untuk mendapatkan gadget itu kembali.

Lucu? Menurut saya, ini adalah fenomena yang ironis. Teknologi yang seharusnya membantu kehidupan manusia, justru memperbudak generasi muda Indonesia.

Memang apa salahnya menggunakan gadget?

Tidak, tidak salah. Gadget bisa memudahkan anak mendapatkan wawasan yang luas dan bermanfaat, itu benar. Namun, ketika penggunaannya berlebihan dan tidak diawasi, justru akan berdampak buruk pada anak, terlebih jika anak tersebut berusia kurang dari 5 tahun.

Lima tahun pertama merupakan masa yang paling kritis bagi perkembangan anak agar anak dapat tumbuh secara optimal. Mereka harus bisa mengeksplorasi lingkungannya dan mengasah keingintahuannya, baik lewat membaca atau bermain dengan permainan blok atau puzzle. Mereka seharusnya dapat mengembangkan kemampuan motoriknya dengan bergerak aktif. Usia dini seperti ini juga masa-masa dimana mereka belajar berinteraksi secara verbal dan nonverbal dengan orangtua atau pengasuh.

Semua hal ini mustahil didapatkan jika mereka menghabiskan banyak waktu di depan layar alat elektronik.

Ketika anak-anak menatap layar alat elektronik, maka mereka dapat melewatkan kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan kemampuan interpersonal, motorik, dan komunikasi. Mereka justru akan lebih sedenter dan tidak banyak bergerak aktif. Hanya duduk saja seharian. Padahal seharusnya anak-anak bisa bebas berlari kesana kemari dengan mengeksplorasi lingkungannya.

Akhirnya, perkembangan motorik mereka akan terhambat. Belum lagi interaksi mereka dengan orang tua atau caregiver akan semakin sedikit, sehingga akan semakin sulit bagi anak untuk mempelajari interaksi sosial verbal dan nonverbal.

Tidak percaya? Sekarang mari kita berhenti berasumsi dan melihat fakta yang ada.

Di Amerika Serikat, sekitar 98% anak berusia 0-8 tahun memiliki akses internet di rumah, dan rata-rata menghabiskan waktu 2 jam di depan layar alat elektronik.

Tahukah Anda? Saat memasuki sekolah, 1 dari 4 anak di Amerika Serikat menunjukkan perlambatan perkembangan bahasa, komunikasi, kemampuan motorik, dan/atau sosioemosional.

Karena penasaran, akhirnya American Academy of Pediatrics melakukan sebuah riset untuk melihat penggunaan gadget dari 2.441 anak. Mereka memantau anak-anak tersebut dari lahir hingga berusia 5 tahun, lalu melihat performa kecerdasan mereka. Hasilnya, paparan terhadap layar alat elektronik yang berlebih pada 36 bulan pertama dapat menghambat perkembangan anak pada usia 60 bulan.

Nah, bayangkan betapa banyaknya generasi penerus bangsa yang perkembangan motorik atau kognitifnya terhambat di masa depan nanti jika hal ini terus dibiarkan. Bagaimana kita bisa menghadapi bonus demografi, atau lebih besar lagi, Revolusi Industri 4.0 dengan kondisi seperti ini?

Lalu, bagaimana caranya membesarkan anak generasi digital ini? 

Pada prinsipnya, teknologi akan memiliki dampak positif ketika digunakan secara bijak. Perlu diingat bahwa metode paling efektif dalam mempercepat perkembangan anak tetaplah interaksi yang berkualitas antara anak dan orang tua.

Kita juga harus dapat merancang rencana terkait penggunaan gadget (media plan). Isinya dapat berupa peraturan dan batasan terkait penggunaan gadget, misalkan anak tidak boleh menggunakan gadget pada saat makan malam atau dalam perjalanan di mobil.

Kita juga dapat menetapkan area-area bebas gadget di rumah, misalkan di kamar tidur. Pada dasarnya, interaksi keluarga dan aktivitas fisik yang adekuat harus lebih diprioritaskan. Aktivitas online dan offline harus bisa kita seimbangkan.

Berikut adalah rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Anak Amerika yang bisa Anda 'contek' untuk pembuatan media plan Anda:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2