Ahmad Humaidi
Ahmad Humaidi Freelance Writer

Mulai Menulis Dari MEDIA NOLTIGA (FMIPA UI), Sriwijaya Post, magang Kompas, Sumsel Post hingga sekarang tiada berhenti menulis... Menulis adalah amalan sholeh bagi diri dan bagi pembaca sepanjang menulis kebenaran dan melawan kebatilan.....

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Prasangka Buruk Muslim Ahmad Faiz, Prasangka Baik Kristen Jannes

17 Mei 2018   07:10 Diperbarui: 17 Mei 2018   07:18 917 2 1
Prasangka Buruk Muslim Ahmad Faiz, Prasangka Baik Kristen Jannes
kolase

Meninggalnya almarhum Dita Upriyanto berikut istri dan keempat anaknya dalam peristiwa ledakan bom di luar tiga gedung gereja di Surabaya menarik perhatian banyak orang di Indonesia bahkan juga di luar negeri. Sebab pihak kepolisian menyebut semua pelakunya adalah para tersangka teroris. Termasuk jaringan teroris Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Bagian dari jaringan teroris Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) lagi berkaitan erat dengan ISIS di Suriah.

Itulah mungkin yang untuk pertama kalinya di dunia para tersangka teroris dalam satu keluarga meninggal dunia karena ledakan bom yang dibawanya. Yang biasanya terjadi adalah teroris Amerika dan Zionis Israel membom satu keluarga Muslim hingga menjadi syuhada secara bersama.

Kejadian itu juga menarik perhatian teman2 almarhum baik yang satu sekolah yaitu Ahmad Faiz maupun yang satu kelas yaitu Jannes H Silitonga di SMAN 5 Surabaya. Hanya saja komentar dan tanggapan keduanya berbeda dan bertolak belakang berdasarkan sisi pandangnya masing2 saat tampil dalam ILC TVOne. Ahmad Faiz yang Muslim berdasarkan prasangka buruk (presumption of guilt) sebaliknya Jannes yang Kristen berdasarkan prasangka baik (presumption of innocence).

Ahmad Faiz yang masuk sekolah ketika Dita sudah keluar sekolah (alumni) menyatakan sudah memperkirakan sejak dulu kalau Dita nantinya menjadi teroris sesuai tuduhan polisi. Dita yang dikenalnya adalah radikal dan intoleran. "Saya tidak terlalu kaget Dita meledakkan diri bersama keluarganya," katanya sebagaimana disebarluaskan media2 massa ke mana2 dan di mana2.

Dengan demikian menurut Ahmad Faiz, bibit2 terorisme telah tertanam sejak Dita masih duduk di SMA. Lalu tumbuh dan berkembang selepas lulus dari SMA selama 25 tahun. Hasilnya berupa tindakan bunuh diri dengan meledakkan bom di luar gedung gereja.

Jannes H Silitonga yang masuk sekolah bersamaan dengan masuk sekolahnya Dita dan bahkan satu kelas  menyatakan Dita tidak ada pemikiran radikal dan intoleran sebagaimana dinyatakan Ahmad Faiz. "Dita yang kami kenal selama tiga tahun tidak radikal dan intoleran," katanya berusaha menepis dan mengklarifikasi semua tuduhan jahat terhadap Dita dari Ahmad Faiz.

Dengan demikian menurut Jannes, selagi Dita masih duduk di SMA menunjukkan dirinya baik2 saja terbukti tidak pernah dipanggil guru BP. Karenanya perlu ditelusuri lebih lanjut keberadaan Dita sehingga menjadi korban bom meledak lalu polisi menuduhnya sebagai teroris.

Sebenarnya berdasarkan kedekatan kesaksian maka kesaksian Jannes H Silitonga meskipun Kristen bisa lebih dipercaya dari kesaksian Ahmad Faiz yang Muslim. Pasalnya, Jannes adalah kawan satu kelas dari almarhum Dita sedangkan Ahmad bukan kawan satu kelas bahkan juga bukan satu sekolahan karena ketika Ahmad masuk SMAN 5 justru Dita sudah menjadi alumnus.

TAMPAKNYA UNTUK BISA BERPRASANGKA BAIK TIDAK HARUS SESEORANG MENJADI MUSLIM TERLEBIH DAHULU. Kristen atau Non Muslim juga bisa berprasangka baik sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran yang melarang berprsangka buruk. Tertulis jelas dalam Al Quran  yang menjadi petunjuk dan pedoman hidup Muslim2: "WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JAUHILAH KEBANYAKAN DARI PRASANGKA (BURUK), SESUNGGUHNYA SEBAGIAN DARI PRASANGKA (BURUK) ITU ADALAH DOSA ...". (Al-Hujuraat 49: 12).

Hal itu dibuktikan Jannes yang Kristen berprasangka baik terhadap Dita yang Muslim. Sebaliknya Ahmad yang Muslim berprasangka buruk terhadap Dita yang Muslim. Logikanya mestinya Jannes yang Kristen berprasangka buruk terhadap Dita yang Muslim sebaliknya Ahmad yang Muslim berprasangka baik terhadap Dita yang Muslim.

PADA DASARNYA SESUAI FITRAHNYA SETIAP MANUSIA MENGINGINKAN KEBAIKAN DAN CENDERUNG BERPRASANGKA BAIK. Hanya gara2 ketidaktahuan atau kebodohan, kepentingan pribadi dan kecintaan duniawi saja yang menyebabkan manusia yang cenderung berprasangka baik berubah menjadi berprasangka buruk. Bisa jadi ada kepentingan pribadi yang menyebabkan Ahmad Faiz berprasangka buruk. Bisa jadi pula tidak ada kepentingan pribadi yang menyebabkan Jannes H Silitong berprasangka baik.

Begitu pula dalam kehidupan Muslim2 di negeri berkat rahmat Allah bernama RI atau NKRI sebagian Muslim seringkali berprasangka buruk terhadap Muslim2 lainnya. Kapolri yang Muslim berprasangka buruk terhadap Dita yang katanya baru pulang dari berjihad di Suriah dibawah teroris ISIS. Sebaliknya Davis Lipson yang Kristen berprasangka baik terhadap Dita yang tidak pernah pergi ke Suriah apalagi bergabung dengan ISIS sehingga mampu merakit bom.

Prasangka2 buruk itu pula yang dialami dan dirasakan Habib Rizieq Syihab (HRS) dari sebagian Muslim2 karena ketidaktahuannya, kepentingan pribadinya dan kecintaan duniawinya. Mereka menuduh HRS sebagai radikal, intoleran, teroris, anti Pancasila, anti Kebhinekaan dan berbagai tuduhan buruk lainnya. Padahal teman2 sekolah HRS di SD Kristen Bethel dan tetangga2 HRS yang Kristen menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana baiknya dan sopannya HRS dengan masyarakatnya apapun agamanya, kedudukan sosialnya dan warna kulitnya. HRS berusaha menampilkan diri sesuai dengan teladan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.