Mohon tunggu...
Ahonk bae
Ahonk bae Mohon Tunggu... Menulis Untuk Perdaban

Membaca, Bertanya & Menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

KH Husein Muhammad Soal NU Muda Progresif

19 Februari 2021   08:56 Diperbarui: 19 Februari 2021   09:41 130 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
KH Husein Muhammad Soal NU Muda Progresif
Doukmen Pribadi

Dalam satu dasawarsa ini kita telah bersama menyaksikan sebuah geliat atas dinamika pemikiran Islam di kalangan intelektual muda NU yang sangat begitu menarik serta menggembirakan.

Dalam banyak ruang, hampir setiap hari di banyak sudut komunitas anak-anak muda NU terpelajar berlangsung perdebatan-perdebatan serta dialog-dialog intelektual yang menarik dan menakjubkan: begitu progresif, dan terkesan bebas, cerdas, keras, tetapi juga tetap luwes. Mereka juga tetap saja menunjukkan sikap-sikap etis ala Islam pesantren, saling menghargai dan bercanda ria sebagai simbol keluesannya.

Betapapun saya menikmati, semangat intelektualisme yang disuguhkan mereka. Saya pikir jika demikian keadaannya, maka Islam dan lebih khusus lagi NU punya harapan lebih baik di masa depan. Ini karena saya percaya pada keniscayaan perubahan ke arah kehidupan dunia yang lebih terbuka dan ke depan, bukan ke belakang. "Berhenti berarti mati", kata Mohammad Iqbal.

Seiring dengan mencuatnya fenomena progresifitas dan sering menampilkan kesan liberal atau bahkan di stigmakan liberal tersebut konon acap kali mengganggu dan mengusik ketenangan kesan tradisionalisme dan kenyamanan konservatisme. Sebagian tokoh NU acap dibikin gerah oleh ulah pemikiran mereka yang dinilai konon "kebablasan", dalam bahasa lainnya melampaui tradisi.

Secara parsial, masyarakat muslim yang sering disebut fundamentalis radikal, justeru memandang kebebasan berpikir itu sebagai gagasan dan pikiran yang sesat dan menyesatkan umat. Kemudian muncul istilah yang dipopulerkan mereka untuk kelompok muslim progresif tersebut adalah JIL, Jaringan Islam Liberal. Mereka mengasumsikan bahwa kelompok pemikir progresif itu atau JIL tersebut sedang berupaya menggerogoti dan merusak Islam dari dalam. Tokoh JIL paling berpengaruh adalah Gus Ulil Abshar Abdallah.

Hingga JIL menurut kelompok radikal itu, membawa sekaligus mengusung sebuah ideologi Barat yang sekuler dan anti Islam. Kecurigaan mereka terhadap kelompok NU progresif tersebut begitu kuat. Bahkan mereka tak berhenti memengaruhi dan mengajak para ulama NU untuk mewaspadai gerakan mereka bahkan didesak untuk menghentikan gerakannya.

Akan tetapi saya percaya sepenuhnya bahwa gelombang intelektualisme itu sama sekali tidak menyimpan agenda ideology manapun, tidak mereduksi, alih-alih merusak Islam dari dalam, melainkan justeru dalam upaya menghidupkan kembali agama ini sebagai agama yang maju dan bergerak ke depan sejalan dengan gerak alam.  

Generasi muda progresif itu melihat dengan sikap prihatin keberadaan kaum muslimin di negerinya yang telah cukup lama dalam keadaan stagnan, berhenti berpikir dan bahkan mundur. Membiarkan keadaan terus berlangsung akan membuat masa depan kaum muslimin semakin suram.

Kemudian dalam suatu masa, pemikiran kaum muslimin yang lambat dan cenderung stagnan itu tampaknya juga telah lama menggelisahkan pikiran tokoh besar NU, Abdurrahman Wahid atau yang popular dikenal Gus Dur.

Pada awal tampil sebagai pemimpin puncak NU melalui muktamarnya di Situbondo tahun 1984M, Gus Dur secara terus menerus membuka keran-keran pikiran yang mampat. Ia dengan tanpa beban cultural terus menerus melancarkan pikiran-pikiran controversial dalam sejumlah masalah.

Sebagian besar, kalau tidak seluruhnya, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sejalan dengan pikiran mainstream masyarakat muslim sendiri, termasuk juga di kalangan para ulama NU. Hampir semua orang tahu Gus Dur kemudian mendapat serangan balik yang keras dari banyak kalangan terutama dari kalangan kaum puritan dan fundamentalis. Gus Dur juga pernah "diadili" oleh para ulama ketika hadir di Pondok Pesantren Dar al Tauhid Cirebon.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN