Mohon tunggu...
YUDIAR ARRASYID
YUDIAR ARRASYID Mohon Tunggu... Guru - Guru Kehidupan, Social Helper.

Tertarik pada bidang pendidikan, psikologi dan Parenting

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Beasiswa ke Bandung

2 Februari 2023   10:33 Diperbarui: 2 Februari 2023   10:38 200
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pagi itu menjadi awal cerita yang sangat mengharukan bagiku, dan tentunya orang tuaku. Tik...tik...tik...bunyi jam dinding yang menemani kesepianku pagi itu, karena ibuku pergi bekerja, berjualan di salah satu SD tempat dulu aku bersekolah, dan sekarang adikku juga menimba ilmu di sana. 

Sedangkan kakak perempuanku ikut suaminya pindah ke kampung tetangga. Jam menunjukan pukul delapan pagi, dan aku keasyikan nonton televisi, kartun kesayanganku depan ruang tamu. Hari itu begitu sunyi, hanya ada suara kokokan ayam di sekitar rumah dan hiruk pikuk suara motor lalu lalang yang terdengar dari jalan raya.

Sembari aku nonton, jari jemariku dengan lihai mengetik sms, membalas pesan-pesan humor dari teman sekelasku, karena saat itu kami diliburkan sembari menunggu hasil UN, yang telah kami jalani sebulan yang lalu. 

Ada yang bilang kangen, ingin sekolah, ada yang sibuk mencari pekerjaan, ada pula dua orang temanku yang sudah lebih dulu melangkahkan kakinya menuju pulau Jawa. 

Mereka meninggalkan kampung halaman lebih dulu menuju kota Jogja, karena lebih dulu lulus tes untuk menjadi staf pramugari. Rizki dan Diana namanya. Wanita paling tinggi, cantik, dan cukup cerdas di kelas, jadi wajar saja kalau mereka memilih bekerja di dunia penerbangan.

Masuk kuliah ke perguruan tinggi merupakan impian kami semua, termasuk aku. Dengan mereka kami sering bercerita dan bercanda di kelas akan kemana dan mau apa setelah lulus sekolah nanti. 

Ada yang bilang mereka ingin kuliah di luar Bangka, dan memang benar, beberapa temanku ada yang ingin sekali kuliah di luar, salah satunya adalah UNSRI di Palembang.

Ramadhani, sosok pemimpin yang sangat berani dan kerja keras. Rama, begitulah panggilan akrabnya. Ia merupakan sosok yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masa putih abu-abu kami saat itu. Tak heran, kalau ia selalu terpilih menjadi menjadi ketua kelas sejak kami duduk di kelas 2 SMA. Ia sosok laki-laki yang pemberani dan kerja keras, namun terkadang ia konyol dan selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman di kelas karena tingkahnya yang lucu.

Sayangnya, tak banyak teman saya yang bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bekerja membanting tulang membantu keluarga mereka. Bahkan banyak teman-teman yang sudah mulai bekerja sejak ujian sekolah selesai, karena tak ada lagi aktvitas di sekolah, dan kami hanya menunggu pengumuman kelulusan ujian sekolah, dan ujian masuk perguruan tinggi.

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari pengumuman kelulusan yang ditunggu telah tiba. Aku tak merasakan apa-apa, kecuali rasa khawatir dan takut, karena hari ini mengingatkanku 3 tahun lalu saat pengumuman kelulusan SMP. Ini bukan tentang diriku, tapi teman-temanku. Saat itu kami begitu khawatir dan ketakutan saat detik-detik pengumuman kelulusan. 

Sudah menjadi fenomena tahunan jika banyak siswa kelas IX yang tidak lulus, termasuk angkatan saya. Banjir air mata selalu menjadi pemandangan  yang tak bisa dibendung. Bahkan banyak orang tua yang memarahi anaknya yang tidak lulus, ada pula orang tua yang tega memukul dan menampar anaknya yang kerap kali dianggap nakal dan bodoh.

Terlintas dibenakku, teringat pada salah satu temanku yang pernah merasakan sakit dan pedihnya ketika tidak lulus, seketika itu dia juga dimarahi orang tuanya, di tengah keramaian hari kelulusan. "Dasar bodoh, itulah akibatnya kalau kamu tak pernah mendengar nasihat orang tua, disuruh belajar malah keluyuran, dasar anak nakal, pembantah, mau jadi apa kamu nanti, kalau ujian saja tidak lulus". 

Itulah yang dirasakan Yuda saat itu, "sudah jatuh, tertimpa tangga", itulah kiranya ungkapan yang tepat untuknya saat itu. Aku mencoba tidak ingin mengingat semua itu terlalu jauh. Karena disamping itu, aku tidak ingin mengingat hal pahit saat aku tidak lagi didampingi ayahku untuk menerima raport ataupun kelulusan. Kadang aku merasa iri, di saat teman-temanku didampingi orang tuanya, aku hanya ditemani kakak perempuanku.

Ingatan tentang peristiwa itu tiba-tiba bergejolak kembali, kecelekaan yang menimpa ibu dan ayahku seminggu sebelum aku menerima raport kelas VII SMP. Tepat saat hari kenaikan kelas itu lah, ayahku menghembuskan napas terakhirnya. 

Seluruh detail peristiwa itu mampu kutelusuri kembali, aku seakan hanya bercerita pada diriku sendiri, tak ada yang tau memang tentang perasaanku saat itu, yang jelas, aku hanyalah anak kecil yang belum begitu paham tentang sebuah perpisahan. 

Perpisahan antara seorang ayah dengan istri dan anak-anaknya. Perpisahan abadi, di mana kami tak bisa lagi melihat perjuangan seorang ayah yang berjuang untuk membahagiakan anak-anaknya. Belum sempat adikku mencicipi kasih sayang dari ayahku, karena saat itu usia adikku baru menginjak dua tahun. Aku mungkin masih polos, namun hatiku tak dapat berdusta, kalau sebenarnya aku sedih dan tak berdaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun