Mohon tunggu...
Ahmad Yudi S
Ahmad Yudi S Mohon Tunggu... #Ngopi-isme

Aku Melamun Maka Aku Ada

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Antara Cinta dan Pengkhianatan

23 Februari 2019   20:20 Diperbarui: 23 Februari 2019   21:02 0 0 0 Mohon Tunggu...
Antara Cinta dan Pengkhianatan
Doc. Pribadi

Sudah 6 tahun ini Bang Liem meninggal. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan kenangan bagi keluarganya, namun juga bagiku. Bang Liem sendiri telah menganggapku seperti adiknya sendiri. Juga Ibunya yang juga telah kuanggap seperti ibuku sendiri. "Chan", panggil Nyonya Wu membuyarkan lamunanku. 

Seorang Ibu yang berbesar hati telah melepas kepergian Bang Liem dan di hari ulang tahun anaknya pun ia masih merayakan dengan berbagi rezeki dengan anak yatim piatu di panti asuhan yang letaknya tak jauh dari rumah.

"Iya Ma", jawabku mendekatinya. "Nak Chan, abangmu Liem, dia sudah pergi 6 tahun ini. Tapi masih saja aku sulit untuk melupakannya. Kau juga begitu bukan?". Mendengarnya membuat hatiku menjadi berat. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kepadanya. Memang sulit melupakannya, juga perasaan seorang Ibu yang tak dapat membendung kerinduan kepada anaknya yang tak mungkin kembali lagi.

Setelah menemani Nyonya Wu seharian di panti asuhan, sorenya aku langsung pamit dengan membawa sekantong jeruk mandarin pemberian Nyonya Wu. Malam yang melankolis. 

Aku teringat akan Nyonya Wu yang dalam beberapa bulan kedepan ia akan pindah ke Singkawang, ke tempat asalnya. Beberapa benda peninggalan Bang Liem diberikan kepadaku. Nyonya Wu tak ingin terus-menerus memberatkan hatinya dengan barang-barang peninggalan anak semata wayangnya. Sebagian lagi ia bawa pergi bersamanya ketika hijrah nanti.

Malam itu hujan turun. Beberapa hari setelah hari raya imlek hujan masih turun sampai hari ini. "Chan", sahut Ibu dari dapur. "Iya Bu!". Aku berjalan menuju ke dapur. "SMA Kanisius sudah buka pendaftaran murid baru. Besok ibu akan mengantarkan kamu mendaftar". Aku cuma mengangguk lalu kembali masuk ke kamar membereskan barang-barang peninggalan Bang Liem sebelum beranjak tidur.

Seperti biasa, pagi ini Ibukota riuh disesaki arus kendaraan dan para pedagang. Angkot-angkot pada ngetam di pinggir jalan berebut penumpang. Rumahku berada di daerah penuh penduduk, hanya kendaraan roda dua yang dapat masuk ke sini karena jalanan yang sempit berupa gang-gang yang bercabang. Setelah berjalan beberapa meter dari rumah, aku dan Ibu sampai di jalan besar menanti angkot yang akan lewat.

"Chan, saat daftar nanti, kamu mau ambil jurusan apa?" tanya Ibu. Aku berpikir sejenak, memilah-milah beberapa kemungkinan, menimbang plus minus jurusan yang hendak ku ambil. "Sepertinya Chan akan ambil IPA saja bu", jawabku. Ibu hanya mengangguk tersenyum, melihat anaknya sudah mampu memutuskan sendiri jalan hidupnya. Tak lama kemudian angkot berhenti di depan kami kemudian membawa kami pergi menuju SMA Kanisius.

Usai mendaftar, beberapa hari kemudian keluar pengumuman dari SMA Kanisius dan aku diterima menjadi murid barunya. "Selamat Chan! Semoga kamu betah disini", Ibu memberi semangat. Ibu memelukku dan aku mencium pipinya.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA Kanisius. Seperti biasa adik kelas menjalani masa perpeloncoan oleh seniornya. "Hei kamu! Kenapa tidak menggunakan sepatu seperti yang lain? Kamu tidak mendengar pengumuman kemarin hah!", bentak seorang senior kepada seorang murid baru. Dengan tatapan yang tajam, tangannya yang besar menunjuk ke arah seorang perempuan disebelahku. "Chan, bagaimana ini..", tangannya gemetar memegangi tanganku. 

"Tenang Ra, kamu jelaskan saja kepadanya mengapa kamu menggunakan sepatu ini", bisikku menenangkannya. "Kamu ikut saya sekarang ke ruang osis. Kamu juga ikut!", tangannya pun menunjuk ke arahku. Suasana yang tegang seketika kembali renggang setelah aku dan Ara meninggalkan ruangan perpeloncoan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x