Ahmad Yudi S
Ahmad Yudi S Mahasiswa Kesehatan Masyarakat - STIKes Respati Tasikmalaya

Founder Pers Mahasiswa REKAMREST, Health Education, Journalist Traveler & Freelance writer. “Di mana pun saya menemukan tempat untuk duduk dan menulis, di situlah rumah saya.” (MT) Facebook : www.facebook.com/radenyudistira090300 Instagram : www.instagram.com/radenyudistira09 Blog : www.ahmadyudis.blogspot.com LinkedIn : https://www.linkedin.com/in/ahmad-yudi-s-29899214b Google+ : https://plus.google.com/117728815624246680752 Kesmas-id : http://kesmas-id.com/author/yudi/ Nulis : http://nulis.co.id/?author=6935 Traveler-id : https://traveler.id/user/ahmadyudi/ Youtube : https://m.youtube.com/channel/UC3JdwmDi80eyofdCuvCjhQw Explore Tasik : http://www.exploretasik.net/author/ahmad-yudi-s/

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Menyoal tentang Jalan Sukaratu yang (Masih) Belum Usai Penderitaanya

12 September 2018   08:58 Diperbarui: 12 September 2018   13:24 261 0 1
Menyoal tentang Jalan Sukaratu yang (Masih) Belum Usai Penderitaanya
Kondisi Jalan Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya yang separuhnya masih belum teraspal kembali. Dokpri

Ini merupakan tulisanku yang kali kedua membahas tentang kondisi jalan kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya, yang tulisan pertamanya bisa dibaca disini.

Sore yang lalu saya berangkat dari Galunggung menuju ke daerah Sukaratu membawa motor ke bengkel untuk mengganti oli. Sejak saya mengenyam bangku perguruan tinggi, tepatnya perguruan tinggi yang berada di daerah Singaparna, sudah lama ini tidak pernah lagi melewati jalan Sukaratu seperti saat masih SMA dulu, dimana jalan Sukaratu merupakan jalur utama saya saat berangkat menuju SMA.

Seingatku, kelas 10 SMA tepatnya tahun 2014 yang lalu, jalan kecamatan Sukaratu memang sudah rusak. Padahal jalur ini merupakan jalur wisata menuju gunung galunggung dan jalur utama yang menghubungkan Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya. Suatu ketika saya pernah berbincang dengan salah seorang warga setempat, yang letak rumahnya tepat di seberang jalan, ia merupakan penduduk asli yang telah lama menetap di Sukaratu dan menjadi saksi sejarah perjalanan nasib dari Jalan kecamatan Sukaratu.

Inti dari pembicaraan tersebut, warga sangat terganggu dengan kondisi jalan yang kian hari kian rusak. Para pengendara harus waspada ketika melewati jalan Sukaratu saat hujan tiba karena jalan akan tegenang banjir dan lubang-lubang pada badan jalan menjadi berlumpur karena material tanah keluar akibat rembesan air hujan. 

Ketika malam hari, suasana jalan gelap karena tidak ada penerangan di sepanjang jalan sehingga pengendara tidak bisa menancap gas terlalu dalam karena dikhawatirkan roda kendaraannya melintasi jalan yang berlubang. Belum lagi saat musim kemarau, saat kendaraan truk pengangkut batu dan pasir melintasi jalan, material jalan bertaburan di sepanjang jalan dan bertebangan ke rumah-rumah warga di pinggir jalan akibat hempasan angin.

Namun saat saya kembali melewati jalan Sukaratu sore ini, saya sempat tersenyum jalan sukaratu telah di aspal kembali. Tapi rasa bahagia tak berlangsung lama, ternyata jalan sukaratu yang di aspal kembali hanya sepanjang dari Terminal Indihiang hingga ke jembatan ciloseh. Selanjutnya sepanjang badan jalan sampai ke arah galunggung masih berwajah sama, bahkan lebih parah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak seluruhnya jalan Sukaratu di aspal? Kenapa setengah-setengah? Apakah anggarannya tidak mencukupi untuk menutup seluruh jalan sukaratu yang rusak? Ataukah ada hal lain yang menjadi kendala pemerintah untuk memperbaiki sarana dan prasarana masyarakat yang rusak? 

Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud menghasut atau menyinggung siapapun itu. Namun saya disini selaku masyarakat Kecamatan Sukaratu, lewat tulisan ini merupakan curahan hati maupun aspirasi masyarakat sekitar agar benar-benar diperhatikan fasilitas sarana dan prasarana oleh pemerintah setempat.

Permasalahan yang menimpa masyarakat Sukaratu mengenai kondisi jalan, saya mengira ini permasalahan serius yang perlu ditangani. Bila terus dibiarkan, dampak yang ditimbulkan berupa terganggunya ekosistem alami lingkungan yang berujung pada masalah kesehatan akibat material pasir yang bertebangan ke rumah-rumah warga di sepanjang jalan sehingga sanitasi rumah penduduk menjadi tidak sehat.

Setiap hari kebutuhan penduduk bertambah dari waktu ke waktu, entah itu sandang, pangan, dan papan. Pertambangan pasir dan batu kian hari kian bertambah dan berkembang seiring pertumbuhan penduduk beserta kebutuhannya dewasa ini. 

Kecamatan Sukaratu merupakan kecamatan yang memiliki sumber daya alam berupa tambang pasir dan batu termasuk Gunung Galunggung sendiri. Tak heran bila setiap hari berjumpa berpuluh-puluh truk yang mengangkut material tambang yang melintasi jalan sukaratu. Pertambangan yang kian giat mengeksploitasi sumber daya alam seharusnya seimbang dengan perawatan lingkungan yang berkesinambungan agar terhindar dari masalah lingkungan berupa terancamnya ekosistem alami lingkungan. 

Mengenai banyaknya pertambangan yang terdapat di Kecamatan Sukaratu mesti juga membayar pajak ke pemerintah yang dimana uang tersebut akan di kelola dan dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat luas, salah satunya merawat badan jalan. Jika diperhatikan, seharusnya dengan anggaran pemerintah dan pajak dari perusahaan tambang bisa menutup seluruh biaya perbaikan jalan. Namun saya tidak tahu menahu mengenai berapa jumlah anggaran maupun pajak yang semestinya digunakan untuk membiayai operasional sarana dan prasarana warga setempat. 

Menyoal kondisi jalan Kecamatan Sukaratu, ini merupakan pr bersama,baik pemerintah, pihak pertambangan, dan warga setempat untuk ikut andil dalam menjaga dan merawat kondisi jalan tersebut agar tetap terawat serta menjaga si Jalan yang berperan besar dalam pembangunan daerah maupun beraktivitas sehari-sehari.

Upaya meminimalisir dampak lingkungan dapat dilakukan dengan meneliti dan mengukur resiko dan dampak lingkungan (Amdal) oleh ahli Kesehatan Masyarakat (Kesmas) atau Ahli Kesehatan Lingkungan (Kesling) yang memiliki kemampuan dalam menganalisis masalah lingkungan.

Jika tidak ingin memperpanjang penderitaan si Jalan, sudah semestinya seluruh masyarakat, pihak pertambangan, dan masyarakat Sukaratu bersama-sama membangun dan berkomitmen dalam menjaga jalan mereka. Mulailah berbenah dari sekarang dengan gotong royong. Toh manfaatnya juga nanti dirasakan sendiri, masyarakat dan orang yang melintasi jalan utama ini. Jika ditemukan kondisi jalan yang sama bahkan lebih parah dari ini, silahkan dilanjutkan diskusinya di kolom komentar untuk menyempurnakan narasi dari seorang rakyat yang sederhana dan ala-kadarnya.