Mohon tunggu...
Ahmad Sahidin
Ahmad Sahidin Mohon Tunggu... Alumni UIN Bandung

Sehari-hari di rumah. Menghabiskan waktu dengan membaca buku kemudian berbagi ulasannya. Sesekali mengajar di sekolah dan madrasah. Mohon senantiasa mendoakan saya dan keluarga agar sehat lahir batin, dimudahkan dalam urusan rezeki, dan berkah dalam hidup.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Ulasan Buku "Cita Humanisme Islam: Cabang Pengetahuan Ilmu Adab"

1 Januari 2020   06:23 Diperbarui: 1 Januari 2020   06:27 12 0 0 Mohon Tunggu...

Saya melanjutkan lagi menulis ulasan buku "Cita Humanisme Islam". Kini bagian empat, yaitu tentang cabang pengetahuan dalam ilmu adab atau kajian humaniora. George Abraham Makdisi menyajikan ada tujuh cabang pengetahuan ilmu adab: tata bahasa (nahwu), puisi, balaghah (estetika bahasa), retorika (pidato), seni menulis surat (epistolografi), sejarah, dan filsafat moral (ilmu akhlaq).Untuk yang kesatu (tata bahasa) dianggap penting karena terkait dengan kecakapan dalam bicara dan menyusun kata-kata dalam berbicara. Ini terkait juga estetika bahasa dan retorika. Kalangan raja atau penguasa mempekerjakan orang yang ahli dalam ketiga pengetahuan tersebut sebagai duta atau juru bicara atau diplomasi antar penguasa, termasuk menyampaikan pesan penguasa untuk masyarakat. 

Sedangkan seni menulis surat merupakan keahlian yang mesti dimiliki oleh seorang menjabat sekretaris. Dalam aspek menulis surat ini ada tingkatan mulai dari surat dari orang yang berkedudukan rendah kepada yang tinggi kedudukannya, yang setara kedudukannya, dan untuk orang yang terhormat.

Setiap penguasa memilih orang yang ahli dalam epistolografi dan dapat gaji dari pekerjaannya. Makdisi menyebutkan banyak di antara para penulis surat ini menghimpun surat-suratnya sebagai karya sastra dan pedoman bagi yang ingin berkarier sebagai sekretaris para pejabat atau pekerja di  istana.

Kemudian tentang pengetahuan sejarah sebagai cabang ilmu adab karena menyajikan informasi sekaligus para penulisnya menghimpun kisah dan peristiwa dari penguasa untuk dicatat sebagai sejarah. Pengetahuan sejarah ini meliputi akhbar (berita-berita), tarikh (penanggalan), ayyamul 'arab (peristiwa dan tradisi lisan), hauliyyat (catatan tahunan), maghazi (perang dan penaklukkan), thabaqat (biografi orang-orang penting), dan novel sejarah.

Yang terakhir ini lebih bernuasa sastra (prosa) dan terkait dengan dongeng (anekdot) untuk menumbuhkan semangat dan hiburan. Pengetahuan sejarah memang bagian dari kajian humaniora karena yang dibahas adalah manusia dalam ruang dan waktu. Dalam studi sejarah dan peradaban Islam pun banyak menguraikan perjalanan umat Islam dengan aneka kemelut dan dinamika yang menyertainya.

Sejarah tentang orang-orang yang menekuni ilmu adab, jatuh bangunnya kekuasaan dan pergantian penguasa demi penguasa, sampai kejayaan dalam ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman masuk dalam pengetahuan sejarah. Sayangnya oleh Makdisi tentang pengetahuan sejarah tidak banyak diuraikan. Padahal, dalam kajian historiografi banyak ditemukan muarikh (sejarawan) yang berkontribusi dalam kejayaan peradaban Islam. Sangat beda dengan uraian untuk tata bahasa, puisi, dan epistolografi oleh Makdisi dikupas dengan lebih luas dan disertakan tokoh-tokohnya.

Sementara filsafat moral dalam uraian awal disebut sebagai etika dalam Islam, termasuk tasawuf. Namun, dalam uraian lebih jauh aspek etika tidak detail dibahas. Malah yang diuraikan pidato, ceramah, dan nasihat yang berkembang atau yang ditujukan untuk umat dan penguasa. Bahkan tentang tokoh mazhab yang memerankan penasihat, penceramah dan berpidato disebutkan sampai akhir lembaran pada bagian empat.

Itu yang saya dapat sajikan dalam ulasan buku "Cita Humanisme Islam", khususnya bagian empat. Ada bagian lima, enam dan tujuh yang belum diulas. Moga saja ada usia untuk menamatkan bacanya. *** (ahmad sahidin)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x