Mohon tunggu...
Ahmad Sahidin
Ahmad Sahidin Mohon Tunggu... Pembaca

Beraktivitas sebagai pembaca buku sekaligus menyajikan hasil baca dalam bentuk ulasan, pengajar studi Islam, dan pegiat keagamaan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Diusir dari Surga

31 Januari 2019   13:18 Diperbarui: 31 Januari 2019   14:23 0 0 0 Mohon Tunggu...

Alhamdulillah saya beres baca buku karya Kuswaidi Syafii. Bukunya berjudul "Diusir dari Surga: hikmah penciptaan dan perjalanan ruhani Nabi Adam as". Tebal 168 halaman. Isi buku terbagi dalam uraian pendek sekira dua sampai empat halaman. Kalimat dan pilihan diksi enak dibaca dan mudah dipahami.

Sumber yang dipakai oleh Kuswaidi Syafi'i dalam buku ini adalah karya Jalaluddin Rumi berjudul Fii Maa Fiihi, Muhyiddin bin Arabi berjudul Fushush al-Hikam, Ibnu Athaillah berjudul Al-Hikam, Khatib al-Baghdadi Abubakar Ahmad bin Ali berjudul Tarikh Al-Anbiya, dan ayat-ayat Alquran disertai hadis. Satu lagi karya Abdul Qadir Jailani berjudul Al-Fath Al-Rabbani.

Nabi Adam as lahir sebagai manusia pertama dan nabi pertama. Berasal dari tanah dari bumi yang diambil oleh Azrail, mailakat yang kemudian bertugas pencabut nyawa. Usianya 1000 tahun hidup di bumi. Sebelum wafat, Nabi Adam as diperlihatkan seluruh anak keturunannya.

Di antara anak keturunan Adam as ada yang bercahaya gemerlap, terang biasa, dan ada gelap hitam. Yang gemerlap adalah para Nabi dan Rasul, terang biasa adalah para wali dan manusia yang mengkhususkan diri dalam kesalehan. Sedangkan gelap hitam adalah manusia yang bergelimang dalam kejahatan dan maksiat.

Yang menarik dari paparan Kuswaidi Syafii bahwa yang pertama kali diciptakan dan menjadi sumber dari penciptaan semesta adalah nur muhammadiyah, yang tiada lain dari Nabi Muhammad saw. Meski Nabi terakhir, tetapi ia paling awal dicipta dan menjadi sumber dari kehadiran seluruh makhluk dan semesta.

Kuswaidi Syafii juga menerangkan tentang kedudukan Nabi Adam as sebagai perwujudan asma dan sifat dari Allah. Secara umum dalam bukunya, Kuswaidi Syafii banyak menggunakan idiom sufistik seperti jamaliyah, haqiqat, jalaliyah, cintu, rindu, kekasih, taqarub, dan lainnya. 

Bisa dimaklumi karena Kuswaidi adalah kiai pesantren Maulana Rumi di Bantul Jawa Tengah, yang banyak bersentuhan dengan kajian tasawuf dan menguraikan pemikiran dari Abdul Qadir Jailani, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Ibnu Athaillah, dan lainnya.

Mohon maaf hanya itu yang bisa saya bagi. Harap maklum saya sekadar baca saja sehingga tidak berani untuk komentar isi bukunya. Satu lagi catatan pada bagian akhir ada tentang takbir untuk shalat mayat. Hanya saja hadisnya perlu dikaji kembali dan tidak memuat rujukannya. *** (Ahmad Sahidin)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x