Ahmad Risani
Ahmad Risani pelajar/mahasiswa

Presiden Ekstraparlemen Institute Menulis Esai Sosial-Politik

Selanjutnya

Tutup

Film

Membela Iqbaal "Dilan" Ramadan menjadi Minke di Film Bumi Manusia

8 Juni 2018   06:19 Diperbarui: 8 Juni 2018   08:24 209 0 0
Membela Iqbaal "Dilan" Ramadan menjadi Minke di Film Bumi Manusia
Dok. Pribadi

 

Harus diakui memang, merelakan Dilan menjadi Minke itu bukanlah perkara muda. Apalagi bagi saya (eh kita dink) yang, uhuk, menyelesaikan tetralogi Bumi Manusia dengan predikat mumtaz ini. Itu seperti menerima surat undangan pernikahan dari gebetan yang baru seminggu yang lalu chattingan mesra sama kita. Perih.

Tapi apalah mau dikata, Bumi Manusia bukanlah milik kita. Siapapun, bahkan ABG labil yang baru bisa mengeja huruf C.I.N.T.A dan doyan main Tiktok-pun boleh saja mendaku memilikinya. Menafsirkannya. Yah, meskipun penafsir juga mesti ada syaratnya. Tapi kan kita biasa abai soal itu. Kitab suci saja situ sering tafsir bebas. Tak ada yang protes. Lha kenapa pas giliran roman situ mesti ngegas?

Sebagai pembaca Pram yang baik, sebetulnya kita patut berterima kasih atas dipilihnya Iqbaal menjadi Minke. Sesekali memang perlu begitu. Jangan sampai diskusi soal roman ideologis ini berkutat dilingkungan kita saja. Yah, para aktivis idelogis progresif revolusioner ini. Whahawheehe.

Saya bahagia, saat adik perempuan saya, Jamilah yang unyu dan baru masuk kuliah semester 2 berjibaku berkerut dahi saat mencerna Bumi Manusia. Dia bilang: Aku penasaran sama Minke, seganteng apa sih dia? Sampai banyak cowok keren kayak kakak protes sama kakak Iqbaal.

Saya senang mendengarnya. Bisa saja ini jadi awal naiknya kelas literasi masyarakat kita. Masa novel menye-menye mulu yang difilmkan? Drama percintaan ABG labil mulu. Bila perlu semua roman dan novel ideologis difilmkan saja. Kan seru?

Bisa jadi, setelah film ini rilis, dedek-dedek unyu yang biasa kita remehin itu punya tema obrolan baru, misalnya: "Eh lu udah sampai halaman berapa baca Anak Semua Bangsa?"

Konon, tujuan dipilihnya Dilan menjadi Minke untuk memilenialkan Minke. Biar semua generasi bisa nikmati karya-karya Prameodya. Hmm.. boljug, meskipun terkesan agak dipaksakan.

Gen X dan Y, tak boleh donk nyinyir mulu sama gen Z. Mentang-mentang duluan lahir, terus merasa memiliki beban sejarah gitu? Biarkan Dilan menjadi Minke!

Tapi, kita juga patut waspada. Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini dikhawatirkan menjadi roman picisan yang berselera teenlit. Ketika romantisme Minke kepada Annelis yang menjelma Dilan kepada Milea. Kan ngeri. Ntar, nilai perlawannanya hilang. Gimana donk? Minke itu ideologis!.

Tapinya lagi, kita belum tau pasti gimana film ini akan dikemas. Sejauh ini sebatas ketakutan demi ketakutan kita saja. Ketakutan yang fiksi. Imajinasi yang ada dalam pikiran kita, bahwa film ini akan menjadikan roman Bumi Manusia sebagai roman rendahan nir-ideologis. Yang tak jauh beda dengan sinetron-sinetron yang judulnya kadang aneh-aneh itu: anakku ternyata bukan anak suamiku yang ternyata ayahnya masih bersaudara dengan ayah dari anakku.

Yah, semoga saja film ini tidak menurunkan kualitas literasi kita. Seperti yang ditakutkan oleh para pecinta Pram. Ingat yah, "literasi" itu bukan saja soal dunia perbukuan, tapi juga hal-hal yang berhubungan dengan "diskursus-diskursus alias tema obrolan" yang beredar di masyarakat. 

Saya sih, oke-oke aja. Asalkan yang di eksplorasi nilai-nilai ideologisnya. Tapi entahlah, selera pasarlah yang menentukan segalanya. Disitu kadang saya merasa bimbang.[]