Mohon tunggu...
Ahmad Ricky Perdana
Ahmad Ricky Perdana Mohon Tunggu... gemar travelling, fotografi dan menulis

seringkali mengabadikan segala hal dalam bentuk foto dan tulisan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menjadi Pribadi yang Ramah terhadap Perbedaan

12 Februari 2021   13:35 Diperbarui: 12 Februari 2021   13:55 234 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjadi Pribadi yang Ramah terhadap Perbedaan
Bhinneka Tunggal Ika - jalandamai.org

Sejatinya, Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Mungkin sangat sedikit sekali negara dengan keragaman budaya seperti Indonesia. Dalam konteks ini, tentu kita wajib bangga dan harus bisa senantiasa menjaga keberagaman suku, budaya, bahasa dan agama yang ada agar tetap saling berdampingan dalam keberagaman.

Berdampingan dalam keberagaman pada dasarnya bukanlah hal baru bagi kita masyarakat Indonesia. Karena memang sejatinya kita semua sudah berbeda sejak lahir. Dan Tuhan pun menciptakan manusia dan seisi bumi dengan berbagai keragaman. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka dianjurkan untuk saling mengenal, saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tujuannya apa? Akar kita bisa ramah terhadap setiap perbedaan. Karena perbedaan pada dasarnya bukanlah sebuah persoalan yang harus dipertentangkan. Perbedaan pada dasarnya keniscayaan, yang harus direspon dengan suka cita.

Untuk bisa memahami perbedaan, tentu diperlukan sebuah pemahaman yang utuh. Tidak hanya pemahaman tentang keyakinan, adat atau budaya, tapi juga pemahaman tentang kebangsaan. Itulah kenapa para pendahulu negeri ini pun mengadopsi semboyan bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Semangat inilah yang harus terus dijaga agar persatuan dan kesatuan negeri ini tetap terjaga. Dan untuk belajar mengerti dan memahami perbedaan ini, tentu harus dilatih sejak dini.

Salah satu tempat yang bisa dijadikan pembelajaran adalah sekolah. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya keberagaman. Dalam hal berpakaian, pola pikir, dan segala macamnya ada di tempat ini. Karena itulah saling mengerti dan memahami diperlukan di sekolah. Meski dalam prakteknya, di beberapa tempat hal ini sulit dilakukan. Praktek intoleransi masih ditemukan di dalam sekolah. Ada seorang yang tidak mengenakan seragam keagamaan tertentu, akan mendapatkan bullyan. Hal semacam ini semestinya tidak bisa terjadi.

Akibat maraknya bibit intoleransi ini, sekolah menjadi salah satu tempat yang disalahgunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda radikalisme. Sekolah yang harus nya bisa menjadi tempat yang menyenangkan, berubah menjadi tempat yang mengkhawatirkan sekaligus menakutkan. Dalam berbagai survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga, sebagian besar siswa pernah melakukan tindakan intoleran antar sesama siswa. Bahkan oknum guru juga pernah ada yang melakukan tindakan intoleran kepada siswanya, baik itu secara lisan ataupun perbuatan.

Hal semacam ini semestinya tidak boleh terjadi di lembaga pendidikan. Sekolah harus bisa menerima siapa saja dengan latar belakang yang berbeda. Sekolah merupakan tempat untuk mencetak generasi yang toleran, yang bisa menghargai setiap perbedaan. Pendidikan budi pekerti perlu terus dikuatkan, agar generasi penerus ini mempunyai fondasi yang kuat, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan di media sosial.

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) 3 menteri yang mengatur tentang kebebasan siswa, guru, atau individu di sekolah untuk bebas menentukan seragam keagamaannya. Aturan ini langsung menuai polemik public, karena dianggap sekuler dan segala macamnya. Padahal, tujuan dibuat aturan itu sangat sederhana. Agar kita belajar untuk saling menghargai dan menghormati. Jika di sekolah umum ada yang mengenakan jilbab atau tidak, kita tetap bisa saling menghormati. Jika ada yang mengenakan pakaian kristiani atau yang lain, tidak perlu dipersoalkan. Karena dengan menerima perbedaan, maka kita sudah menanamkan nilai-nilai toleransi dalam diri kita. Salam toleransi.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x